Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

BINCANG IPTEK BPPT 2011 PRESS RELEASE PEREKAYASAAN TEKNOLOGI UNTUK MENDUKUNG KETAHANAN PANGAN NASIONAL

Dalam Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025, disebutkan bahwa salah satu arah pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) adalah untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Sejalan dengan arah tersebut Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi melaksanakan program pengkajian dan penerapan teknologi di bidang pangan, yang pelaksanaannya diselaraskan dengan program ketahanan pangan nasional yang meliputi aspek ketersediaan, distribusi, dan diversifikasi.

Program yang dilaksanakan untuk mendukung aspek ketersediaan pangan difokuskan pada pengembangan ikan nila unggul sebagai sumber pangan protein hewani dari ikan, dan program yang mendukung aspek diversifikasi yaitu pengembangan produk mie dari sagu sebagai sumber pangan karbohidrat. Salah satu masalah pokok di bidang ketahanan pangan nasional adalah masih rendahnya tingkat konsumsi rata-rata protein hewani masyarakat Indonesia.

Rendahnya konsumsi protein hewani dapat berakibat pada rendahnya tingkat kecerdasan, hambatan pertumbuhan fisik, dan umur harapan hidup. Dibandingkan negara lain, tingkat konsumsi protein hewani di Indonesia hanya 4,7 gram/orang/hari. Angka ini sangat rendah dibandingkan dengan Malaysia, Thailand, dan Filipina, rata-rata 10 gram/orang/hari, Korea, Brasil, dan Cina 20 - 40 gram/kapita/hari, dan negara-negara maju, seperti, Amerika Serikat, Prancis, Jepang, Kanada, dan Inggris yang mencapai 50 - 80 gram/kapita/hari.

Terkait dengan kecukupan pangan protein hewani dalam mendukung Program Pangan Nasional, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) telah melakukan perekayasaan dan pengembangan teknologi produksi ikan nila unggul. Hal tersebut dilatarbelakangi karena Ikan nila (Oreochromis niloticus) yang merupakan salah satu jenis ikan budidaya yang paling popular dan banyak dikonsumsi oleh berbagai lapisan masyarakat di Indonesia tersebut memiliki sifat dapat diproduksi secara massal, mudah dipelihara, dan produk daging ikan Nila dalam bentuk fillet sangat diminati pasar dunia, sehingga memiliki pasar ekspor yang luas di pasar internasional.

Pada 2006 lalu, BPPT berhasil melepas varietas ikan nila GESIT (Genetically Supermale Indonesian Tilapia) yaitu ikan nila jantan super kromosom YY yang jika dikawinkan dengan ikan nila betina akan menghasilkan ikan nila monoseks jantan jenetis (Genetycally Male Tilapia/ GMT) yang memiliki keunggulan cepat tumbuh 1,3 – 1,5 kali dibandingkan dengan ikan nila betina. Ikan nila GESIT dan nila GMT jantan saat ini telah tersebar di 25 Propinsi dan Kabupaten di Indonesia. Dipilihnya ikan nila berkelamin jantan karena dapat tumbuh lebih cepat dibandingkan jenis betinanya.

Pengembangan selanjutnya, di tahun 2008 BPPT mulai melakukan perekayasaan ikan nila SALIN, yaitu suatu varietas ikan nila yang toleran terhadap perairan payau dengan salinitas lebih dari 20 ppt. Pengembangan ini dimaksudkan untuk mendukung pemerintah dalam meningkatkan produktivitas dan mengoptimalkan pemanfaatan lahan tambak marjinal yang tidak dimanfaatkan akibat kerusakan lingkungan yang luasnya tidak kurang dari 600.000 ha (50 % dari 1,2 juta ha).

Perekayasaan teknologi produksi ikan nila SALIN dilakukan melalui penerapan teknologi “diallel crossing” dengan menggunakan 8 varietas ikan nila dari hasil seleksi. Pada tahun 2011 proses perekayasaan telah sampai pada pelaksanaan uji performan kandidat ikan nila SALIN pada perairan dengan salinitas 20 ppt. Launching ikan nila SALIN ke masyarakat direncanakan akan dilaksanakan pada tahun 2012.

Untuk mendukung program pengembangan ikan nila unggul, BPPT juga telah mempersiapkan produk pakan pengakselerasi pertumbuhan (protein recombinant growth hormone/ rGH) dan produk vaksin DNA Streptococcus. Paket pakan rGH dan vaksin DNA Streptococcus ikan nila saat ini tengah memasuki tahap pengujian efikasi, sebelum diproduksi pada skala besar. Dengan demikian diharapkan masyarakat dapat memperoleh ikan nila unggul yang toleran terhadap salinitas, cepat tumbuh dan memiliki pertahanan yang kuat terhadap serangan penyakit terutama Streptococcus iniae.

Pengembangan paket ikan nila SALIN dengan pakan rGH dan vaksin DNA Streptococcus merupakan yang pertama dilakukan di Indonesia ini diharapkan akan memacu pertumbuhan produksi ikan sebagai sumber pangan protein hewani bagi masyarakat sekaligus untuk tujuan peningkatan ekspor melalui pemanfaatan 30-50% lahan pertambakan di sepanjang pantai yang selama ini terlantar. Keberhasilan program kegiatan ini akan menjadi kontribusi BPPT tidak hanya dalam mendukung program nasional ketahanan pangan tetapi sekaligus mempromosikan sumber pangan yang unggul dan memiliki ketahanan terhadap perubahan lingkungan global.

