Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

Cegah Laka Kapal Laut BPPT Kembangkan Teknologi Navigasi Buatan Indonesia

bppt.go.id - Peristiwa karamnya kapal laut harus menjadi pelecut, agar musibah serupa tak terulang. Untuk itu Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi berupaya mengembangkan teknologi navigasi modern dengan harga yang efisien. Teknologi navigasi pelayaran saat ini, diungkap Direktur Pusat Teknologi Elektronika (PTE-BPPT), Yudi Purwantoro, harganya terbilang tinggi. Padahal ketika kapal ada di tengah lautan dan mengalami musibah, sangat penting untuk mengetahui posisi kapal dengan akurat agar bantuan penyelamatan bisa dilakukan sesegera mungkin.

 

"Teknologi navigasi sangat berperan dalam meminimalisir dampak maupun terjadinya kondisi bahaya yang dialami kapal laut. Masalahnya teknologi tersebut harganya mahal, sehingga banyak kapal kecil atau kapal lama yang tidak menggunakannya, dan ini jumlahnya lebih banyak," paparnya melalui pesan instan, Jakarta, (05/03).

 

Saat ini, jelas Yudi,  BPPT sedang mengembangkan teknologi navigasi laut yang lebih murah sehingga dapat dijangkau dan lebih ekonomis bagi kapal-kapal kecil maupun kapal lama. Dengan teknologi ini kapal dapat diketahui posisinya dan identitasnya sehingga dapat dipantau dan dipandu dalam pelayaran.

 

"Penting untuk menghindari area yang berbahaya, berkarang, maupun potensi tabrakan dengan kapal lain," tegasnya.

 

Selain itu kata Yudi, bagi kapal nelayan, teknologi navigasi dapat memberi panduan koordinat bagi nelayan untuk  menuju ke area yang banyak ikannya. Kemudian, sambungnya, teknologi ini juga dapat digunakan seperti mercusuar di tengah laut dengan dipasang pada Buoy di area yang berkarang, atau menjadi pagar "maya" bagi batas terluar wilayah Indonesia yang mengidentifikasi kapal-kapal yang masuk wilayah perairan Indonesia tapi tidak melaporkan identitasnya.

 

Lebih lanjut dijelaskan  Perekayasa PTE BPPT, Ahmad dan Wira bahwa teknologi ini berbasis Automatic Identification System (AIS), yang mengintegrasikan fungsi pemancar (transmitter), penerima (receiver), interogasi (interogrator), dan penentu lokasi berbasis satelit (GPS), kedalam sebuah bentuk alat yang berukuran kecil.

 

Pada alat tersebut tambahnya, bisa juga diintegrasikan sebuah layar kecil untuk menampilkan informasi navigasi yang berguna bagi ABK dalam mencapai keselamatan pelayaran. " Jadi alat ini berpotensi membantu dunia pelayaran, perikanan dan keamanan wilayah Indonesia," kata mereka.

 

Sebagai informasi  kemudian Yudi menyebut, dalam pelayaran atau tranportasi laut bisa menghadapi kondisi bahaya yang disebabkan empat sebab:

 

1) Cuaca atau kondisi alam yang ekstrim, misalnya badai, gelombang besar, kabut yang sangat tebal yang hampir menutup pandangan sama sekali;

2) Tabrakan antar kapal, di tengah laut maupun disekitar pelabuhan;

3) Menabrak rintangan alam, seperti karang;

4) Kerusakan pada kapal, seperti kebocoran.

 

"Menjadi kebutuhan yang sangat krusial bagi keselamatan kapal adalah menghindarkan diri dari kondisi bahaya tersebut. Disinilah peranan teknologi navigasi sangat berperan dalam meminimalisir dampak maupun terjadinya kondisi bahaya tersebut," lugasnya. (Humas/HMP)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id