Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

BPPT Miliki Beras Analog, Menyehatkan Ketimbang Beras Plastik

Berbagai media massa menyebut beras plastik yang ditemukan di Bekasi mengandung polyvinyl chloride, suatu produk petrokimia yang bila dikonsumsi tidak dapat dicerna oleh sistem pencernaan dan menimbulkan reaksi penolakan dari dalam tubuh.

 

Menanggapi hal tersebut, Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB) menuturkan bahwa beras tersebut berbahaya, karena dalam jangka pendek menyebabkan keracunan dan dalam jangka panjang akan merusak organ-organ tubuh seperti ginjal dan organ pencernaan.

 

Fenomena munculnya beras plastik ini sangat disayangkan. Mengatasinya, BPPT mengembangkan beras tiruan atau beras analog, yang dibuat dari bahan baku lokal (bukan impor). "Beras ini berasal dari jagung, ubi kayu dan atau sagu sehingga dijamin aman bahkan mempunyai manfaat kesehatan seperti indeks glikemik  rendah," ungkap Listyani, dalam surelnya, (24/5).

 

Beras analog yang dikembangkan BPPT, tambahnya, disamping teknik proses produksinya juga dikembangkan atau peralatan produksinya. Diseminasi teknologi juga telah dilakukan melalui pelaku usaha (UKM) di beberapa daerah.

 

"Yang paling penting, beras analog ini menggunakan bahan  baku lokal, sehingga  mengurangi ketergantungan akan pangan impor, termasuk  impor beras," kata Listyani.

 

Sebagai informasi, sebelumnya media memberitakan hasil analisa PT Sucofindo bahwa selain mengandung polyvinyl chloride, beras plastik juga mengandung bahan bersifat plastisizer plastik seperti benzyl butyl phtalate (BBT), Bis 2-ethylhexyl phtalate (DEHP), dan diisononyl phtalate (DNIP). Ketiga bahan tersebut merupakan pelembut yang biasa digunakan bersamaan dengan polyvinyl chloride.

 

Listyani menjelaskan bahwa ketiga bahan tersebut digunakan untuk membuat (mencetak) beras yang mengandung senyawa polyvinyl chloride sehingga mirip seperti aslinya.  Bahan-bahan tersebut adalah jenis produk turunan dari hasil tambang minyak bumi atau produk petrokimia yang peruntukannya untuk pembuatan barang-barang plastik contohnya pipa, yang tentu saja sangat tidak layak dan berbahaya bila dikonsumsi.

 

Beras plastik, jelasnya lagi, dibuat dari pati atau tepung yang yang dicampur dengan bahan dan bahan pembantu dari produk petrokimia diperkirakan untuk mendapatkan harga yang murah. "Patut diduga bahwa motivasi produsennya adalah untuk meraup keuntungan semata. Kasus ini mengingatkan kita akan kasus susu yang mengandung melamin," tegasnya.

 

Diversifikasi Pangan, Wujudkan Ketahanan Pangan

 

BPPT melalui Kedeputian TAB dalam hal ketahanan pangan nasional menyoroti upaya penyediaan pangan pokok (beras) dari tahun ke tahun. Listyani menjelaskan bahwa ketersediaan lahan baku untuk produksi beras (padi) semakin tidak mampu memenuhi jumlah kebutuhan bahkan lahan tersebut semakin kurang karena lahan yang tadinya berfungsi untuk tanaman pangan, telah beralih fungsi menjadi pemukiman dan industri.

 

Tingkat konsumsi beras Indonesia sangat tinggi, lebih dari 100 kilogram per kapita per tahun jauh lebih tinggi dari rata-rata konsumsi beras dunia yang hanya 60 kilogram per kapita per tahun. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat akan manfaat konsumsi pangan beragam perlu ditumbuhkan.

 

Hal ini, jelasnya akan meningkatkan konsumsi dan juga produksi pangan berbahan lokal sehingga dapat mengurangi tingkat konsumsi beras dan juga pangan impor (gandum).

 

"Diversifikasi pangan kami lakukan melalui pengembangan teknologi pangan olahan berbahan baku lokal (bukan impor) yakni jagung, ubi kayu dan sagu. Bentuk produknya adalah mie, makaroni dan beras analog. Diseminasi teknologi telah dilakukan melalui pelaku usaha (UKM) di beberapa kabupaten di Jawa Tengah bekerjasama dengan Badan Ketahanan Pangan Daerah  Jawa Tengah.  Diseminasi ini akan diperluas lagi ke beberapa kabupaten di provinsi lainnya," ujarnya.

 

Program lainnya dalam rangka ketahanan pangan adalah peningkatan produksi pangan sumber protein hewani yaitu melalui pengembangan ikan nila unggul yang dapat dibudidayakan di perairan payau (tambak). Hal ini dilakukan guna memanfaatkan tambak-tambak idle dan diharapkan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

 

"Pengembangan ikan nila ini  juga diperluas dengan jenis  Ikan Nila yang dapat dibudidayakan di laut (marine TILAPIA) yang diharapkan akan dapat membantu mengatasi semakin menurunnya ketersediaan ikan laut seperti kakap," sambungnya.

 

Selain itu, dalam rangka mendukung peningkatan produksi daging juga dikembangkan peternakan sapi yang terintegrasi dengan perkebunan dan industri kelapa sawit.

 

Kendala dalam Diversifikasi Pangan

 

Saat ini, imbuh Listyani, produksi pangan olahan berbahan lokal masih terkendala harganya yang belum bisa murah seperti beras raskin karena skala produksinya masih kecil.

 

"Perlu dukungan pemegang kebijakan akan pengembangan pangan berbahan lokal, seperti memberikan kesempatan pangan berbahan lokal menggantikan raskin untuk daerah-daerah dengan potensi bahan pangan lokal. Atau pemberian subsidi bagi usaha pengembangan pangan berbahan lokal. Selain itu, masyarakat juga harus mulai belajar mengurangi konsumsi beras dan mengalihkannya dengan mengkonsumsi pangan non beras yang bahan bakunya diproduksi di dalam negeri (bukan impor)," katanya.

 

Negeri Indonesia sendiri sebenarnya kaya akan sagu. Luas lahan sagu sekitar 1,25 juta hektar dengan potensi produksi sagu lebih dari 12 juta ton. Banyak juga pangan olahan yang dapat dihasilkan dari sagu, seperti mie dan cemilan lainnya.

 

"Saya menghimbau untuk kita  mencintai produk pangan lokal seperti  sagu. Intinya, semua bentuk keberpihakan penuh pada pangan lokal merupakan sebuah keniscayaan. Slogan mencintai pangan lokal belum cukup, harus diikuti dengan mengkonsumsi dan menjadikannya menu harian tiap keluarga," tegasnya. (Humas)

 

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id