Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

CATATAN AKHIR TAHUN - INKA YANG TERUS BERKARYA CIPTAKAN "ULAR BESI" OLEH LOUIS RIKA STEVANI

Madiun - Menteri BUMN Dahlan Iskan menilai, dibandingkan dengan perusahaan milik negara yang lainnya di bidang "engineering" atau teknik, PT Industri Kereta Api (INKA) dipandang telah keluar dari masa krisisnya. 

Setelah bertahun-tahun dalam kondisi mati suri akibat krisis ekonomi dan politik tahun 1998, PT INKA mulai menunjukkan geliatnya untuk terus berkarya menciptakan rangkaian "ular besi" atau kereta guna mendukung sistem transportasi massa di Tanah Air. 

Suhu politik dan ekonomi yang membaik beberapa tahun terakhir, telah membuat PT INKA menunjukkan tanda kehidupannya. Bahkan Menteri BUMN Dahlan Iskan menunjukkan apresiasinya atas kerja keras manajemen PT INKA untuk bangkit dan memperbaiki kinerjanya.  

"Boleh dikata, baru tiga tahun terakhir PT INKA keluar dari rumah sakit. Jalannya memang sudah tidak sempoyongan, tapi belum bisa kalau disuruh lari. Manajemen PT INKA masih harus berkonsentrasi di industri kereta api. Di situlah 'core business'-nya. Di situlah 'makom'-nya," ujar Menteri BUMN Dahlan Iskan dalam artikelnya yang berjudul Jangan Paksa Tiba-Tiba Makrifat.

PT INKA merupakan sebuah Badan Usaha Milik Negara yang dibentuk sejak tahun 1981. Perusahaan tersebut merupakan pengembangan dari Balai Yasa Lokomotif Uap yang dimiliki oleh PJKA (sekarang PT Kereta Api) pada saat itu. Balai yasa ini berlokasi di Kota Madiun, Jawa Timur. 

Semenjak lokomotif uap sudah tidak dioperasikan lagi, maka balai yasa ini dialihfungsikan menjadi pabrik kereta api. Penentuan lokasi dan pendirian pabrik kereta ini berdasarkan hasil studi dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). 

Produksi pertama PT INKA berupa lokomotif bertenaga uap. Kini, INKA telah menjadi industri manufaktur perkeretaapian yang modern. Aktivitas bisnis INKA kini berkembang mulai dari penghasil produk dasar hingga produk jasa perkeretaapian dan transportasi yang bernilai tinggi.

Dalam persaingan global, PT INKA terus melakukan terobosan. PT INKA melakukan "joint venture" dengan sejumlah perusahaan andal lainnya baik nasional maupun internasional, di antaranya General Electric (GE) dari Amerika dalam memproduksi lokomotif.  

"Saya menilai PT INKA saat ini telah berada pada masa 'take off'. Perusahaan ini telah mampu melewati masa krisisnya yang berupa fase kristalisasi dan konsolidasi. Sehingga saya melihat dia belum akan digabung dengan BUMN manapun dan tetap fokus sebagai industri kereta api," tegas Dahlan Iskan saat berkunjung ke INKA di Madiun. 

Selain itu, untuk menyehatkan modalnya, PT INKA juga bekerja sama dengan Pusat Investasi Pemerintah (PIP). PIP telah menyalurkan dana sebesar Rp118,5 miliar untuk PT INKA sebagai pinjaman modal kerja berjangka.

Dana tersebut akan digunakan oleh PT INKA sebagai pinjaman modal kerja untuk pengadaan 1.200 unit gerbong PPCW, yakni gerbong untuk mengangkut batu bara tanpa atap dan dinding samping atau gerbong peti kemas. Pinjaman modal kerja ini berjangka waktu 20 bulan. Terhitung sejak tanggal 19 Desember 2011 sampai dengan 30 Juli 2013 dengan tingkat bunga sebesar 9,75 persen.

Penyaluran pinjaman modal kerja ini berawal saat PT INKA memenangkan proyek pengadaan unit gerbong PPCW dari PT Kereta Api (PT KA) secara "multiyears" (tahun jamak) dari tahun 2011 hingga 2013. Guna memenuhi proyek tersebut, PT INKA membutuhkan pinjaman modal kerja untuk menutup "financing gap" dalam rangka penyelesaian proyek 1.200 unit gerbong PPCW tersebut.

"Peran serta PIP dalam pembiayaan ini merupakan salah satu kerja sama strategis guna meningkatkan posisi tawar INKA dalam menghadapi pesaing asing asal China yang ikut dalam tender gerbong PPCW tersebut," tutur Kepala PIP, Soritaon Siregar. 

