Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

PERCEPAT Pertumbuhan Jati, BPPT Gelar Pelatihan Teknologi ex Vitro Pengembangan Bibit Jati di Kabupaten Bojonegoro

 

Bojonegoro, (21/1) - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dengan dukungan DPR Komisi VII, berkomitmen untuk terus melakukan inovasi dan layanan teknologi untuk masyarakat, satu diantaranya memberikan pelatihan teknologi penyediaan bibit jati unggul di masyarakat dengan teknik ex Vitro untuk bibit jati yang cepat, murah dan mudah kepada penangkar bibit jati di Bojonegoro ini. 

 

Deputi BPPT Bidang Pengkajian Kebijakan Teknologi, Gatot Dwianto saat membuka pelatihan mengatakan bahwa  Jati memberikan manfaat yang besar bagi income pendapatan negara. "Kayu Jati yang dihasilkan dari daerah hutan di Bojonegoro merupakan salah satu kayu jati terbaik di Indonesia," ujarnya.

 

 

Diungkap Gatot lebih lanjut BPPT melalui Balai Bioteknologi, menggelar pelatihan ini sebagai solusi atas permasalahan pengembangan produksi bibit jati secara umum di Indonesia. Dari hasil analisis BPPT terangnya, jati memiliki pertumbuhan lambat. Untuk itu BPPT hadirkan Teknologi kultur ex vitro.

 

"Metode ini merupakan teknologi perbanyakan tanaman yang didasari teknologi teknologi penyediaan bibit jati unggul di masyarakat dengan teknik ex Vitro. Intinya, perawatan dan adaptasi untuk menghasilkan bibit tanaman yang siap tanam di lapang. Selain itu bibit jati hasil rekayasa secara ex vitro ini juga lebih cepat besar, kalau biasanya butuh waktu 10-20 tahun untuk mencapai diameter 20-25 cm.  Dengan ex vitro tanaman jati hanya membutuhkan waktu 5-6 tahun untuk mencapai diameter yang sama," terang Gatot.

 

Selama ini lanjutnya, jati diproduksi secara konvensional menggunakan biji. Hal ini sebut Gatot mengakibatkan rendahnya produktivitas penangkar bibit jati di Bojonegoro, karena teknologi perbenihan belum dikuasai.

 

Mengamini uraian Gatot, Wakil Ketua KOMISI VII DPR RI, Satya Widya Yudha menyampaikan, sejak tahun 1999, pengrajin kayu jati mengalami kesulitan dalam memperoleh bahan baku kayu jati. 

 

"Sulitnya memperoleh bahan baku inilah yang menyebabkan harga kayu jati menjadi maha. Sehingga tidak cukup untuk memenuhi permintaan atas kayu jati," tuturnya.

 

Padahal kata Satya, kayu jati yang dihasilkan Bojonegoro memiliki kualitas unggul. 

 

"Kayu jati asli Bojonegoro berwarna merah bata, seratnya rata, kering, padat dan kuat sehingga kerajinan mebel dan ukiran kayu jati asal Bojonegoro sangat terkenal. Untuk itu dibutuhkan ketersediaan sumber kayu jati yang berkelanjutan, serta bibit terbaik yang cepat masa tumbuhnya," tegas Satya Yudha.

 

Melanjutkan pernyataan Wakil Ketua Komisi VII DPR RI, Direktur Pusat Teknologi Produksi Pertanian BPPT, Arief Arianto yang mewakili Deputi Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi, menyebut bahwa BPPT melalui rekayasa teknologi terus berupaya untuk menyediakan bibit unggul, serta mempercepat masa tumbuh Jati.

 

"Untuk meningkatkan adopsi teknologi dan pengetahuan penangkar bibit tentang perbanyakan bibit jati secara ex vitro, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada tanggal 21 Januari 2017 ini melaksanakan pelatihan Teknologi Ex Vitro untuk Pengembangan Bibit Jati di Bojonegoro,” urai Arief.

 

Pada pelatihan kali ini rinci Arief, peserta akan mendapatkan pembekalan dari para narasumber berupa materi perbanyakan bibit secara ex vitro dan melakukan praktek perbanyakan bibit jati secara kultur ex vitro. 

 

Sebagai informasi, tahapan yang dilakukan dalam kultur ex vitro sama dengan tahapan kultur in vitro, yaitu: pemilihan tanaman induk yang berkualitas dan bebas hama penyakit, pencucian dengan bahan surfaktan untuk menghilangkan kontaminan yang menempel dan membuka pori-pori sel, sterilisasi dengan bahan aktif yang mampu membunuh jamur dan bakteri, inkubasi dalam media tanam dalam ruang inkubator pada suhu dan kelembaban terkontrol, aklimatisasi, adaptasi serta perawatan untuk menghasilkan bibit tanaman yang siap tanam. 

 

Kayu jati sendiri merupakan salah satu jenis kayu potensial yang mendapat prioritas untuk dikembangkan di Indonesia.   Kelebihan dibandingkan kayu yang lain, kayu jati awet dan tidak mudah diserang rayap, kayu jati juga merupakan kayu yang serba guna untuk mebelair dan furniture yang berkelas serta mempunyai tekstur yang unik.  Untuk keperluan pasar ekspor, kayu jati direkomendasikan sebagai bahan pembuatan dek kapal dan konstruksi pada kapal, juga merupakan kayu yang sangat baik untuk pembuatan jembatan dan konstruksi lain yang berhubungan langsung dengan air. (BPPT)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id