Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

BPPT TARGETKAN 50 PERSEN PENELITIAN RAMPUNG TAHUN 2013

KBRN, Jakarta : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengakui banyak kegiatan penelitian yang masih dalam proses.

KBRN, Jakarta : Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengakui banyak kegiatan penelitian yang masih dalam proses. Ditargetkan di tahun 2013, 50 persen kegiatan penelitian yang masih berjalan rampung dan teknologi yang dihasilkan bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Kepala BPPT Marzan Aziz Iskandar mengakui, kegiatan BPPT memang tidak identik dengan umur kabinet. Oleh karena itu, di tahun 2013, BPPT akan meneruskan berbagai program penelitian yang di tahun 2012 baru rampung sekitar 10 persen. Sebab, ketika penelitian selesai pun, BPPT perlu mengevaluasi, difusi, diseminasi dan kemungkinan pemanfaatannya.

"Salah satu contohnya itu Perisalah, yang sudah dilisensi dan diproduksi oleh PT INTI harus kita lakukan penyempurnaan untuk aplikasi baru. Karena ada aplikasi cloud yang bisa dimanfaatkan untuk handphone atau running text dan peningkatan kemampuan dialek bahasa dengan sedikit editing," terangnya pada acara "Catatan Akhir Tahun BPPT" di Jakarta, Jumat (21/12/2012).

Di bidang teknologi mitigasi bencana, BPPT membuat banyak teknologi peringatan dini tsunami, longsor dan genangan air. Terkait peringatan dini tsunami, BPPT sedang mengembangkan alat deteksinya berupa buoy dengan dilengkapi kabel menggantikan buoy terapung.

Deputi Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam BPPT Ridwan Djamaludin mengungkapkan, pengembangan buoy berbasis kabel merupakan penyempurnaan buoy terapung Amerika Serikat, namun kali ini Indonesia membuatnya sendiri. Biaya pembuatan dua jenis buoy tersebut pun tak jauh berbeda, yakni sekitar Rp 5 milyar per unitnya.

Sementara itu, pemeliharaan buoy kabel lebih murah dibanding buoy terapung. Selain itu, sumber energi buoy kabel bisa diambil dari darat seperti genset, listrik atau matahari. Sedangkan buoy terapung menggunakan baterai dengan kekuatan selama dua tahun.

"Kita akan menyeleksi tempat yang akan dipasang buoy ini, yakni ke daerah yang lebih intensif bencananya," jelasnya.

Di samping itu, lanjut Ridwan, BPPT juga sedang mengembangkan kajian bencana akibat kegagalan teknologi seperti di kawasan industri. Misalnya saja, di perusahaan Krakatau Stell, jika ada gempa besar dan mengancam terjadinya ledakan pada industri petrokimia. Oleh karena itu, sedang dipersiapkan bangunan dengan desain kegempaan.

Untuk bencana hidrometeorologi yang diperkirakan masih mendominasi di tahun 2013, BPPT sudah membentuk tim yang akan melakukan kajian teknologi untuk mencari parameter dan sensor angin kuat atau angin puting beliung.

Peringatan dini puting beliung hingga kini memang belum ada. Untuk membangun sistem peringat dini puting beliung diperlukan riset dasar untuk mengidentifikasi daerah dan karakteristiknya. (Heri.F/SP)

Sumber : http://rri.co.id/mobile/index.php/detailberita/detail/38791

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id