Dana tersebut, lanjutnya, akan digunakan oleh PT INKA untuk pembelian komponen yang diproduksi di dalam negeri maupun luar negeri. Adapun untuk pencairannya, tergantung dari permintaan PT INKA. Berdasarkan sejumlah kajian dan survei yang dilakukan oleh PIP, hasilnya PT INKA layak untuk dibiayai agar berkembang Nilai Kontrak Naik. 

Seiring dengan membaiknya kinerja, PT INKA telah berhasil meningkatkan pendapatan yang menghasilkan keuntungan dan pertumbuhan aset selama lima tahun terakhir. Di mana, rata-rata mengalami pertumbuhan aset sebesar 15,63 persen per tahun. Pada tahun 2006 perusahaan mempunyai aset sebesar Rp266,38 miliar berkembang menjadi Rp698,51 miliar pada tahun 2010.

Total pendapatan di tahun 2009 mencapai Rp577,14 miliar dan kemudian meningkat di tahun 2010 menjadi Rp630,84 miliar. Laba bersih tahun 2010 mencapai Rp29,29 miliar naik sebesar 9,73 persen dibanding tahun 2009 yang mencapai Rp26,69 miliar.

Selain itu, manajemen PT INKA menyatakan jumlah pesanan atau nilai kontrak kerja pada tahun 2012 yang digarap mencapai Rp1 triliun lebih. Nilai kontrak tersebut meningkat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang hanya berkisar pada Rp800 hingga Rp900 miliar.         

"Pesanan atau kontrak tersebut berasal dari berbagai pihak, baik instansi negeri maupun swasta. Pemesanan terbesar diperoleh dari Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, yakni mencapai 75-80 persen dari seluruh order yang ada. Sedangkan sisanya, meliputi pasar ekspor dan swasta," ujar Humas PT INKA, Bintang. 

Secara keseluruhan, kontrak kerja yang digarap PT INKA tahun ini antara lain, kereta ekonomi AC pesanan Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan sebanyak 50 unit dengan nilai kontrak mencapai Rp175 miliar, satu unit kereta rel diesel Indonesia (KRDI), 24 unit kereta rel diesel elektrik (KRDE), kereta rel listrik (KRL) yang mencapai 10 unit, dan lokomotif sebanyak tiga unit.

Sedangkan untuk pasar ekspor, INKA menggarap kereta pesanan Malaysia sebanyak 16 unit dengan nilai kontrak mencapai hampir 5 juta dolar Amerika Serikat serta kereta pesanan Singapura sebanyak 20 unit gerbong barang yang berjenis "wheel wagon" dan "flat wagon“. 

Selain pesanan kereta api, tahun ini PT INKA juga menggarap pesanan non-kereta api berupa "busway" sebanyak 21 unit. Busway ini merupakan pesanan dari  Jakarta.

Direktur Administrasi dan Keuangan PT INKA Bambang Soendjawono mengungkapkan bahwa PT INKA secara umum telah mampu memproduksi semua jenis kereta yang beroperasi di Indonesia. 

"INKA juga siap mendukung program pemerintah dalam pembangunan angkutan massal, baik itu peremajaan kereta ekonomi, peningkatan armada busway', maupun program MRT atau Monorel," tukas Bambang. 

Menjawab tantangan di tahun 2013, PT INKA mengaku optimistis nilai kontrak yang diperoleh akan lebih besar lagi. Hal ini tentu saja sejalan dengan dukungan yang diberikan oleh pemerintah.  

Menurut Bambang, dukungan yang diberikan pemerintah terlebih Kementerian Perhubungan akan semakin menegaskan komitmen Kementerian Perhubungan untuk mengembangkan dunia perkeretaapian dalam negeri.

"Dalam hal ini dukungan dari pemerintah merupakan faktor yang sangat vital di dalam mendorong kemajuan industri dalam negeri, terutama dalam era persaingan global seperti sekarang ini," ucap Bambang.  

Selain itu, pemasaran produk INKA ke depan akan terus ditingkatkan dengan menawarkan produk-produk hasil pengembangan teknologi untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, di mana untuk ke depan peluang angkutan KA jarak pendek cukup besar.  

Adapun kereta jarak pendek yang dihasilkan INKA untuk memenuhi keinginan pelanggan, antara lain produk KRDE, Railbus, KRD-I dan produk-produk lainnya.

Berdiri sejak 1981, PT INKA merupakan satu-satunya industri kereta api terpadu di kawasan ASEAN. Dengan jumlah karyawan sebanyak 859 orang, PT INKA mampu memproduksi kereta yang dari segi kualitas dan kuantitas mampu bersaing dengan buatan luar negeri.(*)

Sumber : http://www.antarajatim.com/lihat/berita/101441/catatan-akhir-tahun-inka-yang-terus-berkarya-ciptakan-ular-besi-oleh-louis-rika-stevani

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id