Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

SINERGI UNTUK KEMANDIRIAN INDUSTRI PIPA APUNG NASIONAL

Dalam upaya meningkatkan kemandirian dan daya saing industri nasional dengan memanfaatkan sumber daya lokal, BPPT bekerjasama dengan PT Inkaba Bandung memproduksi pipa apung guna memenuhi kebutuhan dalam negeri. Pipa apung yang dihasilkan tersebut merupakan suatu capaian dan kesiapan teknologi untuk memenuhi industri pertambangan dan perminyakan di dalam negeri, ungkap Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa (TIRBR), Iskendar pada acara Focus Group Discussion (FGD) Pemanfaatan Kemampuan Industri Hilir Pipa Apung Untuk Mendukung Kemandirian Industri Pertambangan dan Perminyakan Nasional di BPPT (24/11).

 Iskendar menyampaikan bahwa peluang pasar untuk produksi pipa apung ini sangat menjanjikan. Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya angka perdagangan luar negeri  untuk pengadaan struktur pipa apung setiap tahunnya. Oleh karena itu untuk pengadaan struktur pipa apung dalam peningkatan daya saing industri nasional harus dilihat dari berbagai aspek, tegasnya.

Diharapkan melalui diskusi ini dapat menghasilkan komitmen untuk dapat memproduksi pipa apung ini di dalam negeri terutama untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Selain itu dengan menerapkan kerangka sistem inovasi dalam pelaksanaannya, dengan sinergi dari berbagai aktor didalamnya, maka ke depannya diharapkna kita bisa berkomitmen bersama-sama untuk mewujudkan pemanfaatan produk dalam negeri. Sehingga industri kita pun dapat bersaing dengan industri global, dan BPPT berkomitmen untuk mewujudkan hal tersebut, jelas Iskendar lebih lanjut.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Pusat Teknologi Industri Proses (PTIP) BPPT, Danny Gandana mengatakan sejak tahun 2006 PTIP mendapatkan kepercayaan untuk melakukan perekayasaan pipa apung bersama  PT Inkaba Bandung, dan telah mendapatkan disain teknologi  pipa apung yang optimal. Hasil ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing industri nasional dan mencapai kemandirian teknologi pada pipa apung. Sasaran ke depan adalah meningkatkan teknologi manufaktur bagi industri pipa apung dan komponennya serta meningkatkan kemampuan pengembangan produk pipa apung dalam negeri, ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Mahendra Anggaravidya dari BPPT dalam paparannya mengenai pengembangan teknologi manufaktur pipa apung untuk transportasi fluida mengatakan bahwa pipa apung adalah salah satu produk karet teknik yang memiliki spesifikasi khusus. Dalam penggunaanya, pipa apung tersebut harus mampu menahan beban kerja akibat tekanan pompa, ketahanan terhadap lingkungan air laut, ketahanan terhadap material yang dialirkan dan memiliki berat jenis lebih rendah dari pada air laut sehingga dapat mengapung.

Dilihat dari sisi penggunaanya pipa apung digunakan sebagai suction maupun discharge. Oleh sebab itu dalam perancangan pipa apung ada beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti kemampuan untuk mengalirkan material kerja, bagian dalam harus tahan terhadap material kerja (pasir/minyak), kemampuan menahan tekanan kerja agar tetap mengambang selama mengalirkan material kerja serta bagian luar harus tahan terhadap kondisi lingkungan sekitar seperti air laut, panas matahari dan ozon, paparnya lebih lanjut.

Hadir pula dalam FGD antara lain Pandu Dewanto, Direktur Utama PT Agronesia, Soerjaningsih, Kepala Subdit Pengembangan Investasi Migas Kementerian ESDM, Amir Partowiyatmo  LSPRO BPPT serta Yansa Sasana Dharma dari PT Tugu Pratama Indonesia. (KYRAS/humas) 

 

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id