Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

BPPT Dorong Upaya Hentikan Penggunaan Merkuri Pada  Penambangan Emas 

Direktur Pusat Teknologi Sumberdaya Mineral BPPT Dadan M. Nurjaman saat menjelaskan proses penambangan emas rakyat tanpa merkuri kepada wartawan di Gedung BPPT, Thamrin, Jakarta Pusat. 06-04-2017. (HumasBPPT-SAS)

 

Penggunaan merkuri pada berbagai industri termasuk pertambangan rakyat dan pertambangan emas skala kecil, diungkap Direktur Pusat Teknologi Sumberdaya Mineral BPPT, Dadan M. Nurjaman, dapat menimbulkan kerusakan lingkungan dan berdampak pada kesehatan.

 

"Tercatat 850 lokasi penambangan emas skala kecil dan terus menerus memakai teknik merkuri. Penggunaan merkuri di pertambangan rakyat telah menimbulkan dampak pencemaran yang sangat berbahaya. Bukan saja berbahaya bagi kesehatan 250 ribu penambang, tapi juga berdampak pada kesehatan keluarga, terutama anak-anak, serta kesehatan masyarakat yang hidup di sekitar tambang," ungkap Dadan kepada awak media di Kantor BPPT, Jakarta (5/4).

 

 

BPPT terus mendorong agar pengolahan tambang emas tidak memakai merkuri. Selama dua tahun, BPPT telah melakukan kajian, inovasi teknologi pengelolaan emas yang bebas merkuri dan akan diterapkan kepada pertambangan skala kecil.

 

Lebih lanjut Dadan mengatakan sebenarnya ada alat pengolahan dalam pertambangan emas yang tidak membahayakan. Misal untuk emas sekunder yang terdapat di sungai maka dapat mempergunakan alat seperti shaking table  atau meja goyang, karpet untuk menyaring butiran-butiran emas.

 

Adapun untuk emas primer, butuh ekstra keras. Untuk menghasilkan emas tanpa menggunakan merkuri tidak cukup digiling halus.

 

“Kita berupaya untuk mencari reagen untuk memisahkan emas secara aman. Pendekatan reagen yang berhaya harus ada antisipasi bagaimana pengolaannya supaya dampaknya tidak merusak lingkungan,” tuturnya.

 

Tahun ini akan diuji coba pengelolaan penambangan emas tanpa merkuri di Pacitan, dan Banyumas, yang  bekerjasama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM-RI).

 

Merkuri tergolong logam yang berbahaya dan beracun. Tingkat bahaya itu tidak hanya bagi si penambang namun juga lingkungan. Bagi penambang, dari proses penguapan atau pembakaran merkuri, biasanya menghasilkan uap dan uap itu apabila terhirup maka sangat berbahaya untuk jangka panjang. Dampaknya adalah merusak sistem syaraf dan kelumpuhan serta dapat menyebabkan kematian. Salah satu bahaya merkuri adalah penyakit Minamataatau Sindrom Minamata.

 

Dikutip dari Wikipedia,   Sindrom Minamata adalah sindrom kelainan fungsi saraf yang disebabkan oleh keracunan akut air raksa. Gejala-gejala sindrom ini seperti kesemutan pada kaki dan tangan, lemas-lemas, penyempitan sudut pandang dan degradasi kemampuan berbicara dan pendengaran.

 

Pada tingkatan akut, gejala ini biasanya memburuk disertai dengan kelumpuhan, kegilaan, jatuh koma dan akhirnya mati.Pada tahun 1950, 3 ribu terdampak Sindrom Minamata. Dari jumlah itu, 1.780 orang meninggal.

 

Adapun untuk lingkungan, limbah merkuri dibuang ke laut, sungai, atau terserap kemudian ikan menjadi terkontaminasi. Begitupula merkuri dibuang dan diserap oleh tanah.

 

“Tanpa kita sadari, distribusi pencemaran merkuri sudah  dianggap tanpa batas artinya melebar kemana-mana. Tidak hanya terbatas di daerah itu saja tetapi melebar jauh ke perairan bebas bahkan internasional. Pencemaran di Indonesia mengakibatkan pencemaran di dunia,” tutup Dadan. (Humas/HMP)

 

Lihat foto kegiatan disini

 

Saksikan wawancara lengkap bersama Direktur Pusat Teknologi Pengembangan Sumber Daya Mineral BPPT melalui link berikut ini
 

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id