Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

PRESS RELEASE PENGUKUHAN PROFESOR RISET BPPT Kamis, 24 November 2011

Profesor riset merupakan puncak karir jabatan fungsional pada jabatan fungsional Peneliti. Pengangkatan seorang Peneliti Utama menjadi Profesor Riset merupakan pengakuan dan kepercayaan terhadap keberhasilan seseorang dalam mengemban tugas penelitian dan sekaligus merupakan penghormatan atas pengangkatannya dalam jabatan Peneliti Utama. Setelah melalui seleksi internal BPPT dan kemudian dilanjutkan dengan sidang di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang merupakan Instansi Pembina Jabatan Fungsional Peneliti, kali ini BPPT mengukuhkan tiga profesor riset. Mereka adalah Wimpie Agoeng Noegroho Aspar, Herdis serta Witono Basuki.

Di BPPT, Peneliti merupakan jabatan fungsional terbesar ke-2 setelah Perekayasa, tercatat saat ini BPPT telah memiliki 22 profesor riset, dan dengan dikukuhkannya tiga profesor riset pada hari ini, maka jumlah profesor riset bertambah menjadi 25 orang. Gelar profesor riset merupakan incentives non material terhadap komunitas peneliti dan merupakan pengakuan resmi Pemerintah dan Negara. Oleh karena itu profesor riset diharapkan dapat lebih memacu peningkatan kualitas penelitian serta kualitas bimbingan kepada para peneliti yang lebih muda.

Wimpie Agoeng Noegroho Aspar, yang merupakan pria kelahiran Pacitan 1959 silam tersebut dikukuhkan sebagai profesor riset bidang teknik sipil dengan orasi ilmiahnya yang berjudul “Teknik Sipil dan Aplikasi Rekayasa Geoteknik pada Konstruksi”. Dalam orasi tersebut akan dipaparkan mengenai aplikasi rekayasa geoteknik dalam konstruksi sipil secara umum dan kontribusinya dalam menunjang pembangunan di Indonesia.

Profesor riset yang kedua yaitu dari bidang fisiologi dan reproduksi ternak, adalah Herdis, dokter hewan yang meraih juara pertama karyawan berprestasi BPPT pada 2002 lalu. Melalui orasinya yang berjudul “Penerapan Teknologi Inseminasi Buatan dalam Peningkatan Produktivitas Ternak Ruminansia Kecil di Indonesia”, Herdis akan memaparkan mengenai aplikasi teknologi inseminasi buatan pada ruminansia kecil dalam upaya mengatasi masalah langka dan mahalnya ternak jantan unggul serta belum optimalnya efisiensi reproduksi betina.

Profesor riset lainnya diberikan kepada ahli bidang biokimia dan biologi molekuler,  Witono Basuki. Dengan orasi yang berjudul “Prospek Penerapan Teknologi Enzim Glukosa Isomerase pada Industri Gula Fruktosa di Indonesia,” pria asal Kotabumi tersebut akan menjelaskan mengenai teknologi glukosa isomerase yang dapat digunakan dalam mengatasi kebutuhan gula di Indonesia. Mengingat menurunnya pasokan gula dunia serta semakin mahalnya harga gula.

Jabatan Profesor Riset tentunya mempunyai implikasi terhadap tugas dan tanggung jawab yang tinggi pula terhadap pengembangan, yang beperan aktif bersama para pejabat fungsional Perekayasa dalam pengkajian dan penerapan. Peneliti lebih banyak terlibat pada awal kegiatan teknologi yaitu riset dan pengembangan, sedang Perekayasa lebih banyak terlibat terutama mulai dari kegiatan pengembangan, perekayasaan dan pengoperasian. Oleh karena itu perlu adanya sinergi antara peneliti dan perakayasa agar dapat berperan dalam pengembangan dan penerapan teknologi untuk pembangunan bangsa. Profesor riset yang telah dikukuhkan nantinya diharapkan dapat menjadi simpul dalam keahlian tertentu sehingga dapat menghasilkan ahli-ahli muda yang handal dalam bidang tertentu.  (humas bppt)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id