Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

Prof. Indroyono Soesilo: Studi Kelayakan BPPT dapat Mencipta Efisiensi Pada Pembangunan Infrastruktur dan Meningkatkan Persentase TKDN

 

 

PUSPIPTEK, bppt.go.id --  Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi terus berupaya meningkatkan output inovasi dan layanan teknologi. Menurut Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman RI era Kabinet Indonesia Bersatu Tahun 2014, Prof. Indroyono Soesilo, peran BPPT dalam hal alih teknologi akan semakin maju pada Tahun 2017.

 

“Contohnya dalam pembangunan infrastruktur yang massif di Indonesia, antara lain Pembangkit Listrik 35.000 MW, Pelabuhan Patimban, Pembangunan Kapal, rencana pembangunan jalan tol, dan sebagainya. Itu diharapkan terjadinya peningkatan nilai tambah serta TKDN, alih teknologi dan juga lapangan kerja untuk bangsa sendiri,” papar Indroyono saat ditemui redaksi BPPT usai acara Pertemuan dengan Pegawai Senior/Purna Bakti  di Aula Gedung Pusat Inovasi dan Bisnis Teknologi BPPT, Kawasan PUSPIPTEK, Tangerang Selatan, (25/01). 

 

Berikut petikan wawancara selengkapnya dengan  Perekayasa Utama Kehormatan BPPT, yang juga menjabat Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Kabinet Kerja periode Oktober 2014 hingga Agustus 2015 ini..

 

 

Bagaimana Bapak melihat BPPT di tengah era pembangunan saat ini ?

Pemerintah untuk tahun ini   untuk pembangunan Pelabuhan Patimban, revitalisasi Kereta Ekspress Jakarta Surabaya, semua meminta BPPT melakukan studi kelayakan atau Feasibility Study (FS) dan Detail Engineering Design (DED).

 

Apa saja program pembangunan yang didukung studi kelayakan BPPT tersebut?

Contoh untuk Program Pembangkit Listrik 35000 MW, misalnya dengan membuat studi kelayakan maka kita akan dapat menentukan spesifikasi yang diperlukan untuk membangun hal tersebut. Misal boiler, kita dapat menentukan siapa yang membuat,  turbin, serta  wiring sistem dapat kita tentukan siapa yang membuat nantinya dan diharapkan lebih banyak unsur TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri, red).

 

Apa manfaat lain dari kajian studi kelayakan tersebut Pak?

Dengan adanya BPPT melakukan kajian pra FS, FS dan DED, juga akan terjadi efisiensi anggaran untuk pembangunan infrastruktur tersebut. Dengan biaya studi kelayakan yang hanya sekira 2 persen dari total biaya pembangunan, dampaknya dapat menciptakan efisiensi hingga 70 persen.

Selain itu dengan menggunakan komponen lokal, kemampuan dalam negeri juga akan meningkat seiring peningkatan TKDN.

 

Inovasi BPPT yang Bapak nilai memiliki manfaat besar untuk Indonesia?

Saya bangga dengan apa yang sudah dapat dihasilkan oleh BPPT saat ini seperti sistem ADSB untuk navigasi penerbangan di tanah air.

Bidang teknologi lain yang juga langsung bermanfaat untuk masyarakat, saya lihat ada 4 hal yang berdampak langsung untuk masyarakat.

 

Apa saja 4 inovasi tersebut Pak?

Pertama, sistem pemantauan gambut. Karena saat ini dengan kerap terjadinya kebakaran hutan, sistem ini akan mampu hadir untuk menjadi pencegah kebakaran lahan gambut.

Kedua kelapa sawit, dimana Indonesia merupakan penghasil terbesar di dunia namun demikian turunannya belum optimal. Namun BPPT mampu membuat langkah baik seperti limbah kelapa sawit yang dijadikan pakan ternak Sapi.

Ketiga adalah listrik yang dihasilkan dari biomassa.  Terakhir adalah rekayasa teknologi untuk menciptakan bibit unggulan. Hal tersebut merupakan keunggulan yang tidak dimiliki oleh institusi lain dan Indonesia harus memanfaatkan inovasi teknologi ini.

 

Apa saran dan masukan Bapak untuk BPPT?

Hasil  kaji terap teknologi BPPT harus langsung diketahui masyarakat dan industri, agar mendapat apresiasi dari seluruh pemangku kepentingan. Hal itu akan membuat BPPT lebih diakui.. (Humas/HMP)

 

Pewarta/ed: SP

 

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id