Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

Sato Umi Untuk Keseimbangan Alam Dan Lingkungan

Indonesia akan menerapkan konsep Sato Umi dari Jepang untuk mengelola sumber daya perikanan, pesisir, dan kelautan berkelanjutan. Konsep yang diperkenalkan oleh Prof  Tetsuo Yanagi itu mencakup Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA) berbasis sistem bioresirkulasi untuk lahan tambak terbengkalai.  “Sato Umi adalah suatu konsep pembangunan serperti pengolahan sumberdaya perikanan termasuk pengembangan budidaya. Sato Umi ini sudah mengglobal tidak hanya di Indonesia, sudah ada beberapa negara yang menerapkannya. Konsep ini dikembangkan bagaimana untuk memperbaiki dan meningkatkan produktifitas dari perairan yang tidak produktif menjadi produktif”, ungkap Suhendar I Sachoemar, Kepala Bidang Pengkajian Teknologi Produksi Perikanan dan Peternakan BPPT, (23/10).

 

Berkaitan dengan hal tersebut, salah satu stasiun TV Jepang, NHK melakukan wawancara sekaligus peliputan di Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) di Kabupaten Karawang.

Prinsip Sato Umi diterapkan bagaimana meningkatkan produktifitas dan pilihan biodiversitas jadi bermacam-macam. “Jadi didalam kolam itu terdiri dari berbagai spesies tapi bisa juga satu spesies tapi terdiri dari macam-macam spesies. yang bisa digabungkan secara terintegrasi. Dengan bagaimana menjaga kualitas perairannya, bisa dengan rumput laut maupun mangrove, jadi prinsip Sato Umi untuk keseimbangan kesehatan perairan, jelas Suhendar.

Sementara itu, penerapan konsep Sato Umi berhasil menjaga dan meningkatkan produktifitas produksi perikanan, dengan menggunakan metode yang bermacam-macam, misal nya dengan mangrove ini kita bisa menetralisir limbah buangan dari budidaya serta juga bisa menggunakan rumput laut untuk menetralisir. Jadi kalu dengan rumput laut bisa secara langsung satu kolam sedangkan dengan mangrove ini untuk menetralisir buangan-buangan dari lahan tambak yang bisa nanti airnya bisa dipakai untuk  produksi udangnya.

Sehingga budidaya perikanan itu bisa lebih produktif, tidak menghasilkan limbah tapi bisa berkelanjutan artinya kawasan itu bisa terjaga dengan baik kualitas perairanya sehingga produktifitas bisa tetap terjaga secara berkelanjutan. Untuk menghadapi perubahan lingkungan, juga dikembangkan varietas ikan baru yang bisa adaptasi terhadap perubahan-perubahan lingkungan. Ikan Salina untuk mengatasi perubahan lingkungan seperti salinaitas pada tambak-tambak yang tinggi, jadi ikan-ikan yang toleran terhadap salinitas tinggi. itu juga bagian dari konsep sato umi, untuk menambah spesies baru.

Ikan ini dikembangkan untuk meningkatkan produktifitas lahan tambak dan untuk mengantisipasi perubahan lingkungan perairan dikawasan pesisir, mengatasi perubahan iklim serta untuk mengantisipasi pemanasan global yang meningkatkan permukaan air laut sehingga perairan di tambak semakin banyak yang salinitasnya tinggi.  

Jadi secara umum menurut Suhendar, dengan konsep Sato Umi ini, lahan dan tambak yang tidak termanfaatkan bisa dimanfaatkan secara optimal dikembangkan dengan metode. Konsep Sato Umi tidak hanya menjaga eco balance tetapi bagaimana kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan nya dengan baik. Beberapa daerah ingin menerapkan konsep sato umi dan ingin melihat kesini melihat bagaimana keberhasilannya.

Sementara itu dikesempatan yang sama Kepala BLUPPB Kabupaten Karawang Supriyadi mengatakan Kami mengenal Sato Umi dari BPPT, pada acara workshop International Workshop Sato Umi yang diadakan BPPT, kemudian kami menerapkannya di BLUPPB ini. Dengan diterapkanya konsep Sato Umi, menurut Supriyadi produksi udang meningkat, jika dulu mangrove di tebang, tetapi sekarang mangrove itu harus ada.

Kalau dulu air langsung dibuang kelaut namun sekarang tidak lagi, pembuangan dilakukan setiap satu siklus sekali buang (satu siklus 4 bulan). Jadi sekarang produksi udang sudah membaik karena sudah menerapkan konsep-konsep Sato Umi. Supaya mangrove itu produktif kita buatkan kolam-kolam diantara pohon mangrove, sehingga budaya udang dan ikan di dalam hutan mangrove. jadi integrated farming antara mangrove dengan ikan, jelas Supriyadi. (SYRA/humas)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id