Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

GENERASI 2 BIODIESEL GUNAKAN LIMBAH KELAPA SAWIT

Upaya pengurangan ketergantungan terhadap penggunaan bahan bakar fosil perlu diimbangi dengan peningkatan pengembangan energi baru terbarukan seperti Bahan Bakar Nabati (BBN). Berkaitan dengan pengembangan teknologi biomassa tersebut, BPPT telah berhasil mengembangkan biodiesel generasi 1, 1,5 dan 2. Biodiesel dipilih karena merupakan alternatif baru mengganti BBM yang lebih ramah lingkungan, mengurangi polusi dan dampak polusi.

Pengembangan teknologi biodiesel BPPT berawal dari biodiesel generasi 1 sejak tahun 2000, yang dibuat dengan mengkonversi minyak nabati menjadi menjadi biodiesel dengan by product gliserol yang pabriknya sudah diaplikasikan di sejumlah lokasi seperti Pulau Jawa, Kalimantan dan Sumatera. Sejauh ini kami telah berhasil mengembangkan biodiesel yang berasal dari minyak kelapa sawit sebanyak 20.000 kiloliter per tahun. Untuk bisa mengkomersialisasikannya sebagai percontohan hingga menghasilkan lebih dari 40.000 kiloliter per tahun butuh dukungan pemerintah dan swasta. Tantangannya ada di sisi industrialisasi, teknologi karya anak bangsa sudah bagus, hanya ada keterbatasan dukungan, ungkap Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Energi (PTPSE) BPPT, MAM Oktaufik pada acara Lokakarya II Pengembangan dan Perekayasaan Teknologi Biodiesel 2011, di Jakarta, Rabu (16/11).

Selain biodiesel generasi 1, lanjut Oktaufik, BPPT juga telah mengembangkan biodiesel melalui jalur hydrotreating yang menjadi bagian dari teknologi biodiesel generasi 1,5 dan generasi 2 yang lebih mengarah pada pemanfaatan biomassa melalui berbagai proses seperti liquifaksi dan gasifikasi untuk menghasilkan produk seperti bahan bakar diesel, kerosin dan premium.

Menambah pernyataan Oktaufik, Kepala Balai Rekayasa Desain dan Sistem Teknologi (BRDST) BPPT, Adiarso mengatakan bahwa alasan pengembangan biodiesel generasi 2 karena rendahnya harga jual biodiesel generasi 1 dibanding bahan bakunya, minyak kelapa sawit. "Harga minyak sawit mentah (CPO), per liternya mencapai Rp 8.000-Rp 9.000 per liter sementara biodiesel dijual dengan harga Rp 4.500. Karena kondisi ini menyebabkan pengusaha sawit lebih memilih ekspor mentah, ujarnya.

"Biodiesel generasi II akan menggunakan limbah sawit seperti tandan buah kosong sawit, pelepah, limbah kayu dan limbah pertanian lainnya seperti sekam padi. Selain itu keunggulan generasi kedua, teknologi katalis yang dipakai bisa menghasilkan beragam jenis produk seperti solar, bensin, kerosin (minyak tanah) dan tinggal memilih jenis mana yang lebih dominan. Dengan demikian, diharapkan tidak ada lagi hambatan mengembangkan biodiesel," terangnya.

BPPT berperan secara signifikan dalam proses pembuatan kebijakan energi nasional melalui kompetensinya di bidang riset dan teknologi. Peran BPPT sangat diperlukan untuk bisa memberikan solusi teknologi melalui pengembangan teknologi proses, produk yang sesuai dan analisa kebijakan, tutup Oktaufik.

Sebelumnya telah dilakukan terlebih dahulu Lokakarya I Pengembangan dan Perekayasaan Teknologi Biodiesel tahun 2010 yang menitikberatkan pembahasan pada kebijakan biodiesel nasional, tinjauan proses produksi biodiesel generasi 1 dan oengembangan kontrol kualitas hingga tujuan operasional oleh para praktisi dan pihak swasta. Sementara dalam Lokakarya II kali ini, dibahas lebih mendetail mengenai rekayasa teknologi produksi biodiesel dari generasi 1 hingga generasi 2. Beberapa pembicara yang hadir berasal dari kalangan praktisi, industri, peneliti dan akademisi. Diharapkan melalui lokakarya tersebut berbagai ilmu dan teknologi produksi biodiesel akan berkembang dan berkolaborasi menciptakan suatu teknologi tepat guna untuk menyelesaikan masalah energi nasional.  (TSYRA/humas) 

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id