Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

DUKUNG PENGGUNAAN OBAT HERBAL DALAM PELAYANAN KESEHATAN FORMAL

Dengan jumlah penduduk sebanyak 230 juta jiwa, menurut data World Health Organization (WHO), Indonesia menduduki peringkat keempat penderita Diabetes Mellitus (DM) setelah China, India dan Amerika. Untuk memecahkan persoalan semacam ini, maka beberapa usaha harus dilakukan guna mencegah resiko kematian akibat kasus DM diantaranya yaitu melalui penggunaan obat herbal. Namun demikian, penggunaan obat herbal belum meluas di kalangan masyarakat.

Dibutuhkan usaha yang melibatkan pemangku kepentingan untuk mempromosikan obat herbal nasional. Berkaitan dengan hal itu, Pusat Teknologi Farmasi dan Medika (PTFM) BPPT mengadakan International Conference and Talkshow On Medical Plant di Auditorium BPPT, Selasa (19/10).

International Conference yang merupakan hasil kerjasama antara BPPT, Kelompok Kerja Nasional-Tanaman Obat Indonesia (Pokjanas-TOI), Persatuan Dokter Herbal Medik Indonesia (PDHMI) dan Deutscher Akademischer Austauch Dienst (DAAD) ini merupakan agenda rutin yang selalu digelar dua kali dalam setahun. Melalui Konferensi ini diharapkan dapat menyampaikan hasil penelitian tentang tanaman obat dari hulu ke hilir sebagai usaha untuk mengembangkan obat herbal menjadi produk yang siap digunakan dalam pelayanan kesehatan formal. Tidak hanya membahas obat herbal untuk DM, konferensi ini juga akan membahas mengenai tanaman obat mahoni dan keji beling, kata Direktur PTFM, Rifatul Widjhati dalam laporannya.

Dalam sambutannya, Kepala BPPT Marzan A Iskandar mengatakan bahwa BPPT sangat mendukung pengembangan obat herbal sebagai salah satu program BPPT dalam bidang kesehatan dan obat-obatan. Selain itu, BPPT juga mempunyai fokus program dalam bidang lainnya seperti energi, teknologi informasi dan komunikasi, teknologi lingkungan dan kebumian serta teknologi manufaktur. Pengembangan obat herbal merupakan langkah strategis bagi negara berkembang seperti Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati kedua terbesar di dunia. Yang perlu dilakukan adalah meningkatkan capacity building dalam bidang obat herbal dari hulu ke hilir.

Misi utama kita adalah untuk meningkatkan added value dari bioresources Indonesia. Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dasar fundamental dalam pengembangan industri obat herbal nasional. Tentunya diperlukan dukungan dari berbagai pihak tidak hanya pemerintah, tapi juga akademisi dan industri untuk bekerjasama mengembangkan produk obat herbal nasional. BPPT sebagai lembaga intermediasi, berperan menjembatani antara riset dan industri dalam kerangka Sistem Inovasi Nasional untuk mendorong obat herbal sebagai obat-obatan yang semakin dikenal dan lebih dimanfaatkan di masyarakat. Saya harap industri obat herbal nasional nantinya tidak hanya merajai pasar dalam negeri tetapi juga menjadi tamu kehormatan di negara lain, jelas Kepala BPPT.

Pada kesempatan yang sama, Sekjen POKJANAS TOI Indah Yuning Prapti menilai dengan adanya konferensi internasional tersebut dapat menjadi ajang sharing dan transfer ilmu pengetahuan diantara stakeholder obat herbal dalam negeri maupun luar negeri. Untuk menjadikan jamu sebagai tuan rumah di negara sendiri dan bergengsi di negara luar, dapat dilakukan melalui dua cara yaitu saintifikasi jamu dan kesinambungan bahan baku jamu.

Saintifikasi Jamu merupakan upaya dan proses pembuktian ilmiah jamu melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan. Tujuan adalah untuk memberikan landasan ilmiah (evidence based) penggunaan jamu secara empiris melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan oleh dokter untuk meningkatkan penyediaan jamu yang aman, memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah, dan dimanfaatkan secara luas baik untuk pengobatan sendiri maupun dalam fasilitas pelayanan kesehatan. Ruang lingkup saintifikasi jamu meliputi upaya preventif, promotif, rehabilitatif dan paliatif, jelas Hardhi Pranata, Ketua Umum PDHMI.

International Conference and Talkshow On Medical Plant yang bertema Penggunaan Obat Herbal untuk Penanganan DM Secara Aman, Efektif dan Berkualitas tersebut akan berlangsung selama tiga hari hingga 21 Oktober 2010 mendatang, terdiri dari lima plennary session dengan 15 pembicara dari berbagai instansi dalam dan luar negeri. Selain seminar, konferensi ini juga meliputi talkshow dengan tema Pemanfaatan Obat Herbal untuk Penanganan DM, pameran dan diskusi para pakar terkait rantai pasokan bahan baku industri jamu. (YRA/humas)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id