Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

TEKNOLOGI DUKUNG KEMANDIRIAN BAHAN BAKU INDUSTRI JAMU DAN EKSTRAK

Tanaman obat herbal  hingga  kini banyak digunakan sebagai alternatif pengobatan bagi masyarakat Indonesia, hanya saja belum cukup kompetitif bersaing dengan obat kimia. Padahal Indonesia memiliki ketersediaan bahan baku herbal yang begitu melimpah. Potensi inilah yang harusnya dikembangkan dan menjadi andalan bagi industri farmasi di Indonesia kedepannya, meski ada beberapa kendala yang harus dilewati.  "Permasalahan pengembangan bahan baku jamu dan ekstrak ini ada tiga aspek, yaitu kelembagaan, teknologi dan pasar," jelas Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB), Listyani Wijayanti saat menyampaikan plenary lectures pada Seminar Nasional Tumbuhan Obat Indonesia ke-44 di Palembang dengan judul "Peran Teknologi Menuju Kemandirian Pengadaan Bahan Baku Industri Jamu dan Ekstrak", Palembang (14/3)

 

Adapun dalam seminar ini diharapkan akan terjadi sharing informasi antara sesama peneliti tumbuhan obat dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Sebagai tumbuhan pilihan adalah Daun Sirih Merah (Piper crosatum) dan Gelam (Malaleuca cajuputi). Selanjutnya informasi, pengalaman, kiat dan kerjasama dengan berbagai asosiasi dan praktisi dari industri farmasi dan kosmetik tentu sangat diperlukan untuk mewujudkan transformasi tumbuhan obat menjadi fitofarmaka dan bahan baku obat modern.

Pada seminar yang bertema "Penggalian, Pelestarian, Pemanfaatan, dan Pengembangan Tumbuhan Obat Indonesia untuk Peningkatan Kesehatan Masyarakat" ini, Staf Ahli Gubernur Bidang Pemasyarakatan dan SDM yang mewakili Gubernur Sumatera Selatan juga menyatakan bahwa Palembang sangat menyambut baik penyelenggaraan seminar Tumbuhan Obat Indonesia ini. "Melalui seminar ini pengembangan tanaman obat lokal di Palembang akan menjadi lebih maju," tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Indah Yuning Prapti, Sekretaris Jenderal Kelompok Kerja Nasional Tanaman Obat Indonesia, menyampaikan bahwa saat ini dinamika dan apresiasi dalam pemanfaatan tumbuhan obat sebagai bahan jamu sungguh sangat menggembirakan. "Hal ini ditandai dengan peresmian Rumah Riset Jamu di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional Tawangmangu tanggal 31 Januari 2013 oleh Menteri Kesehatan. Saat itu juga dilakukan penyerahan 2 (dua) Sertifikasi Jamu Asam Urat dan Jamu Hipertensi dari Komisi Nasional Saintifikasi Jamu Kepada Menteri Kesehatan. Sertifikat tersebut menyatakan bahwa formula kedua Jamu itu terbukti aman, berkhasiat dan bermutu setara dengan obat konvensional/modern," terangnya.

Sementara itu perwakilan dari Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan  menyampaikan presentasi tentang arah kebijakan nasional dalam pengadaan bahan baku obat yang meliputi roadmap reformasi kesehatan 2010-2014, yakni reformasi kefarmasian dan alat kesehatan, perlunya upaya kemandirian di bidang bahan baku obat dan obat tradisional serta pemanfaatan keanekaragaman hayati.

Menurut Listyani, peran teknologi BPPT dalam pengembangan bahan baku jamu dan ekstrak terbagi menjadi peran teknologi dalam Pre-Farm, On-Farm, Off-Farm dan Processing. "Peran teknologi dalam pre-farm bertujuan untuk mendapatkan bibit unggul, sementara peran teknologi dalam on-farm bertujuan memproduksi tanaman obat unggul. Untuk peran teknologi off-farm bertujuan menciptakan efektifitas proses produksi, efisiensi energi serta mendapatkan simplisia yang berkualitas. Efisiensi dan efektifitas pada proses ekstraksi dan untuk mendapatkan ekstrak terstandar yang berkualitas dihasilkan dari peran teknologi dalam processing. Kami juga berupaya menmbuat standarisasi pemanenan dan pengumpulan serta pengolahan tanaman melalui Good Agricultural and Collecting Resources dan Good Manufacturing Procedurs," ungkapnya.

Menutup presentasinya, Deputi TAB mengatakan bahwa bahan baku jamu dan ekstrak pada skala industri dapat dipenuhi jika didukung budidaya tanaman obat. "Peran teknologi dalam upaya pemenuhan bahan baku jamu dan ekstrak dapat dilakukan di fase pembibitan, budidaya, pasca panen dan pemrosesan menjadi ekstrak. Kemudian penerapan teknologi berbasis biologi molekular di fase pembibitan dan budidaya juga sebaiknya memperhatikan faktor keekonomian dan implementasi triple helix ABG dalam pengembangan bahan baku obat Indonesia,"  tambahnya.

Pada seminar nasional yang dihadiri sekitar 250 peserta ini BPPT juga menghadirkan narasumber lainnya, diantaranya; presentasi berjudul "Pengaruh Ekstrak Sambiloto (Andrographis paniculata) dan Temulawak (Curcuma xanthorriza) terhadap Peningkatan Jumlah Sel Th CD4+ Mencit ddY Yang Diinduksi BCG i.p" dan "Akivitas Sitotoksisitas Ekstrak Cleorodendrum Phyllanthus sp terhadap Sel Kanker Paru-Paru (A549) dan Sel Kanker Paru-Paru yang Diinfeksi dengan Simian Retro Virus (A549-SRV2).   (TAB/SYRA/Humas)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id