Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

Ini Dia Solusi Agar Tanaman Cabai Tidak Rusak oleh Hama

 

 

Harga cabai yang terus meroket disebut Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), membutuhkan solusi teknologi. Dikatakan Direktur Pusat Teknologi Produksi Pertanian, Arief Arianto, Ulat Grayak (Spodoptera litura) dan Cendawan colletotrichum adalah penyebab utama tanaman cabai banyak yang mati atau gagal di panen.

 

 

Menurut Arief mata rantai perkembangbiakan hama penyakit, atau biasa disebut siklus hidup hama atau penyakit, harus diputus. “Pola tanam petani cabai seharusnya diubah. Lahan pertanian sebaiknya tidak langsung ditanami lagi setelah panen terakhir, sampai ditumbuhi rerumputan, sehingga bisa memutus mata rantai perkembangbiakan hama dan penyakit,” ungkap Arief di Jakarta, (13/02).

 

 

 

Disebut Arief, Ulat Grayak menyukai dan bergerak aktif pada kondisi lingkungan yang teduh seperti saat mendung dan tidak disinari matahari. Cara mengendalikan ulat yang senang memakan daun tanaman hingga habis itu, menurut dia, dilakukan secara manual, diambili di malam hari pada saat ulat keluar, kemudian dimusnahkan. 

 


"Atau cara lainnya dengan menggunakan insektisida dan disemprotkan pada malam hari. Yang aman adalah insektisida organik misalnya yang dibuat dari perasan daun dan batang tanaman tembakau atau dari bji tembelekan," ujarnya.

 


Namun hama ulat ini dapat dicegah dengan cara praktis, yakni sebelum menanam cabai, tanah diolah dulu secara sempurna dan bedengan (bidang tanah yang digunakan untuk perkecambahan biji di persemaian) dibolak-balik agar sisa ulat dan pupa (ulat dalam kepompong) benar-benar mati.



Selain itu, dilakukan pembersihan gulma (tumbuhan pengganggu semacam rumput) yang ada di bedengan dan parit yang menjadi tempat berlindung ulat dan disiangi hingga bersih untuk menghilangkan populasi ulat.

 


Antisipasi Cendawan

 

Arief kemudian menuturkan bahwa sejumlah daerah sentra cabai yang terserang penyakit patek (antraknosa), disebabkan oleh cendawan Colletrotichum sp yang dipicu oleh situasi lingkungan lembap dengan suhu udara 29-32 derajat Celcius. Saat musim hujan lanjutnya, serangan penyakit justru lebih dominan dibandingkan hama.



Gejala jamur patek diketahui dengan munculnya bercak-bercak hitam pada cabai yang segera menjadi busuk kering dan menghitam, lalu merembet hingga tangkai buahnya pun rontok. 



"Serangan penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan parah hingga sebesar 80-90 persen dari tanaman cabai. Kondisi lingkungan tersebut biasa terjadi pada musim hujan seperti sekarang ini," katanya.

 


Cara praktis pencegahannya adalah mengurangi kelembapan di sekitar tanaman cabai dengan memberikan ruang bagi air dan udara untuk mengalir seperti dengan menyiangi gulma, karena gulma dalam jumlah besar akan menyebabkan aliran air terhambat dan kelembapan meningkat.



Cara lainnya adalah menjaga jarak antar-tanaman, karena jarak tanaman yang rapat membuat kondisi lingkungan semakin lembap. Selain itu ujarnya, perbaiki galengan (lahan pembatas) agar aliran air untuk drainasenya menjadi lancar, juga melakukan perempelan (pemotongan tunas samping) agar dapat memperbaiki iklim mikro tanaman menjadi lebih kering sekaligus memberi manfaat merangsang pembuahan cabai.

 

Cara berikutnya, pemupukan dengan memberikan pupuk K (Kalium) dan ditambah Ca (Kalsium) unsur utama penyusun dinding sel tanaman, untuk penguatan buah dan daun. Kelebihan Nitrogen membuat tanaman rentan terserang penyakit. 

 

Namun kata Arief, jika tanaman sudah terserang, harus segera dipetik tanaman cabai tersebut lalu segera dibakar habis di luar lokasi budidaya agar spora-nya tidak tersebar kemana-mana. 

 

“Juga semprotkan tanaman yang masih sehat dengan fungisida dalam takaran yang tepat, tidak berlebihan karena residunya membahayakan lingkungan”, imbuhnya. 

 

Untuk mengatasi penyakit ini, petani sangat dianjurkan hanya menggunakan benih cabai yang telah teruji kualitasnya dan tahan terhadap patek, namun jika menggunakan benih dari tanaman sendiri, gunakan yang sehat, bukan yang terinfeksi, karena penyakit ini bisa menyerang sejak masih berupa biji.

 

Petani cabai khususnya sebut Arief memang perlu memiliki pengetahuan tentang bagaimana mengantisipasi dan menanggulangi tanaman dari kerusakan.  “Solusi lain, untuk memutus siklus hidup hama atau penyakit pada tanaman cabai bisa dilakukan dengan melakukan rotasi tanaman  yang bukan inang dari hama atau penyakit tanaman cabai. Misalnya dengan tanaman jagung atau kacang-kacangan," tutup Arief. (Humas/HMP)

 

 

Editor: SP

 

 

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id