Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

ROBERT HUBER: INDONESIA MAMPU TAMPIL DI KANCAH WORLD CLASS RESEARCH

Bisakah orang Indonesia meraih hadiah Nobel? Langkah pertama untuk meraih hadiah Nobel adalah memang berpikir yang benar. Aktivitas riset yang ditujukan untuk menghasilkan sesuatu yang berarti, apalagi agar bisa meraih hadiah Nobel, harus memiliki pengaruh yang nyata dalam kehidupan sosial dan ekonomi kita, sekecil apapun pengaruh itu, demikian diungkapkan Menteri Riset dan Teknologi Indonesia, Suharna Surapranata saat memberikan sambutan pada acara Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA ITB) Lecture Road to Nobel Prize, di BPPT (4/8).

Sebuah penemuan yang baik, lanjut Suharna, pasti berasal dari sebuah budaya berpikir yang baik. Indonesia harus membangun sebuah lingkungan untuk menumbuh suburkan budaya riset di masyarakat. Agar sebuah penelitian menghasilkan pengaruh sosial dan ekonomi, maka penelitian itu harus memberikan kontribusi kepada pemecahan masalah. Apakah itu permasalahan ilmiah ataupun permasalahan nyata di masyarakat atau di dalam sebuah proses ekonomi, jelasnya.

Saya percaya ilmuwan-ilmuwan Indonesia memiliki kesempatan yang lebih banyak sekarang ini untuk dapat berpartisipasi langsung dalam berbagai aktivitas penelitian kelas dunia. Jadi bukanlah sebuah angan-angan muluk bagi seorang ilmuwan Indonesia untuk bisa menjalankan sebuah penelitian yang layak mendapatkan hadiah Nobel. Tentu kita mengharapkan hal ini suatu saat akan betul-betul terjadi, jelasnya.

IA ITB Lecture kali ini menghadirkan peraih Nobel Kimia tahun 1988 untuk Penentuan Struktur Pusat Reaksi Fotosintesis, Robert Huber. Robert memberikan materi mengenai 'Beauty and Function of Proteins: The Building Blocks of Life' di depan peserta lecture yang terdiri baik dari kalangan pemerintah, perwakilan perguruan tinggi, pelajar berprestasi, alumni ITB dan akademisi lainnya yang memiliki perhatian khusus dalam pengembangan ristek di Indonesia.

Dalam kuliah umum yang dipandu oleh Megawati Santoso tersebut Robert mengungkapkan kepercayaannya bahwa Indonesia bisa tampil di kancah penelitian internasional (world class research). Fasilitas penelitian universitas di Indonesia memang belum memadai. Hal ini sangat disayangkan, karena Indonesia memiliki begitu banyak potensi. Namun demikian, ini bukan soal fasilitas, tetapi soal pemikiran, jelasnya.

Indonesia mempunyai kekayaan alam yang cukup melimpah dan hal itu harus dimanfaatkan dengan penerapan teknologi melalui penelitian. Seperti contohnya yaitu negeri ini kaya akan terpaan sinar matahari. Tapi saya sama sekali tak melihat rumah-rumah di sini menggunakan solar cell untuk kebutuhan listrik. Padahal itu peluang yang sangat bagus untuk dikembangkan, katanya.

Dengan teknologi yang dihasilkan dari penelitian, menurut Robert, Indonesia akan dapat menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi seperti krisis energi dan pangan. Kuncinya ada di tangan Anda. Tentukan bidang apa yang ingin Anda pelajari. Seketika Anda menemukannya, pelajarilah sebanyak yang Anda bisa, kata pria yang memperoleh nobel dengan fokus penelitiannya yakni mengenali struktur tiga dimensi dari pusat reaksi fotosintetis.

Pria keturunan Jerman ini lahir di Munich, pada 20 Februari 1937. Masa kecilnya dilalui secara sederhana lantaran masih dalam masa perang. Namun, keterbatasan tidak menyurutkan semangatnya untuk berkarya di dunia penelitian. (SYRA/humas)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id