Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

PERLUNYA SENTRA HKI SEBAGAI INTERMEDIATOR ANTARA PENGHASIL PATEN DAN INDUSTRI

Suatu penemuan atau invensi hanya akan berarti jika sudah bisa memberikan pengaruh baik pada aspek sosial maupun ekonomi. Untuk dapat memberikan manfaat secara ekonomi tentunya perlu dilakukan komersialisasi produk agar dapat diproduksi di skala industri. Disinilah perlunya sebuah penemuan dipatenkan agar dapat membawa hasil temuan ke produk yang bermanfaat. Namun di Indonesia gairah penemu untuk mematenkan produknya belumlah tinggi, karena itu diperlukan sebuah sentra HKI yang dapat mendorong semakin besarnya paten yang dihasilkan.

Sentra HKI merupakan unit yang menjadi amanat dalam UU No 18 Tahun 2002 mengenai Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, dimana sentra HKI menjadi kewajiban harus ada di lembaga penelitian dan pengembangan teknologi  dan universitas. Tugas dari sentra HKI adalah melakukan sosialisasi mengenai HKI, termasuk paten, merk, desain, melakukan perlindungan hukum dan mengkomersialisasikannya, ungkap Kepala BPPT Marzan A Iskandar saat wawancara di Metro TV (3/11).

Indonesia, menurut Kepala BPPT, baru mulai mengembangkan sentra HKI sejak tahun 2002. Periode dari 2002 hingga sekarang lebih pada bagaimana mensosialisasikan kepada peneliti dan perekayasa agar mau mendaftarkan patennya. Dan saat ini sudah waktunya menyampaikan pada publik mengenai HKI yang ada supaya dapat ditindaklanjuti dalam bentuk produk yang menghasilkan nilai ekonomis.

Mengamini pendapat Kepala BPPT, Wahyudin Bagenda, Direktur Utama LEN Industri menyatakan peran penting HKI dalam memberikan kondisi daya saing industri itu sendiri. Jika suatu industri memiliki paten semakin banyak, maka daya saingnya pun akan semakin menguat, dan itu sekaligus memperkuat industri di era globalisasi. Namun kelemahannya di Indonesia saat ini adalah kebanyakan hasil dari penemuan belum dilihat dari aspek komersial. Jadi dia hanya melihat dari sisi penemuannya itu sendiri tapi belum dilakukan kajian apakah penemuan ini bisa ditindaklanjuti secara komersial. Jangan sampai penemuan itu diterima oleh industri tapi tidak bisa dijual, jelasnya.

Berkaitan dengan komersialisasi HKI, Marzan berpendapat memang selama ini sentra HKI yang ada di Indonesia baru melakukan fungsi sosialisasi pada para perekayasa dan peneliti untuk mendaftarkan paten, belum sampai pada tahap komersialisasi patennya. Selama ini penemu enggan mendaftarkan paten karena rumitnya proses dan mekanisme pendaftaran serta relatif mahalnya biaya yang diperlukan pada proses pendaftaran. Karena itulah perlu merubah mindset para perekayasa dan peneliti, salah satunya adalah dengan mengatur mengenai ketetapan royalti dalam peraturan perundangan. Ini akan sangat meningkatkan motivasi para inventor untuk mendaftarkan paten, ungkapnya.

Ada beberapa persyaratan supaya sentra HKI dapat tumbuh. Pertama sentra HKI harus betul-betul menjadi pusat aktivitas yang terkait dengan HKI, dari pendaftaran, perlindungan hukum hingga komersialisasi. Kedua, karena HKI memiliki dampak ekonomi, maka perlu untuk menarik inventor supaya lebih termotivasi untuk mendaftarkan hasil temuannya. Ke depan, sentra HKI juga diharapkan memiliki kemampuan uintuk menjelaskan potensi manfaat ekonomi HKI pada industri. Karena industri tidak tahu paten mana yang diperlukan untuk mendorong daya saingnya, tetapi industri dapat memberikan masukan kriteria HKI seperti apa yang dibutuhkan sehingga dapat dijembatani oleh sentra HKI.

Karena peran HKI yang bisa dikonversikan menjadi produk dengan nilai ekonomi tinggi itu penting, maka sentra HKI sebagai intermediator menjembatani antara penghasil HKI di lembaga perguruan tinggi dan litbang dengan industri yang membutuhkannya menjadi sangat penting. Karena itu sentra HKI ini ke depan harus kita berdayakan agar mampu memainkan peran mulai dari sosialisasi, proses hukum, komersialisasi hingga paten analisis yang memungkinkan industri mudah untuk melakukan pencarian paten yang diperlukan, sekaligus memotivasi inventor untuk terus berkarya menghasilkan paten baru yang kompetitif dan mampu mendorong daya saing industri, tegasnya.

Selain itu, lanjut Marzan, sistem inovasi juga memegang peranan penting. Dimana dalam sebuah sistem inovasi partisipannya paling tidak adalah pemerintah yang mengatur mengenai regulasi dan kebijakan, kemudian lembaga penelitian dan pengembangan yang menghasilkan invensi baru, serta industri yang memanfaatkannya. Ketiga pihak ini harus berkolaborasi dengan sinergis untuk bisa memenuhi permintaan pasar. Untuk membangun sistem inovasi ini sendiri sudah mulai dilaksanakan diantaranya dengan membentuk Komite Inovasi Nasional dan pengembangan Sistem Inovasi Daerah. BPPT sendiri sudah mulai membangun portal jaringan inovasi, yang dapat melihat gambaran statistik dan pemetaan wilayah sumber inovasi di Indonesia, jelasnya. (SYRA/humas)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id