Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

BPPT Kembangkan Teknologi Daur Ulang Limbah Domestik

Kepala Balai Teknologi Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT),Dr Arie Herlambang, M.Si menyebutkan, sebanyak 222 Daerah Aliran Sungai (DAS) di Indonesia telah rusak. 

"Pada tahun 1980-an, DAS yang rusak hanya sekitar 20, tapi sekarang, meningkat menjadi 222," ujar Arie pada Seminar "Pengelolaan Sumber Daya Air untuk Kelestarian Bumi Indonesia" di Gedung Geostech, kawasan Puspiptek Serpong, Tangerang Selatan, Rabu (22/4/2015). 

Menurut dia, sebagian besar DAS yang rusak berada di Pulau Jawa. Penyebab utamanya adalah masalah ekonomi sosial. 

"Kepemilikan lahan menjadi penyebab utama banyaknya DAS yang rusak," ujarnya menambahkan.

Jika DAS rusak, sambung dia, maka akan sulit untuk memperbaikinya lagi. Padahal, kebutuhan akan air semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Ari Herlambang menjelaskan, ada dua permasalahan air di Indonesia yakni kurangnya kuantitas air dan kualitas air. 

"Oleh karenanya, kami mengadakan seminar ini, yang bertujuan untuk saling bertukar pikiran dan mencari jalan keluar dari permasalahan air tersebut," imbuhnya. 

Dewasa ini, BPPT memiliki sejumlah teknologi untuk mengatasi permasalahan air tersebut, antara lain teknologi geospasial untuk mengetahui di mana lokasi air, kemudian geolistrik untuk mengetahui sumber air, serta teknologi daur ulang.

Teknologi daur ulang sendiri telah digunakan di beberapa tempat yang mengalami kekurangan air, namun yang sangat disesalkan  bahwa teknologi tersebut justru belum diterapkan di daerah yang kaya akan air. 

"Masalahnya adalah permasalahan psikologis, selain jumlah air masih banyak juga harga air masih murah," tukasnya.

Sementara itu, Peneliti Utama Pusat Teknologi Lingkungan BPPT, Ir Nusa Idaman Said, M.Eng, menyoroti masih banyaknya klinik-klinik kesehatan, termasuk puskesmas, di Indonesia yang belum memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang memadai. 

Menurut dia, sebanyak 9.000-an klinik kesehatan di Tanah Air  membuang begitu saja limbah medisnya ke sungai, bahkan selokan air di permukiman masyarakat.

"Misalkan ada pasien yang terkena hepatitis, jika tidak punya IPAL ini sangat berbahaya, karena bisa saja limbah itu masuk mencemari sumur warga," terangnya.

Ia menyesalkan pemerintah yang baru mewajibkan keberadaan IPAL bagi rumah sakit-rumah sakit, sementara klinik-klinik kesehatan tidak diharuskan memiliki instalasi vital tersebut. 

Untuk itu lah, Pusat Teknologi Longkungan BPPT menciptakan instalasi IPAL domestik yang diperuntukkan bagi klinik-klinik kesehatan dan puskesmas, dengan biaya terjangkau. 

"Biaya pembuatan IPAL tersebut tidak mahal kalau dilihat manfaatnya. Hanya sekitar Rp 40 juta hingga Rp 50 juta per unit," terang dia. 

Lebih lanjut Ir Nusa Idaman menjelaskan, keunggulan dari instalasi IPAL domestik ini antara lain tahan terhadap fluktuasi jumlah air limbah maupun fluktuasi konsentrasi, mudah perawatannya serta murah biaya operasionalnya karena konsumsi listrik untuk blower-nya hanya 40 watt. Sementara air hasil pengolahan IPAL tersebut bisa dimanfaatkan  kembali.

Ke depan, BPPT akan mendorong agar setiap rumah maupun usaha memiliki instalasi pengolahan limbah agar tidak mencemari lingkungan di sekitarnya, terutama sungai.

Sumber : http://www.rri.co.id/post/berita/159422/teknologi/bppt_kembangkan_teknologi_daur_ulang_limbah_domestik.html

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id