Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

Ini Teknologi untuk Mengurangi Risiko Bencana Letusan Gunung Api

Gunung Sangeang di Sangeang Pulo, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, meletus akhir Mei lalu (31/5) pukul 15.55 Wita. Letusannya menghembuskan asap dan debu vulkanik setinggi 3.000 meter. Angin juga membawa asap ke arah barat hingga ke Kota Bima yang berjarak sekitar 70 kilometer.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang Teknologi Akuntansi Sumberdaya Alam (Kedeputian Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam BPPT), Agustan, mengatakan bahwa Pakar gempa dari BPPT itu juga menyampaikan, dampak meletusnya Gunung Sangeang terhadap gunung lainnya secara umum tidak terkait secara langsung. Proses meletusnya sebuah gunung api sangat bergantung pada proses akumulasi energi di kantong magma (magma chamber) sebuah gunung api.

 

"Untuk Gunung Sangeang dan juga gugusan gunung lain di Jawa dan Nusa Tenggara, terkait dengan subduksi Lempeng Australia terhadap Lempeng Eurasia sehingga terjadi pencairan batuan dan masuk ke kantong magma," ujar Agustan.

Mengenai teknologi mitigasi letusan gunung api, Agustan kemudian melanjutkan bahwa pada dasarnya adalah sebagai peringatan dini sebelum meletus, misalnya dengan pengamatan yang lengkap terhadap sebuah gunung api.

"Sementara dari sisi ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) upaya mitigasi itu bisa dengan menggunakan beberapa teknologi: 1.) Seismology-Geofisika dengan teknologi pengamatan seismometer untuk memantau aktivitas bawah permukaan. 2.) Geokimia untuk memantau proses kimiawi utamanya gas sulfur dioksida (SO2) dalam identifikasi peningkatan aktivitas gunung api. 3.) Geodesi terkait dengan pengamatan deformasi misalnya dengan teknologi survey terestris, electronic distance measurement, Global Positioning System (GPS) atau Global Navigation Satellite System (GNSS). 4.) Penginderaan jauh (remote sensing) untuk pengamatan deformasi untuk memantau proses deflasi inflasi dengan teknik interferometri data satelit radar (Synthetic Aperture Radar/SAR)," kata Agustan, melalui surelnya, (2/6).

Terkait akuntansi sumber daya alam, jelas Agustan, letusan gunung api mempengaruhi lingkungan dan manusia, seperti penduduk dan bangunan terpapar, fasilitas umum obyek vital terpapar serta lahan pertanian peternakan terpapar.

Untuk obyek vital akibat meletusnya Gunung Sangeang, tercatat ada enam bandar udara dalam jangkauan 200 kilometer yang terpapar asap dan debu vulkanik, yaitu Muhammad Salahuddin Airport dengan jarak sekitar 57.36 kilometer, Labuanbajo airport dengan jarak sekitar 98.30 kilometer, Komodo (Mutiara II) Airport dengan jarak sekitar 98.32 kilometer, Tambolaka dengan jarak sekitar 138.05 kilometer, Satar Tacik Airport dengan jarak sekitar 164.17 kilometer, dan Sumbawa Besar Airport dengan jarak sekitar 185.90 kilometer.

Selain itu, ada delapan pelabuhan dalam jarak 200 kilometer, yaitu Pelabuhan Sape 43.29 kilometer, Pelabuhan Bima 48.43 kilometer, Pelabuhan Labuan Bajo 97.25 kilometer, Pelabuhan Kempo 102.02 kilometer, Pelabuhan Waikelo 135.64 kilometer, Pelabuhan Calabai 149.68 kilometer, Pelabuhan Reo 155.32 kilometer, dan Pelabuhan Badas 189.74 kilometer. Sedangkan, jumlah penduduk yang berpotensi terpapar awan panas dan debu vulkanik sekitar 3.800 orang.

Untuk mengurangi risiko akibat meletusnya gunung api, Agustan berharap agar kemampuan sensor pengamatan gunung api ditingkatkan, kemudian juga meningkatkan penguasaan metode dan interpretasi data pengamatan gunung api serta edukasi kepada masyarakat tentang bahaya gunung api dan kesadaran memelihara (jangan memindahkan, mengambil atau merusak) sensor-sensor yang berada di sekitar gunung api.

"Yang perlu diingat kita tidak bisa memitigasi letusan gunung api. Tapi, yang bisa dilakukan adalah mengurangi risiko (risk reduction) akibat bencana letusan gunung api," tutup Agustan. (tw/SYRA/Humas)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id