Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

MENUJU ERA TV DIGITAL

Di Indonesia, siaran televisi digital adalah hal baru, mau tidak mau memang harus segera diadaptasi jika tidak ingin ketinggalan dari negara-negara tetangga kita. Sekarang ini, seluruh dunia arahnya sedang menuju TV digital, bahkan Amerika Serikat seluruhnya siaran TV berbentuk digital. Dalam siaran tv analog yang selama ini digunakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, memiliki beberapa kelemahan seperti jika antena bergeser sedikit, siaran yang dihasilkan akan berbintik, berbayang atau yang sering disebut ghost. Rumah yang jauh dari pemancar bisa-bisa gambarnya menjadi jelek, TV warna keluaran terbaru bisa berubah menjadi TV hitam putih hanya karena siaran yang jelek.

Repotnya lagi, siaran TV analog menggunakan 1 frekuensi untuk 1 channel. Dalam sistem penyediaan frekuensi, harus ada space di setiap kanal frekuensi antara yang satu dengan yang lain. Kanal yang kita punya sampai sekarang hanya ada 28, jadi siaran TV yang dapat melaksanakan siaran hanya 14. Tentu saja angka ini sangat kecil bila dibandingkan dengan semakin banyaknya izin siaran TV yang diajukan akhir-akhir ini. Berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Informatika, yang minta izin siaran sekarang ini ada 50 siaran TV dan 2 siaran radio. Bayangkan, siaran sebanyak itu mau ditaruh dimana jika kita masih menggunakan siaran TV analog?

Hebatnya siaran TV digital, 1 frekuensi dapat disesaki hingga 10 channel. Disamping setiap frekuensi yang ada bisa dipakai, tidak perlu ada interval-intervalan. Sebagai contoh, SCTV berada di frekuensi 42 UHF, RCTI di frekwensi 50 UHF. Nah, dengan sistem digital frekuensi 42 UHF digital dapat diisi oleh SCTV, ANTV, TV One, Trans TV, Trans 7, dan Metro TV. Sangat efisien bukan?

‚Karena adanya efisiensi spektrum itulah yang menjadi alasan pemerintah pada akhirnya memutuskan untuk bermigrasi dari siaran TV analog ke TV digital. Disamping efisiensi frekuensi dan kualitas gambar yang lebih bagus, pemirsanya pun bisa interaktif langsung dengan pemancar, seperti teleshopping ataupun telelearning‚, Kata Kepala Bidang Sistem Komunikasi Multimedia Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK) BPPT, Harry Budiarto.

Dalam persiapan penerapan migrasi TV analog ke TV digital, PTIK bertugas untuk melakukan kajian di sisi pemancar TV digital. Harus ada standar hardware seperti apa yang akan diterapkan dalam TV digital karena ini merupakan teknologi baru di Indonesia, jadi harus dikaji lebih detil. ‚Outputnya, kita membuat pemancar yang ekonomis memakai software open source, jadi stasiun TV bisa memperoleh pemancar dengan harga ekonomis namun kualitasnya tidak perlu dipertanyakan lagi‚, jelasnya.

Pesawat TV analog yang dimiliki masyarakat secara umum tidak akan bisa menerima sinyal digital, maka diperlukan pesawat TV digital yang baru agar TV dapat menggunakan alat tambahan baru yang berfungsi merubah sinyal digital menjadi analog. Perangkat tambahan tersebut disebut dengan decoder atau set top box (STB). Proses perpindahan dari teknologi analog ke teknologi digital akan membutuhkan sejumlah penggantian perangkat baik dari sisi pemancar TV-nya ataupun dari sisi penerima siaran.

Dalam sisi perangkat penerima, PTIK juga telah mengembangkan teknologi set top box. Yaitu sebuah perangkat tambahan untuk menerima sinyal digital yang dipancarkan oleh sistem DVB-T yang kemudian diubah ke dalam sinyal analog agar dapat ditampilkan pada monitor TV analog. Dengan perangkat penerima ini, kata Harry, masyarakat yang hampir seluruhnya memiliki TV analog dapat juga menikmati siaran TV digital.

‚Set top box hasil pengembangan PTIK memiliki kelebihan dibanding set top box yang ada pada umumnya, yaitu dapat memberitahukan deteksi terjadinya gempa. Teknisnya jika ada deteksi terjadinya gempa dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang dikirim melalui pemancar akan diterima oleh operator. Sebelumnya, operator telah memiliki program untuk menerima data deteksi gempa ini sehingga ketika program ini dikirimkan ke set top box maka secara otomatis siaran TV langsung dihentikan dan alarm pun berbunyi. Program ini belum ada di set top box manapun yang diproduksi di dunia. Jadi kitalah yang pertama‚, jelas Harry dengan gamblang. (YRA/humas)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id