Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

CSIRO Australia - BPPT Gelar Workshop untuk Hadirkan Solusi Penyakit Virus Ikan dan Udang

Hingga kini Indonesia belum memiliki solusi efektif penanganan penyakit virus pada ikan dan udang. Berkaca pada kasus Koi Herpes Virus (KHV) pada Ikan Mas dan Koi yang terjadi di Indonesia medio 2002 hingga 2006 telah menyebabkan kerugian ekonomi mencapai 250 Milyar Rupiah. Penyakit pada Ikan dan Udang budidaya yang disebabkan oleh virus dapat menimbulkan kematian secara massal hingga mencapai 100 % populasi dan mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar. Saat ini juga suplai obat-obatan seperti vaksin umumnya masih berasal dari impor. 

Mengatasinya, Pusat Teknologi Produksi Pertanian (PTPP TAB-BPPT) bekerjasama dengan CSIRO (Commonwealth Scientific Industrial Research Organization), Australia, minggu lalu menyelenggarakan workshop mengenai “Pengembangan spesies ikan dan udang yang resisten terhadap serangan penyakit virus” melalui penerapan teknologi RNAi (Ribonucleic Acid interference). 

Deputi Kepala BPPT Bidang TAB, Listyani Wijayanti kala membuka workshop menyampaikan apresiasinya kepada insiatif pihak CSIRO. “Workshop ini sangat penting, terima kasih kepada CSIRO yang telah berinisiatif untuk bekerjasama dalam pelaksanaan workshop pengembangan spesies ikan dan udang yang resisten terhadap virus,” sebut Listyani dalam sambutannya.

Selanjutnya, Kepala Badan Litbang Kelautan dan Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Achmad Poernomo juga menyampaikan bahwa workshop ini diharapkan dapat menghasilkan solusi bagi penanganan rmasalah penyakit virus pada ikan dan udang yang terjadi sejak tahun 1990 an hingga sekarang. “Pusat Litbang Budidaya Ikan dan Udang, KKP, siap bekerjasama untuk bersinergi dalam mencari solusi mengatasi permasalahan penyakit tersebut,” ungkapnya.

Adapun sebagai pembicara dari CSIRO yaitu Andy Sheppard (Research Director CSIRO Biosecurity Flagship) dan Tim Doran (peneliti dari RNAi Technology, CSIRO) masing-masing memberikan presentasi Overview of CSIRO Biosecurity Flaship dan CSIRO’s Capability on RNAi Technology with Emphasis on the Development of Transgenic and AI-resistant Chicken. Selain itu pembicara dari Indonesia adalah Dr. Alimuddin dari IPB, Dr. Agus Sunarto (Pusat Penelitian Budidaya Ikan KKP/CSIRO) dan Dr. Irvan Faizal dari BPPT. Acara dipandu oleh Archie Slamet, Country Director CSIRO untuk Indonesia.

Pokok bahasan adalah tentang pengembangan teknologi RNAi untuk mengatasi masalah penyakit akibat virus di ikan dan udang. Dibanding dengan vaksin konvensional maka dengan aplikasi teknologi RNAi akan dapat diproduksi vaksin yang tidak saja memicu produksi zat imun humoral tapi juga selular (sel-T). Penerapan teknologi RNAi dilakukan juga untuk pengembangan pakan suplemen seperti recombinant growth hormone dan perbaikan genetik (genetic improvement) ikan dan udang untuk meningkatkan pertumbuhan dan pengembangan spesies yang resisten terhadap penyakit. Untuk BPPT, pengembangan teknologi RNAi akan merupakan terobosan melengkapi pengembangan vaksin DNA Streptococcus untuk Ikan Nila yang telah dilakukan sejak 2011.

Lebih dari 30 peserta terdiri dari insitusi pemerintah (BPPT, CSIRO, Kementerian Kelautan & Perikanan) dan Akademisi (IPB, UNDIP, UNIBRAW, UNPAD, Surya University) serta industri obat dan pakan ikan/swasta (Sanbe Farma, Behn Meyer, Charoen Pokphan, Japfa Comfeed, Asosiasi Pengolah Produk Perikanan dll) hadir pada workshop ini.

Acara secara resmi ditutup oleh Direktur PTPP RD. Esti Widjayanti, dengan ajakan untuk menindaklanjuti workshop ini melalui pelaksanaan kegiatan kemitraan diantara stokeholders terkait. (SYRA/Humas)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id