Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

IRONI: Terowongan Layang Bawah Laut Inovasi Anak Bangsa Belum Diaplikasikan

Belum diaplikasikannya Submerge Floating Tunnel (SFT) atau terowongan layang bawah air di Indonesia masih terkendala oleh banyak faktor. Disamping faktor pembiayaan, faktor kepercayaan publik untuk menerapkan SFT juga menjadi kendala tersendiri.

Padahal, Pusat Teknologi Industri dan Sistem Transportasi (PTIST) BPPT sudah melakukan serangkaian uji coba untuk mengetahui nilai ekonomis dan kekuatan dari terowongan layang bawah air. Dan, hasilnya sangat memuaskan. Sedangkan untuk faktor pembiayaan, menurut hitungan pembangunan SFT memakan biaya yang hampir sama dengan pembangunan jembatan. Bahkan untuk bentangan yang lebar, SFT diyakini akan jauh lebih ekonomis.

Bambang Rumanto, Perekayasa Bidang Transportasi BPPT mengatakan bahwa terowongan layang bawah air sudah diujicobakan di laboratorium BPPT. Di antaranya diujicobakan di laboratorium Balai Pengkajian dan Penelitian Hidrodinamika (BPPH) Surabaya, untuk menguji kestabilan fisik dari tunnel dan uji scoring di Balai Pengkajian Dinamika Pantai (BPDP) Yogyakarta untuk melihat sejauh mana kerusakan di dasar laut setelah tunnel (terowongan) terpasang.

"SFT juga telah diuji struktur di Balai Besar Teknologi Kekuatan Struktur ( B2TKS) untuk melihat bentuk terbaik dari tunnel. Pada awalnya tunnel berbentuk oval, tapi setelah diuji coba maka tunnel yang berbentuk lingkaran lebih stabil dan tidak tenggelam," kata Bambang saat di wawancarai di Gedung Teknologi 2, Puspiptek Serpong, (27/8).

SFT mempunyai kelebihan dan keunggulan dibandingkan dengan jembatan inmerge dan tunnel underground. Dari segi volume pengerjaan, SFT tidak memiliki volume terlalu banyak karena tidak perlu membuat tiang-tiang pemancang seperti pada jembatan inmerge. Tentunya hal tersebut akan sangat mempengaruhi pada cost yang harus dikeluarkan. Terlebih lagi, rancangan SFT ini sangat ramah lingkungan dan dijamin tidak akan merusak terumbu karang.

PTIST BPPT bersama mitra industri telah melakukan analisa numerik dan uji coba teknis lain. Berbicara tentang faktor keamanan dan efek lain yang ditimbulkan‚ faktor safety adalah poin utama dalam SFT. Bahkan, tim juga sudah memperhitungkan segala kemungkinan yang akan terjadi, termasuk resiko gempa yang berpotensi tsunami.

"Dari apa yang kami pelajari, tsunami itu terjadi pada ketinggian tertentu, sementara pada ketinggian lainnya aman. Dampak tsunami sangat terasa di atas permukaan air. Sedangkan di dalam air, semakin dalam maka kekuatan tsunami semakin kecil," jelas Bambang.

Memang, pemakaian SFT di daerah rawan gempa belum teruji, karena baru dikerjakan dalam skala laboratorium. Beda dengan jembatan yang sudah teruji kekuatannya, ada beberapa jembatan yang tidak hancur walau terkena gempa.

"Namun, bagaimana bisa diketahui nilai ekonomis dan kekuatan dari SFT apabila tidak diberikan kesempatan untuk diaplikasikan. Sekarang, kesempatan terbaik untuk menguji adalah membangun SFT yang menghubungkan antara Pulau Karya dan Pulau Panggang di wilayah Kepulauan Seribu. Dengan dibangunnya SFT, penyempurnaan-penyempurnaan desain dan material akan dapat dilakukan secara nyata, bukan hanya pada lab saja," harap Bambang. (tw/SYRA/Humas)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id