Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

BPPT - JICA Kerja Sama Dapatkan Dua Senyawa Kandidat Obat Anti Malaria dan Anti Amuba

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bersama Japan International Cooperation Agency (JICA) sepakat melakukan kerjasama pengkajian dan penerapan teknologi pengembangan senyawa obat anti malaria dan anti amuba. Ditargetkan dalam lima tahun kedepan program ini mendapatkan dua senyawa kandidat obat anti malaria dan anti amuba yang lolos uji pra klinis.


Menurut Kepala BPPT, Unggul Priyanto, Indonesia sebagai negara dengan pusat keanekaragaman biologi dan berpopulasi lebih dari 250 juta orang, Indonesia harus mampu mengelola dan memanfaatkan potensi yang ada setinggi-tingginya.



"Saya memahami bahwa menemukan obat baru untuk anti malaria dan anti amuba bukanlah pekerjaan mudah. Akan tetapi saya percaya bahwa tidak ada hal yang mustahil selama kita bekerjasama dan melakukan upaya terbaik kita," ucap Unggul dalam acara Joint Coordinating Committee Meeting The Project of Searching Lead Compounds for Antimalaria and Anti Amubic Agents by Utilizing Diversity of Indonesia Bio-resources ( SLeCAMA ), di Kantor BPPT, Jakarta, Selasa (02/06).


Sebagai informasi, kegiatan ini didukung oleh Pemerintah Jepang melalui Program Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (SATREPS). BPPT juga menggandeng mitra kerja dalam negeri, yakni Universitas Airlangga Surabaya dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) serta mitra dari Tsukuba University, Kitasato University, Tokyo University dan  Microbiopharm Japan Co Ltd.


Unggul berharap, bersama dengan mitra dari Indonesia dan Jepang, hasil yang diinginkan dapat dicapai. "BPPT mendorong riset pengembangan obat untuk penyakit khas Indonesia. Ini semua dalam rangka meningkatkan kemandirian nasional dibidang bahan baku obat," tegas Unggul.


Sementara itu, terkait fenomena wabah Virus Zika, Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi, Eniya L. Dewi menanggapi bahwa virus Zika yang mewabah di Amerika Latin belum jelas identifikasinya di Indonesia.


"Virus Zika kan baru saja muncul, namun belum jelas juga apakah memang dari nyamuk dan bagaimana antisipasinya dan sebagainya," ungkapnya di sela-sela acara The Joint Coordinating Committee (JCC) for the SATREPS Project by Utilizing Diversity of Indonesia Bio-resources (SLeCAMA)


Sampai saat ini, dirinya berpendapat bahwa Virus Zika masih sama seperti dengan gejala-gejala penyakit malaria dan DBD.


"Kami masih menyatakan itu seperti dengan malaria dan DBD, karena gejalanya sangat mirip, salah satunya demam. Karena identifikasinya belum jelas, untuk saat ini di Indonesia malaria masih berbahaya," pungkas Eniya. (Humas/HMP)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id