Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

Ini Cara Satelit Menangkap Citra Objek Pesawat Malaysia Airlines MH370

Serpihan yang diduga pesawat Malaysia Airlanes (MAS) MH370 yang hilang dalam penerbangan 8 Maret lalu ditemukan di wilayah perairan Samudera Hindia bagian selatan. Temuan itu didapat oleh beberapa citra satelit yang dimiliki oleh Cina, Amerika Serikat, dan Perancis. Lalu, bagaimana proses satelit mampu menangkap citra dari pesawat MAS MH370?

 

Muhammad Evri, Perekayasa Teknologi Remote Sensing Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, mengatakan satelit yang mengorbit di atas Bumi berjumlah sekitar 6.000 satelit dengan tugasnya masing-masing. Namun, 3.000 di antaranya sudah tidak berfungsi. Satelit-satelit itu membawa sensor yang berkemampuan mengindera Bumi dan mengidentifikasi objek yang ada di muka Bumi, termasuk di lautan. Kemampuan sensor untuk mendeteksi objek di muka Bumi itu yang kemudian diolah menjadi sebuah citra, lalu hasilnya ini yang diserahkan kepada lembaga otoritas untuk ditindaklanjuti.

"Semua satelit memiliki tugas untuk mengindera Bumi dan mengidentifikasi sebuah objek. Proses identifikasi satelit bermula dari capturing data, kemudian data diolah menjadi informasi, lalu data diteruskan kepada otoritas atau pusat komando untuk mengerahkan armada baik itu penerbangan maupun kapal untuk menuju target," kata Evri, (28/3).

Dia menambahkan, data citra objek yang didapatkan oleh satelit itu hanya sebuah objek yang diduga sebagai serpihan dari pesawat MAS MH370. Tapi, sebetulnya data itu merupakan bentuk pengkayaan informasi yang dapat diteruskan kepada armada untuk mendeteksinya langsung ke target di lapangan.

"Memang, sebelum objeknya ditemukan kita tidak bisa mengatakan bahwa objek itu merupakan serpihan pesawat MAS MH370. Tapi, tindakan berupa dugaan itu merupakan bentuk pengkayaan informasi yang diperlukan untuk mendeteksi objek secara langsung," ujar Evri.

Lalu, seberapa akurat data yang didapatkan oleh satelit dalam menentukan posisi akurat dari objek yang diduga serpihan milik pesawat MAS MH370? Evri menjelaskan, setiap satelit mampu menangkap objek yang berada di dalam lintasan orbitnya. Sebenarnya, waktu yang diperlukan untuk mengolah data citra satelit dalam menentukan posisi akuratnya dapat dilakukan hanya dalam hitungan menit. Namun perlu diketahui, menurut pakar Oceanografi, di wilayah perairan Samudera Hindia memiliki kecepatan arus 1 sampai 2 knot per hari. Jadi, setiap ada objek di perairan itu akan bisa berpindah sejauh 100 kilo meter per hari. 

"Yang menjadi persoalan adalah ketika ada jeda antara informasi antara pusat komando ke armada yang diperintahkan menuju ke target. Jeda itu yang akhirnya membuat sebuah objek yang ditemukan berpindah tempat, karena faktor arus dan gelombang laut. Apalagi untuk menuju ke barat daya Perth itu sesuatu yang luar biasa sulit, karena merupakan daerah yang terisolir yaitu sekitar 2.500 kilo meter ke selatan dari barat daya Perth. Jadi, armada laut membutuh waktu yang lama untuk mencapai lokasi tersebut," tutup Evri.(tw/SYRA/Humas)

 

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id