Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

Seputar Pemalsuan KTP-el, Ini Dia Tanggapan BPPT

Maraknya Isu tentang Kartu Tanda Penduduk elektronik (KTP-el) palsu, tengah ramai diwartakan berbagai media. Hal ini ditanggapi oleh Deputi BPPT Bidang Teknologi Informasi Energi dan Material, Hammam Riza yang menyebut bahwa  KTP-el adalah bagian penting dari keamanan digital atau digital security. Menurut Hammam KTP-el  sudah mengedepankan dua faktor otentikasi, yakni 'who you are' dan 'what you have'.

 

“Who you are adalah benar bahwa identitas seseorang itu tunggal. Lalu what you have ini merupakan data otentik yang dimiliki oleh seseorang. Dan KTP-el, hampir tidak ada peluang untuk dipalsukan,” tegas Hammam.

 

Secara teknis, lanjut Hammam, memalsukan KTP-el itu dapat dikatakan hampir mustahil. KTP-el itu rinci Hammam terdiri atas blangko (kartunya) dan chip (yg tidak terlihat oleh mata, karena ditanam di dalam kartu, di dekat foto penduduk).

 

Lebih lanjut dijelaskan oleh Perekayasa Biometrik, Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi BPPT, Anto Satriyo Nugroho, Kalau KTP-el dikatakan “berhasil dipalsukan” berarti yang dipalsukan bukan hanya blangko nya saja, tapi harus sampai level data di chip”.

 

“Kalau hanya berhasil memalsukan blangko-nya (misalnya ke percetakan agar secara ilegal dibuatkan kartu dari PVC/bahan kartu yg sepintas mirip KTP-el), hal itu belum bisa diartikan berhasil memalsukan KTP-el,” papar Anto.

 

KTP-el juga sebut Anto, memerlukan alat baca khusus sebagai alat baca, karena pemanfaatan KTP-el sebagai alat otentikasi tidak cukup kalau hanya dengan mata telanjang. Alat baca atau Perangkat Pembaca KTP elektronik, spesifikasinya pun mengacu pada Peraturan Mentri Dalam Negeri No.34 Tahun 2014 (Peraturan Menteri Dalam Negeri No.34 Tahun2014)

 

“Jadi saya perlu tegaskan juga, memastikan keaslian KTP-el tidak cukup dengan mata telanjang, tapi harus lewat komunikasi elektronik antara chip KTP-el dengan perangkat pembaca KTP-el (KTP-el reader),” tambahnya.

 

Sebagai ilustrasi, Pada gambar di bawah, ditampilkan dua slide untuk menjelaskan ilustrasi pemalsuan KTP-el. Pada gambar 1, diilustrasikan seorang penduduk bernama "anto" yang memiliki hak mendapatkan layanan publik, misalnya subsidi. Untuk mendapatkan subsidi, anto harus membawa KTP-el, dan akan diverifikasi oleh petugas dengan memanfaatkan Perangkat Pembaca KTP-el. Penduduk lain bernama "dodi" berusaha secara ilegal mengaku sebagai "anto", dan membawa KTP-el palsu atas nama "anto".

 


 
Terkait ilustrasi inipun Anto kembali menjelaskan, untuk bisa lolos dan mendapatkan layanan subsidi secara ilegal, pemalsuan KTP-el harus memakai teknik no.(2), karena bisa mengelabui visual maupun KTP-el reader. (2), pelaku tersebut harus bisa meng-hack, meng-akses dan mengubah data di dalam chip, padahal chip sudah diamankan dengan serangkaian teknologi canggih.

 

Mengamini penjelasan Anto, Hammam kembali menyebut bahwa pemalsuan KTP-el seperti yang diperbincangkan berbagai media ini hanyalah seperti foto copy berwarna saja.

 

“Memalsukan KTP elektronik, saya tegaskan kembali sangat sulit, kalau boleh dibilang tidak mungkin, ya tepatnya Mustahil,” pungkas Hammam. (Humas/HMP)

 

 

 

 

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id