 

DIVERSIFIKASI PANGAN DENGAN MIE NON TERIGU

Penyediaan pangan merupakan persoalan besar bagi Indonesia yang pada tahun 2010 ini memiliki jumlah penduduk 237,6 juta jiwa. Konsumsi pangan pokok sebagian besar masyarakat Indonesia yang terfokus pada beras merupakan masalah tersendiri yang perlu diatasi. Ketergantungan pada pangan pokok beras akan sangat rawan bila terjadi goncangan pasokan akibat gangguan alam seperti banjir, kekeringan atau serangan penyakit.

Untuk mengatasi kekurangan pasokan pangan, jalan pintas yang diambil adalah impor. Namun, impor pangan, terutama biji-bijian menjadi tidak mudah karena permintaan pasaran dunia yang terus meningkat dan meningkatnya penggunaan biji-bijian untuk energi (bio-fuel).

Sebagai upaya mengatasi masalah tersebut dan dalam rangka mengimplementasikan program diversifikasi pangan maka BPPT telah melaksanakan diseminasi pembuatan mie berbahan baku sagu di Ambon Maluku tahun 2010. Gubernur Maluku memberi nama Mie SADAP untuk produk yang dihasilkan yang merupakan akronim dari mie yang dibuat dari sagu dan papeda, yakni makanan yang terbuat dari sagu dan merupakan makanan pokok bagi masyarakat Maluku atau Papua.

Mie yang terbuat dari sagu ini memiliki kandungan resistant starch (RS) tinggi yang nilainya 5 kali lebih besar dari pada mie terigu. RS yang tinggi tersebut sangat bermanfaat bagi pencernaan di dalam usus.

Sementara itu ditinjau dari aspek bahan baku, sagu merupakan bahan baku lokal. Sedangkan dari aspek peralatan untuk membuatnya relatif sederhana dan dapat dibuat di dalam negeri. Teknologi yang digunakan tidak terlalu tinggi dan dapat dioperasikan oleh masyarakat awam sekalipun.

Ditinjau dari aspek bisnis, pembuatan mie ini memberi margin yang tinggi. Setiap 1 kg bahan baku sagu akan diperoleh 1,2 kg mie sagu dengan kadar air 30 %. Apabila setiap bungkus mie sagu diisi dengan 3 lapisan mie sagu, dan setiap kg sagu dapat menghasilkan 15 lapisan mie sagu, maka setiap kg bahan baku akan menghasilkan 5 bungkus mie sagu. Harga mie sagu dijual Rp 3000,-, sehingga untuk setiap kg bahan baku akan menghasilkan mie dengan nilai Rp 15.000.

Sementara itu, harga 1 kg bahan baku sagu Rp 2000, biaya proses dan tenaga kerja Rp 1.000, biaya kemasan Rp 200, biaya pemasaran per bungkus Rp 800. Berarti untuk biaya 1 kg mie sagu adalah Rp 3.000. Margin mie sagu setiap kg adalah Rp 15.000-Rp 3.000 = Rp 12.000. Dengan pembuatan mie sagu ini akan diperoleh margin 5-6 kali lipat harga bahan baku. Adanya peningkatan margin ini merupakan adanya inovasi proses maupun peralatan pembuatan mie. Bila dibanding dengan harga mie telor di pasaran. yang mencapai Rp 5.000, harga mie sagu masih dapat bersaing.

Dengan membuat mie bahan baku lokal ini diharapkan penggunaan terigu dapat dikurangi sehingga menghemat devisa negara untuk impor. Selain itu, dari aspek ketahanan pangan, apabila mie sagu ini semakin memasyarakat maka bentuk makanan pokok akan lebih bervariasi, sehingga dapat mendukung kemandirian pangan.

Pusat Teknologi Agroindustri BPPT mengembangkan mie berbahan non terigu tersebut dengan menggunakan teknologi ekstruder. Dengan semakin banyaknya bentuk mie dari bahan non terigu ke depan, maka hasil kajian ini dapat diterapkan pada sentra-sentra penghasil karbohidrat non beras dan terigu untuk mendukung ketersediaan bahan baku dalam pembuatan mie. Dengan adanya dukungan program yang jelas tentang diversifikasi pangan serta bentuk insentif untuk pengembangan pangan lokal diharapkan penyediaan bahan baku lokal semakin banyak dan kegiatan impor sedikit demi sedikit dapat dikurangi.

Dalam pengembangan produk pangan perlu konsistensi program dan komitmen seberapa jauh niat diversifikasi ini akan dijalankan. Sinergi antar stakeholder menjadi semakin penting dalam upaya mengurangi ketergantungan pangan karbohidrat dari beras dan dari terigu. Dari sisi aspek teknologi BPPT mampu menyediakan namun dari aspek sosial perlu adanya dukungan promosi maupun sosialisasi pentingnya penggunaan bahan baku lokal. Tentu peran para “champion” swasta sangat diharapkan.

 

Alamat Kontak:

1.Pusat Teknologi Produksi Pertanian – Kedeputian TAB-BPPT, Phone: 021 316 9613, Gd. BPPT II Lt. 17, Jl MH. Thamrin 8 Jakarta.

2.Pusat Teknologi Agroindustri – Kedeputian TAB-BPPT, Phone: 021 3169605,

Gd. BPPT II Lt. 17, Jl MH. Thamrin 8 Jakarta.

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id