Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

BPPT ADAKAN JUMPA PERS TENTANG ANALISIS KEJADIAN JEBOLNYA TANGGUL SITU GINTUNG

Kejadian jebolnya tanggul Situ Gintung yang berlokasi di Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan pada hari Jum'at 27 Maret 2009 telah menimbulkan korban meninggal 98 orang dan 115 hilang. Maka pada 31 Maret 2009 BPPT melaksanakan jumpa pers mengenai jebolnya tanggul Situ Gintung yang dihadiri Agus Kristijono Direktur Pusat Teknologi Sumberdaya Lahan, Wilayah dan Mitigasi Bencana BPPT dan Sutopo Purwo Nugroho Kepala Bidang Pusat Teknologi Sumberdaya Lahan, Wilayah dan Mitigasi Bencana Kedeputian TPSA BPPT serta dihadiri wartawan dari media cetak dan elektronik.

Pada kesempatan jumpa pers tersebut Sutopo Purwo Nugroho mengatakan Beberapa faktor penyebab jebolnya tanggul Situ Gintung masih belum jelas, antara lain: 1) pengaruh pembabatan hutan di kawasan hulu; 2) curah hujan yang ekstrim; 3) kondisi tanggul; dan 4) penggunaan lahan.

Berdasarkan analisis terhadap peta Rupa Bumi Indonesia Skala 1: 25.000, luas daerah tangkapan hujan Situ Gintung adalah 112,5ha. Penggunaan lahan dari luas daerah tangkapan air tersebut: permukiman (39,7%), tegalan (22,8%), badan air (17%), kebun (18%), rumput/tanah kosong (4,5%) dan gedung (0,6%). Terlihat bahwa kawasan hutan tidak terdapat di daerah tangkapan aliran Situ Gintung tersebut. Dalam sistem hidrologi, tidak ada hubungan dengan penggunaan lahan di kawasan hulu DAS Pesanggrahan. Oleh karena itu tidak ada hubungannya jebolnya tanggul Situ Gintung dengan penggundulan hutan.

Berdasarkan analisis curah hujan untuk kawasan di sekitar Situ Gintung, curah hujan yang terukur pada stasiun hujan terdekat yaitu stasiun Ciputat, curah hujan mencapai 113,2mm/hari. Dari radar cuaca Pondok Betung BMKG, curah hujan tersebut terjadi selama 2 kali, yaitu pada pukul 13.00-16.00 dengan hujan normal, dan pada pukul 17.00-18.30 dengan hujan ekstrim mencapai 70 mm/jam. Hujan ini telah menaikan muka air Situ Gintung.

Dibandingkan dengan kejadian hujan pada waktu sebelumnya maka disekitar Situ Gintung pernah terjadi hujan dengan tebal hujan yang lebih besar dari pada saat bencana. Pada 1 Februari 2007, saat Jakarta mengalami banjir besar, hujan di daerah sekitar Situ Gintung mencapai 275-300mm/hari. Namun tanggul tidak jebol meski hujan terjadi sangat besar. Dengan demikian curah hujan yang terjadi menjelang jebolnya tanggul Situ Gintung bukan merupakan faktor utama. Namun sebagai pemicu (trigger) karena volume air mengalami kenaikan secara cepat sehingga limpas dari spillway.

Analisis terhadap pintu pelimpas banjir (spillway) Situ Gintung berdasarkan pada dokumentasi pada tanggal 5 Desember 2008, menunjukan bahwa adanya indikasi adanya erosi buluh (piping). Dokumentasi tersebut diperoleh dari survei studi potensi air Situ Gintung untuk waduk resapan. Jadi dalam survei tersebut bukan secara khusus meneliti kekuatan dan kontruksi tanggul, namun menitikberatkan pada kualitas air dan pemanfaatan air situ untuk waduk resapan. Setelah terjadi bencana, dokumentasi tersebut dikaji lebih mendalam untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya jebol tanggul situ.

Sebagian permukiman telah berkembang di badan tanggul dengan beda ketinggian antara tinggi tanggul dengan rumah di bawah mencapai sekitar 15 meter. Dengan melihat bekas-bekas jebolnya tanggul, maka diduga adanya erosi buluh (piping) sudah berlangsung cukup lama yang ditandai dengan adanya mata air dibawah tanggul. Erosi buluh tersebut menyebabkan deformasi struktur spilway. Pada saat muka air situ naik dengan cepat dan melimpas di spillway, maka terjadi gaya dorongan massa air yang lebih besar sehingga terjadi landsliding (longsoran) pada badan tanggul. Makin lama makin menggerus bagian dasar tanggul sehingga mencapai sekitar 20 meter.

Berdasarkan analisis data curah hujan, tutupan lahan, luas lahan, luas DAS, kejadian gempa, longsor tebing, dan kondisi tanggul, maka dapat disimpulkan bahwa tanggul pelimpas banjir (spillway) merupakan titik lemah jebolnya tanggul Situ Gintung.
Fenomena jebolnya tanggul bertipe uragan, seperti tanggul Situ Gintung, juga terjadi di banyak bendungan. Secara global, jebolnya bendungan bertipe uragan mencapai 78% sedangkan tipe lainnya 22%. Demikian pula penyebab keruntuhan bendungan di dunia sekitar 38% disebabkan oleh piping, 35 peluapan (overtopping), 21% pondasi jebol, dan 6% karena longsoran dan sebagainya.

Guna mengantisipasi kejadian-kejadianserupa pada situ-situ yang terdapat di wilayah Jabodetabek, maka direkomendasikan segera dilakukan beberapa hal, antara lain: 1) Survai dan review situ-situ yang diduga memiliki potensi bencana, 2) perlu menyusun analisis resiko dan melengkapi dengan sistem peringatan dini(early warning system) terhadap situ-situ yang diduga memiliki potensi bencana, 3) audit teknologi terhadap kekuatan struktur dan kelayakan dari bendungan, tanggul, jembatan, infrastruktur keairan dan sebagainya.(PTSLWMB-TPSA/humas)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id