Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

TINGKATKAN KESIAPAN TEKNOLOGI PERENCANAAN SISTEM BUS RAPID TRANSIT KOTA BESAR MELALUI MONEV

Secara rata-rata di Indonesia, jumlah pengguna angkutan umum mengalami penurunan persentasinya sebesar 1% per tahun. Hal ini dikarenakan meningkatnya jumlah kendaraan pribadi baik sepeda motor dan mobil, padahal kenyataannya transportasi umum perkotaan seharusnya menjadi instrumen kebijakan publik yang sangat penting.

Dalam UU No 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ), khususnya pasal 158, disebutkan bahwa pemerintah menjamin ketersediaan angkutan massal berbasis jalan untuk memenuhi kebutuhan angkutan orang dengan kendaraan bermotor umum di kawasan perkotaan. DKI Jakarta sendiri memiliki moda transportasi massal yang diharapkan mampu mengatasi masalah transportasi yaitu Bus Transjakarta atau yang lebih dikenal dengan Busway.

Data yang dimiliki Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) menunjukkan bahwa sejak diluncurkannya Bus Transjakarta, pengguna mobil yang beralih ke bus berjalur khusus ini hanya 7,1 persen dan pengguna sepeda motor 15,4 persen. Sedangkan sisanya merupakan peralihan penumpang angkutan umum reguler seperti metromini, dan mikrolet. Dari data tersebut menunjukkan target yang diinginkan belum tercapai.

BPPT berusaha mendukung adanya usaha mewujudkan transportasi massal yang memadai di wilayah perkotaan dengan melakukan monitoring dan evaluasi (Monev) tentang sistem angkutan umum masal di perkotaan (Implementasi Konsep Bus Rapid Transit). Latar belakang dilaksanakannya Monev ini karena meskipun masih baru dalam penerapannya, sudah banyak sarana prasarana yang ternyata tidak dapat digunakan. Sisi pemeliharaan kita masih sangat kurang, kata Perekayasa Bidang Monitoring dan Evaluasi Pusat Audit Teknologi BPPT Hendrarulianto Miadji saat ditemui redaksi, Jumat (12/2).

Selama ini masih banyak pengguna kendaraan pribadi yang enggan beralih ke Bus Transjakarta karena fasilitas yang tersedia belum optimal. Belum ada gedung parkir di dekat shelter Bus Transjakarta, jalur pedestrian juga belum tertangani dengan baik", ujarnya.

Miadji mengatakan bahwa Monev ini telah dilakukan sejak pertengahan tahun 2009 dan berakhir pada Desember 2009, bekerjasama dengan BLU Transjakarta dan Dinas Perhubungan dari masing-masing kota. Tujuan dilakukannya Monev ini untuk mengetahui tingkat kesiapan teknologi di kota besar dalam merencanakan dan meningkatkan sistem angkutan umum (bus rapid transit) yang akan dibangun di berbagai kota.

Pada monitoring dan evaluasi tersebut BPPT menggunakan metodologi yang mengacu pada BRT Monitoring and Evaluation Guidelines (US Department of Transportation) yang ruang lingkupnya meliputi area indikator prasarana, sarana, kelembagan, sumberdaya manusia dan layanan. Monev dilakukan di empat kota besar yaitu Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Semarang.

Hingga saat survey dilakukan, menurut Miadji, Bus Rapid Transit (BRT) Semarang masih dalam tahap perencanaan dan belum beroperasi. Dari enam koridor yang direncanakan baru satu yang beroperasi yaitu pada rute Penggaron-Mangkang dengan jumlah bus 20 unit dengan rencana headway 20 menit.

Dari hasil monev ada beberapa temuan yang diperoleh yaitu pada Trans Metro Bandung (TMB) jumlah bus yang direncanakan beroperasi masih kurang bila dibandingkan kondisi ideal, halte masih dibangun rata tanah sehingga untuk menaiki bus harus melalui tangga. Dan pada Trans Yogya (TJ) kelengkapan fasilitas halte masih kurang dimanfaatkan keberadaannya, kondisi hidrolik bis sudah mulai rusak, dan TJ melewati jalur outer ringroad dimana jarak antar halte berjauhan sehingga bus mengebut. Lalu lain halnya pada BRT Semarang (BS), yang beroperasi di beberapa ruas jalan raya bercampur dengan jalur umum sehingga menyebabkan kemacetan.

Berdasarkan hal tersebut, disiapkan beberapa rekomendasi untuk mengatasinya, seperti pada TMB, dilakukan penambahan jumlah bus dan marking serta rambu-rambu pada jalurnya, Halte dibangun dengan model platform yang elevated setinggi lantai bus untuk mempercepat keluar masuk penumpang.

Lalu, pada TJ direkomendasikan dengan menambah jumlah halte pemberhentian bus sehingga jarak antar halte cukup dekat, disarankan juga untuk penambahan bus yang dioperasikan untuk menurunkan headway. Serta di BRT Semarang, diperlukan peningkatan perawatan sarana, adanya kajian kelayakan manfaat fasilitas park and ride sepanjang rute, serta penambahan rambu dan marking yang dapat meningkatkan awareness pengguna jalan lain.

Diharapkan dengan adanya monev tentang sistem angkutan umum massal di perkotaan (Implementasi Konsep Bus Rapid Transit) ini setiap daerah yang akan menerapkan konsep BRT ini dapat mengimplementasikan konsep yang benar sesuai dengan standar yang berlaku, kata Miadji di akhir wawancara. (YRA/humas)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id