Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

KESIAPAN TEKNOLOGI UNTUK MEWUJUDKAN TIGA PILAR KETAHANAN PANGAN

Berbicara mengenai ketahanan pangan, terdapat tiga pilar yang harus kita perhatikan yang terdiri dari pilar ketersediaan, pilar aksesibilitas dan pilar konsumsi. Jika dilihat dari sisi teknologi, ketiga pilar tesebut bisa dikatakan sudah berhasil kita kuasai. Namun demikian, kita harus sadari ketika akan diimplementasikan terdapat hal-hal selain teknologi yang harus diperhitungkan, antara lain dikatakan Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB), Listyani Wijayanti pada acara Bincang Iptek di BPPT, pagi tadi (4/10).

Sejalan dengan arah  pembangunan iptek dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 untuk mendukung ketahanan pangan nasional, lanjutnya, BPPT telah melaksanakan program untuk mendukung aspek ketersediaan pangan. Pengembangan difokuskan pada ikan nila unggul sebagai sumber pangan protein hewani dari ikan, dan program yang mendukung aspek diversifikasi yaitu pengembangan produk mie dari sagu sebagai sumber pangan karbohidrat, jelas Listyani.

Berbicara mengenai Ikan Nila, Direktur Pusat Teknologi Produksi Pertanian (PTPP) TAB, Nenie Yustiningsih menjelaskan bahwa program pengembangan ikan nila salin dilatarbelakangi oleh rendahnya tingkat konsumsi rata-rata protein hewani masyarakat Indonesia yang hanya 4,7 gram/orang/hari. Jauh lebih rendah dibanding negara-negara lain seperti Malaysia, Thailand dan Filipina. Selain itu alasan memilih ikan nila karena ikan ini sudah cukup populer dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat di Indonesia serta memiliki sifat dapat diproduksi secara massal, mudah dipelihara, dan produk daging ikan nila dalam bentuk fillet sangat diminati pasar dunia, sehingga memiliki pasar ekspor yang luas di pasar internasional, lanjut Nenie.

Ikan nila GESIT (Genetically Supermale Indonesian Tilapia) hasil pengembangan BPPT berhasil dilaunching pada 2006 lalu. Jika ikan nila GESIT dikawinkan dengan ikan nila betina maka akan menghasilkan ikan nila monoseks jantan jenetis (Genetycally Male Tilapia/ GMT) yang memiliki keunggulan cepat tumbuh 1,3 1,5 kali dibandingkan dengan ikan nila betina. Ikan nila GESIT dan nila GMT jantan saat ini telah tersebar di 25 Propinsi dan Kabupaten di Indonesia. Selanjutnya pada 2008 pengembangan dilanjutkan dengan melakukan perekayasaan ikan nila SALIN, yaitu suatu varietas ikan nila yang toleran terhadap perairan payau dengan salinitas tinggi lebih dari 20 ppt. Saat ini ikan nila salin sedang memasuki tahap uji lapangan dan akan dilauching ke masyarakat 2012 mendatang, jelasnya.

Untuk mendukung program pengembangan ikan nila unggul, Nenie menjelaskan lebih lanjut bahwa BPPT juga telah mempersiapkan produk pakan pengakselerasi pertumbuhan (protein recombinant growth hormone/ rGH) dan produk vaksin DNA Streptococcus. Paket pakan rGH dan vaksin DNA Streptococcus ikan nila saat ini tengah memasuki tahap pengujian efikasi, sebelum diproduksi pada skala besar.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pusat Teknologi Agroindustri, Priyo Atmaji, menjelaskan mengenai program BPPT yang mendukung aspek diversifikasi yaitu pengembangan produk mie dari sagu sebagai sumber pangan karbohidrat. Berbicara mengenai diversifikasi berarti tidak lagi berbicara tentang beras dan terigu, jelasnya.

Diseminasi pembuatan mie berbahan baku sagu di Ambon Maluku telah dilakukan sejak 2010 lalu. Mengapa memilih mie? Karena Indonesia merupakan negara terbesar ketiga pengkonsumsi mie di dunia. Data tahun 2009 menunjukkan bahwa setiap orang Indonesia mengkonsumsi mie 73 bungkus/tahun dan terus meningkat sebesar 6%. Sedangkan selama ini bahan baku utama pembuatan moe adalah terigu yang masih diimpor dalam jumlah besar. Karena itulah perlu dilakukan diversifikasi untuk mengurangi konsumsi terigu nasional, ungkap Priyo.

Mie SADAP (sagu dan papeda)ini memiliki kandungan resistant starch (RS) tinggi yang nilainya 5 kali lebih besar dari pada mie terigu. RS yang tinggi tersebut sangat bermanfaat bagi pencernaan di dalam usus. Sehingga bagi penderita diabetes dan bagi yang ingin berdiet mie ini sangat bagus untuk dikonsumsi. Selain itu dengan rendahnya kadar protein menyebabkan mie ini dapat disimpan dalam jangka waktu lama tanpa harus menggunakan pengawet kimia, lanjutnya.

Sementara itu ditinjau dari aspek bahan baku, sagu merupakan bahan baku lokal. Sedangkan dari aspek peralatan untuk membuatnya relatif sederhana dan dapat dibuat di dalam negeri. Teknologi yang digunakan tidak terlalu tinggi dan dapat dioperasikan oleh masyarakat awam sekalipun. Dilihat dari sisi keekonomian, mie dari sagu pun  harganya masih setengah dari mie terigu, jelas Priyo.

Dalam pengembangan produk pangan perlu konsistensi program dan komitmen seberapa jauh niat diversifikasi ini akan dijalankan. Sinergi antar stakeholder menjadi semakin penting dalam upaya mengurangi ketergantungan pangan karbohidrat dari beras dan terigu. Dari sisi aspek teknologi BPPT mampu menyediakan namun dari aspek sosial perlu adanya dukungan promosi maupun sosialisasi pentingnya penggunaan bahan baku lokal, tutupnya. (SYRA/humas)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id