Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

Kembangkan Potensi Sidat Dengan Teknologi Tepat Guna

Ikan Sidat merupakan sumberdaya perikanan yang memiliki sifat beruaya dan hidup pada habitat lahan perairan yang berlainan pada masa siklus hidupnya. Ruaya ini memiliki arti bahwa Ikan Sidat ketika sudah dewasa dan siap untuk kawin biasanya mereka akan mencari jalan ke laut dalam atau samudera untuk berpijah, perjalanan Ikan Sidat dari air tawar ke air laut biasa disebut sebagai ruaya Ikan Sidat, sedangkan arti ruaya secara luas adalah merupakan satu mata rantai daur hidup bagi ikan untuk menentukan habitat dengan kondisi yang sesuai bagi keberlangsungan suatu tahapan kehidupan ikan.

 

Ikan Sidat lahir di perairan laut kemudian beruaya memasuki muara sungai dan menuju sungai ataupun perairan umum lainnya (danau) untuk hidup dan tumbuh besar sebelum kembali ke laut untuk memijah dan bertelur. Ikan Sidat di perairan Indonesia belum banyak diketahui dan dipelajari, padahal informasi pengetahuan diperlukan dan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pembangunan lahan dan kawasan.

“Kegiatan Alih Teknologi Pemeliharaan Benih Ikan Sidat (Aquilla bicolor bicolor) Teradaptasi di Kawasan Pelabuhan Ratu ini merupakan salah satu upaya pengembangan dan pemberdayaan wilayah pesisir yang merupakan Program Riset Sistem Inovasi Nasional yang dilakukan oleh Pusat Teknologi Sumberdaya Lahan, Wilayah dan Mitigasi Bencana (PTLWB) BPPT atas pendanaan Kementerian Riset dan Teknologi,” demikian sambutan Koordinator Sidat, Odilia pada acara Pelatihan Pemeliharaan Ikan Sidat (Aquilla Bicolor Bicolor) Teradaptasi Skala Rumah Tangga di Gedung Geostech BPPT Puspiptek Serpong, Tangsel (3/10).

Lebih lanjut dikatakan Odilia bahwa Ikan Sidat merupakan ikan konsumsi yang sangat digemari di banyak negara khususnya Jepang, Cina, Jerman dan Perancis, karena selain memiliki rasa unik juga sangat kaya akan vitamin A, B1, B2,B6, C,D, protein, DHA, EPA dan beberapa mineral lainnya. “Nyatanya, di Indonesia sendiri, Ikan Sidat belum populer seperti ikan tawar lainnya, sehinggapermintaan pasar lokal pun belum bisa terpenuhi. Oleh karenanya, nilai tambah pemeliharaan ikan ini dari hidup sampai olahan dapat menjadi bisnis yang menjanjikan,” tambahnya.

Sebagai informasi, perairan Pelabuhan Ratu merupakan salah satu perairan yang memiliki potensi sumberdaya perikanan yang besar di Indonesia. Salah satu komoditas yang penting dari segi ekonomi dan merupakan potensi lokal disana adalah Ikan Sidat. Benih Ikan Sidat atau glass eel sudah ditangkap di muara-muara Pelabuhan Ratu sejak awal tahun 80-an dan ditemukan hampir sepanjang tahun. “Kami berharap potensi lokal ini dapat dikembangkan dengan teknologi tepat guna untuk keperluan budidaya Ikan Sidat, meliputi teknologi adaptasi, teknologi pakan buatan dan teknologi pembesaran. Hal inipun telah diujicobakan oleh peneliti dan perekayasa dari BPPT, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Institut Pertanian Bogor serta mitra industri perikanan Sidat,” terang Odilia.

Guna menambah wawasan peserta pelatihan, pada pelatihan juga diadakan kunjungan ke fasilitas percontohan pemeliharaan Ikan Sidat yang merupakan kerjasama antara BPPT dan Kementerian Riset dan Teknologi di Kawasan Puspiptek Serpong, yang juga diikuti oleh Asisten Deputi Jaringan Penyedia dengan Pengguna Kementerian Riset dan Teknologi yang juga menjabat sebagai Kepala Puspiptek, Sri Setiawati, serta Direktur PTLWB BPPT, Isman Justanto. (Tr/SYRA/humas)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id