Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

BPPT Luncurkan Outlook Energi Indonesia, Jaga Konsumsi Energi

 

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) kembali meluncurkan Buku Outlook Energi 2015. Dari Buku OEI ini ditunjukkan bahwa total produksi energi dalam negeri (fosil dan EBT) pada tahun 2031, jika melihat pola konsumsi energi saat ini,  sudah tidak mampu lagi memenuhi konsumsi domestik sehingga Indonesia akan menjadi negara “net importir energi”. Selain itu, Indonesia akan menjadi negara “net importir gas” pada tahun 2026.

 

 

Ketergantungan impor energi yang tinggi, diungkapkan Kepala BPPT, Dr. Unggul Priyanto, dapat membahayakan ketahanan energi nasional. “Oleh karena itu, upaya-upaya diversifikasi energi, pembangunan infrastruktur energi termasuk kilang, maupun investasi untuk eksplorasi dan eksploitasi mutlak diperlukan. Selain itu, kebijakan ekspor gas dan batubara perlu ditinjau ulang dalam rangka mengamankan pasokan energi domestik di kemudian hari,” tegasnya pada awak media disela peluncuran buku Outlook Energi 2015 bertema Pengembangan Energi untuk Mendukung Pembangunan Berkelanjutan di Gedung BPPT, Jakarta, (3/11)

 

Dalam proyeksi energi di masa mendatang pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) perlu digenjot dan energi fosil harus ditekan karena cadangannya semakin menipis. Kepala BPPT Unggul Priyanto mengatakan launching outlook  energi ini untuk memotret kondisi energi di negara ini. Melalui outlook energi ini diharapkan menjadi masukan buat pemerintah di bidang energi. "Energi mempunyai peran penting dalam mendukung pembangunan nasional yang berkelanjutan," katanya.

 

Unggul menambahkan untuk mencapai hal tersebut diperlukan upaya agar Indonesia terlepas dari perangkap negara berpendapatan menengah atau middle income trap dan untuk mitigasi gas rumah kaca melalui pemanfaatan energi terbarukan dan penggunaan teknologi efisien.

 

Menurut World Bank batas antara negara berpenghasilan menengah dan tinggi adalah US$ 12,616 per kapita. Masalah mitigasi gas rumah kaca adalah bagaimana memanfaatkan energi terbarukan dan teknologi efisien yang tidak berdampak terhadap peningkatan biaya energi.

 

Dalam proyeksi outlook energi BPPT diungkap total penyediaan energi primer untuk memenuhi kebutuhan energi skenario pembangunan berkelanjutan meningkat 8 kali lipat dengan laju pertumbuhan rata-rata 5,7 persen dari 1179 juta setara barel minyak (SBM) pada 2013 menjadi 9.281 juta SBM pada 2050. "Pada tahun 2050, bauran energi primer tahun tersebut didominasi oleh batubara (45,5 persen), disusul minyak bumi/BBM 27,7 persen, gas bumi 15,1 persen dan EBT 11,7 persen," ucapnya.

 

Melihat proyeksi itu total produksi energi dalam negeri (fosil dan EBT) pada tahun 2031 sudah tidak mampu lagi memenuhi konsumsi domestik. Diperkirakan Indonesia akan menjadi negara net importir energi.

 

 

Selain itu, Indonesia akan menjadi negara net importir gas tahun 2026. Ketergantungan impor energi yang tinggi dapat membahayakan ketahanan energi nasional. Upaya-upaya diversifikasi energi, pembangunan infrastruktur energi termasuk kilang, maupun investasi untuk eksplorasi dan eksploitasi mutlak diperlukan. Untuk itu, lanjutnya, kebijakan impor gas dan batubara perlu ditinjau ulang dalam rangka mengamankan pasokan energi domestik di kemudian hari. (Humas)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id