Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

BPPT: Tahun 2030-an Energi Di Ambang Batas (III)

Permasalahan energi baik untuk sektor transportasi maupun sektor industri selalu menjadi perhatian publik. Hal tersebut dikarenakan adanya skema penerapan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) yang dijalankan kurang tepat. Walaupun harga BBM bersubsidi sudah dinaikan, namun karena konsumsi BBM juga meningkat maka jumlah subsidi yang dikeluarkan pemerintah cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya.

 

Peluncuran Buku Outlook Energi Indonesia (OEI) 2014, adalah cara BPPT memberikan gambaran pengembangan energi Indonesia kedepan sekaligus cara mengantisipasi kebutuhan energi dalam rangka mencapai target perumbuhan ekonomi Indonesia, terutama pengembangan energi yang mendukung program subsidi BBM. Keterbatasan sumber daya energi menyebabkan pada tahun 2033 total produksi energi dalam negeri dari fosil dan energi terbarukan sudah tidak mampu lagi memenuhi konsumsi domestik. 

 

"Dikhawatirkan, keterbatasan sumber daya energi  tersebut mengakibatkan pada tahun 2033 Indonesia akan menjadi negara importir energi,”  ungkap Kepala BPPT, Unggul Priyanto, di sela-sela peluncuran buku OEI 2014, di Gedung BPPT, Jakarta (30/9).

 

Proyeksi dan Solusi

 

Dikatakan Kepala BPPT, saat ini, subsidi BBM yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam APBN-P sudah mencapai Rp 246,5 Triliun dengan harga premium Rp 6500 per liter. Menurut proyeksi dalam Buku OEI 2014, misalkan harga premium dinaikan hingga Rp 9500 per liter pun pemerintah tetap harus mengeluarkan subsidi untuk BBM sebesar Rp 118 Triliun.

 

Karenanya, pemerintah harus mendorong penemuan dan pemanfaatan cadangan energi seperti energi baru terbarukan (EBT). Sebagaimana disebutkan dalam PerPres RI No 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional yang mentargetkan terwujudkan energi (primer) mix yang optimal pada tahun 2025, yaitu peranan masing-masing jenis energi terhadap konsumsi energi nasional. Diproyeksikan pada tahun 2025 peranan EBT akan terus naik menggantikan peranan minyak bumi hingga 15 persen.

 

Disisi lain, terkait dengan penggunaan batubara yang saat ini menjadi bahan baku utama energi dengan cadangan batubara ditahun 2012 sebesar 28,97 miliar ton, diproyeksikan akan habis secara keseluruhan di tahun 2034 (berdasarkan data historis 2000-2012 meningkat 12%/tahun). Untuk itu, OEI 2014 memproyeksikan BBM sintetis dari batubara (CTL) dipertimbangkan mulai berproduksi pada tahun 2030.

 

OEI 2014 jugasecara tegas menyebutkan bahwa Indonesia harus segera memberdayakan bahan bakar terbarukan untuk mendukung terwujudnya ketahanan energi. "Demi kontinuitas penyediaan bahan bakar ramah lingkungan dan mendukung pembangunan nasional berkelanjutan, Indonesia harus dan tidak boleh gagal dalam membangun sistem industri bahan bakar altenatif nasional," tegas Kepala BPPT.

 

Menurutnya, Indonesia akan mengalami net impor BBM dan net impor gas ditahun 2023. Untuk itu, pemberdayaan Bahan Bakar Nabati (BBN) sebagai substitusi BBM khususnya di sektor transportasi, perlu segera dilakukan. "Tahun 2012, pemberdayaan BBN di sektor transportasi baru sebesar 421 juta barel. Di proyeksikan di tahun 2035, pemberdayaan BBN untuk sektor transportasi harus sudah mencapai 1745 juta barel," terang Kepala BPPT.

 

Indonesia yang sudah memasuki "era lampu kuning" dalam oenyediaan energi (BBM), menurut Unggul, perlu dengan segera menyiapkan langkah-langkah strategis yang mendukung ketahanan energi.

 

Dalam jangka pendek, pemerintah perlu mengurangi subsisdi BBM dengan melakukan diversifikasi bahan bakar seperti konversi BBM ke BBG, Biofuel dan EBT. Sedangkan jangka panjangnya adalah dengan mengembangkan perkebunan energi terpadu untuk penyediaan bahan bakar berkelanjutan, sekaligus berpeluang memberdayakan dan mensejahterakan masyarakat ke dalam proses bisnis perkebunan dan bahan bakar.

 

"Peranan teknologi berbasis batubara, EBT dan gas akan semakin penting di masa mendatang. Tanpa adanya inovasi teknologi, potensi energi yang ada seperti biomassa, tidak akan bisa langsung dimanfaatkan dan termanfaatkan secara maksimal," tutup Kepala BPPT. (tw/SYRA/Humas)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id