Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

BPPT LAKUKAN EVALUASI BANJIR JAKARTA 2010 DAN SISTEM PENGENDALIANNYA

Masalah banjir selalu menjadi permasalahan klasik, terutama bagi Provinsi DKI Jakarta. Setiap tahunnya, beberapa daerah di DKI selalu menjadi langganan banjir. Untuk itu, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), mencoba memberikan informasi teknis tentang hal-hal yang perlu diketahui oleh masyarakat, seperti mengapa banjir bisa selalu terjadi di DKI Jakarta, juga tentang bagaimana cara agar masalah banjir dapat terselesaikan.

‚BPPT mencoba memberikan kajian teknis mengenai banjir yang selalu dihadapi oleh Pemerintah DKI Jakarta khususnya. Selain itu, kami juga mencoba menggali benak publik tentang bagaimana penanggulangan banjir yang tepat seharusnya. Hal tersebut akan sangat membantu tim BPPT dalam menyusun kegiatan yang tepat bagi masyarakat‚, ungkap Direktur Pusat Teknologi Sumberdaya Lahan Wilayah dan Mitigasi Bencana (PTSLWB) BPPT, Ridwan Djamaluddin saat membuka press conference di Executive Lounge BPPT, Kamis (18/02).

Berbicara mengenai sistem pengendalian banjir di Jakarta, Kepala Bidang Teknologi Mitigasi Bencana BPPT Sutopo Purwo Nugroho mengatakan Jakarta pada dasarnya memang amat rentan pada ancaman banjir. ‚Selain berlokasi di daerah dataran rendah, bahkan sebagian lebih rendah dari permukaan laut. Jakarta juga dilewati 13 sungai yang semua bermuara di Teluk Jakarta, yaitu sungai-sungai: Mookervart, Angke, Pesanggrahan, Grogol, Krukut, Kalibaru Barat, Ciliwung, Kalibaru timur, Cipinang, Sunter, Buaran, Jati Kramat, dan Cakung‚.

‚Kondisi demikian makin diperparah oleh rendahnya kemampuan 13 sungai untuk mengalirkan banjir. Fakta yang ada saat ini, kemampuan mengatuskan debit banjir dari sungai dan kanal yang ada sangat jauh dari rencana. Perhitungan debit banjir sungai-sungai yang masuk ke Jakarta menunjukkan adanya kenaikan sebesar 50% dari debit perhitungan pola induk 1973 dalam periode 25 tahun‚, lanjutnya.

Lebih lanjut Sutopo mengatakan, sungai-sungai utama yang ada saat ini kapasitas pengalirannya berada jauh di bawah debit rencana yang mengakibatkan sungai-sungai mudah meluap. Kapasitas alur sungai yang ada terhadap debit rencana antara 17,5 ‚ 80%. Kemampuan alur Sungai Ciliwung saat ini hanya sebesar 17,5% persen dari rencana, sedangkan Kali Pesanggarahan hanya 20,7%. ‚Penurunan kapasitas tersebut disebabkan oleh adanya sedimentasi, pendangkalan dan penyempitan alur sungai, dan pemanfaatan lahan di bantaran sungai. Jadi bukan suatu hal yang aneh jika terjadi banjir karena kemampuan untuk mengatuskan debit banjir lebih kecil daripada limpasan permukaan yang ada‚, katanya.

Sutopo berpendapat bahwa kita harus melakukan pertama pola pengendalian banjir yaitu pembangunan waduk, rehabilitasi situ dan hutan. Pembangunan banjir kanal juga perlu dilakukan, serta normalisasi sungai dan pemeliharaanya. Kedua melakukan prinsip pengendalian dalam membangun dan melestarikan waduk dan penghijauan untuk menahan alian air, pengalihan air dari hulu DKI, dialihkan ke banjir kanal kemudian diteruskan ke laut.

‚Ada berapa program yang harus segera dilakukan untuk mencegah banjir di Jakarta dintaranya perekatan banjir kanal barat di bagian hilir, penataan sungai Ciliwung ruas Manggarai - Tanah Abang, percepatan penghutanan kembali daerah-daerah di hulu dan rehabilitasi lahan, pergantian dan penggantian pompa polder, perbaikan dan penataan sistem drainase kota‚, tegasnya.

Pada kesempatan yang sama Kepala Bidang Informasi Publik BMKG Mulyono Prabowo mengatakan dalam presentasinya bahwa kondisi atmosfer yang mempengaruhi terjadi hujan di wilayah Bogor, Jawa Barat dan sekitarnya antara lain karena adanya Nilai Indeks Surge +18.0, Nilai vortisitas yang bernilai negatif, Suhu Muka Laut yang hangat (28°C), adanya nilai positif pada anomali suhu permukaan laut serta hujan dengan intensitas lebat yang berdurasi cukup lama di wilayah Jawa Barat dan sekitarnya yang berasal dari awan jenis Cumulonimbus.

Saat menyampaikan presentasinya, Sutopo menyinggung tentang rencana Pemprov DKI yang akan membangun Waduk Ciawi. Menurutnya, pembangunan waduk tersebut tidak tepat karena lokasinya yang tidak tepat dan beresiko sangat besar melebihi tsunami bila waduk tersebut jebol. Selain itu ia mengatakan, biayanya sangat tinggi mencapai 1,5 trilyun rupiah dengan luas hanya sekitar 230 ha dan kontribusinya dalam mengurangi resiko banjir Jakarta hanya 1% saja. Ia menyarankan daripada membangun waduk Ciawi lebih baik membangun dam-dam dan situ-dan semacanya karena sebetulnya wilayah DKI Jakarta membutuhkan sekitar 3000 sumur imbuhan untuk pencegahan banjir serta mengurangi defisit air tanah. (YRA/humas)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id