Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

PRESS RELEASE EVALUASI BENCANA LONGSOR CIWIDEY DAN TEKNOLOGI MITIGASINYA (TIM MITIGASI BENCANA BPPT) (SENIN, 1 MARET 2010)

Bencana tanah longsor di Perkebunan Teh, Kampung Dewata, Desa Tenjolaya, Kecamatan Pasir Jambu, Kabupaten Bandung, Jawa Barat pada hari Selasa (23 Februari 2010) telah menimbulkan korban yang cukup besar. Tercatat 33 orang meninggal, 11 orang tertimbun, 2 orang terluka, 200 orang mengungsi, dan kerugian minimal Rp. 5Miliyar.

 

Secara umum daerah bencana dan sekitarnya berupa daerah perbukitan bergelombang yang agak terjal hingga terjal. Lokasi longsor di wilayah dengan morfologi lahan pegunungan dengan ketinggian 1500-1700 m dpl. Kelerengan lahan sedang-hingga sangat curam (25-40%, >40%). Kondisi bantuan penyusun berupa perselingan breksi dan tuf bersusunan andesit. Ketebalan tanah cukup tebal. Tanah sebagai hasil dari pelapukan batuan mengandung pasir yang cukup rapuh. Berdasarkan Peta Prakiraan Potensi terjadi Gerakan Tanah pada Bulan Februari 2010 di Jawa Barat (Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi), daerah bencana terletak pada zona potensi terjadi gerakan tanah menengah sampai tinggi, artinya daerah ini dapat terjadi gerakan tanah jika curam hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan, atau jika lereng mengalami gangguan, dan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.

 

Kondisi tutupan lahan pada daerah bencana berupa hutan primer, hutan sekunder, dan perkebunan teh. Permukiman yang dihuni oleh karyawan perkebunan teh berada pada lembah perbukitan yang sangat rawan longsor.

 

Longsor timbul sebagai akumulasi dari berbagai faktor seperti: curah hujan, kondisi batuan/geologi dan kemiringan lereng. Curah hujan yang terjadi dari tanggal 1 hingga 23 Februari 2010 sebesar 960 mm. Curah hujan ini 480% dari rata-rata normal bulan Februari sekitar 200 mm/bulan. Curah hujan yang besar ini telah menimbulkan beban bagi batuan yang kondisinya sudah rapuh karena mengalami pelapukan dan berada pada lereng yang curam. Timbulnya mata air pada mahkota longsor makin mempercepat proses kejenuhan dan menurunkan kestabilan tanah sehingga terjadi longsor. Mahkota longsor berasal dari lereng bukit dengan kemiringan curam. Kelerengan dititik longsor (70% hingga >100%). Meskipun kondisi hutan pada hulu berupa hutan dengan kondisi yang sangat baik dan di bagian longsor berupa hutan sekunder dan perkebunan teh, namun longsor tetap terjadi. Material longsoran berupa bahan rombakan di tebing mengalir melalui celah bukit, berbelok kea rah permukiman penduduk. Jenis longsoran : debris flow.

 

Dengan mempertimbangkan berbagai aspek penyebab longsor, maka perlu dilakukan upaya mitigasi bencana. Rekomendasi yang perlu dilakukan adalah :

  1. Permukiman perlu ditempatkan pada daerah yang lebih aman dengan sistem cluster di berbagai lokasi.
  2. Pemilihan lokasi mempertimbangkan analisis rekosi bencana dan tata ruang detil.
  3. Konservasi berbasis biogeo-engineering. Pada lembah-lembah perbukitan ditanami dengan perpohonan jenis kayu yang memiliki perakaran dalam yang berfungsi sebagai penahan longsor. Buffer zone antara kawasan perlindungan (kelerangan tinggi) dengan kawasan budidaya di bagian bawahnya dibuat dengan tanaman pohon yang kuat, ditanam rapat dan membentuk sabuk hijau yang tebal/berlapis. Jenis vegetasi yang perlu ditanam pada daerah-daerah lembah adalah jenis tanaman lokal yang sudah nyata terbukti tumbuh dengan baik di daerah tersebut. Beberapa jenis pohon yang dapat ditanam adalah: jenis pohon: Puspa (Schima walichii), Rasamala (Altingia excels), Huru (Litsia chinensis), Surian (Toona sureni merr), Bambu manggong (Gigantochloa manggong) dan Kayu baros (Manglietia glauca BI).

Lahan dengan kelerengan >40% di pertahankan sebagai kawasan perlindungan berupa ekosistem hutan alam dengan kerapatan pohon yang tinggi.

  1. Perlu dibangun sistem peringatan dini longsor berbasis kondisi geologi dengana spek dinamis curah hujan.
  2. Perlu dibuat peta kerentaanlongsor yang dinamis dengan skala detil.
  3. Perlu dievaluasi risiko bencana longsor keberadaan permukiman di selatan Jabar.

 

Mitigasi bencana tanah longsor perlu terus ditingkatkannya. Di Indonesia terdapat 154 kab/kota di Indonesia yang memiliki risiko tinggi terhadap longsor. Trend kenaikan longsor di masa mendatang akan semakin meningkat karena perubahan pola hujan, perubahan penggunaan lahan dan antropogenik. Kerugian yang ditimbulkannya pun juga makin meningkat. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir bencana longsor telah menyebabkan sekitar 1.000 orang meninggal.

 

Ke depan desentralisasi pengurangan risiko bencana perlu ditingkatkan. Sesuai arahan Presiden RI, setiap kejadian bencana merupakan tanggungjawab Bupati/Walikota. Gubernur merapat untuk memberikan dukungan. Pemerintah Pusat memberikan bantuan pada kondisi ekstrim. Penanggulangan bencana harus dilakukan sedini mungkin dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam semua kegiatan penanggulangan bencana di Indonesia.

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id