Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

APLIKASI MICROALGA PADA DUNIA INDUSTRI

Sebagaimana diketahui bersama, peningkatan konsentrasi gas karbondioksida (CO2 ) dewasa ini menyebabkan meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi. Kondisi demikian, yang disebut dengan pemanasan global, memerlukan suatu solusi efektif dalam kaitannya mengurangi konsentrasi karbodioksida.

Berangkat dari latar belakang tersebut, Pusat Teknologi Lingkungan (PTL) TPSA BPPT sejak tahun 2008 telah merintis penelitian tentang teknologi ini dengan merakit suatu fotobioreaktor (FBR) sebagai wadah proses fotosintesis mikroalga yang menjadi mesin utama dalam penyerapan gas CO2. Dimulai dari skala labolatorium dengan sistem batch kemudian ditingkatkan menjadi sistem kontinyu, dan tahun 2010 ini sudah dapat diterapkan dalam skala pilot di industri yakni di PT Indolakto.

Menurut Direktur PTL, Kardono, dalam kunjungannya ke PT Indolakto (5/5), mengatakan bahwa teknik yang dinamakan Carbon Capture and Storage (CCS) tersebut adalah teknik pengurangan karbondioksida setelah proses. ‚Karbon yang dikeluarkan ditangkap dan disimpan secara biologi dengan menggunakan mikroalga‚.

Dalam skala pilot yang dilakukan, dapat diketahui FBR mampu berfungsi dengan baik dengan hasil yang menggembirakan. Pada penelitian awal dengan sistem batch, secara meyakinkan diketahui bahwa CO2 dengan konsentrasi sekitar 12% yang diinjeksi dalam sistem dapat direduksi hingga mendekati 0% dalam kisaran waktu 7 hari oleh Chlorella sp dan 13 hari oleh Chaetoceros sp. Kemudian pada uji coba secara kontinyu, mempertegas hasil sebelumnya tentang kemampuan fitoplankton dalam menyerap gas CO2. Dari tiga kali eksperimen yang dilakukan dihasilkan data kapabilitas penyerapan oleh sistem FBR terhadap gas sebesar 0,8 ‚ 1,01 gr CO2/liter media/hari. Hasil uji coba FBR di industri yang baru berjalan 1 minggu memperlihatkan kapabilitas FBR sebesar 1,7 gr CO2/liter media/hari.

Perekayasa PTL, Arif Dwi Santoso yang turut dalam kunjungan menuturkan bahwa masih banyak variabel pada penelitian yang harus lebih didalami. ‚Konsentrasi dan laju alir gas input, serta kualitas nutrient harus lebih diperhatikan agar dapat meningkatkan kapabilitas dari FBR‚, jelasnya.

Pendapat senada juga diungkapkan oleh Agung Riyadi, perekayasa PTL lainnya. ‚Selain memfokuskan pada variabel tersebut guna mendukung kinerja FBR, bersama tim kami akan mencoba memperbanyak spesies microalga. Hal tersebut dimaksudkan agar terdapat alternatif microalga yang juga dapat berfungsi sebagai penyerap emisi‚.

Tujuan lain

‚CO2 tidak berbahaya, tidak ada toxic didalamnya. Hanya, akumulasi dari CO2 yang berdampak pada terjadinya pemanasan global, yang berbahaya. Jadi yang berbahaya adalah dampaknya‚, tegas Kardono.

Selama ini, lanjut Kardono, tujuan utama penelitian CCS dengan FBR adalah memang untuk menurunkan karbondioksida. Namun tidak menutup kemungkinan untuk mengembangkannya ke tujuan lainnya.

Microalga yang dipakai untuk menyerap karbondioksida tersebut, setelah tidak terpakai, dapat dijadikan produk-produk bermanfaat lainnya seperti untuk bahan baku biofuel dan pakan untuk ternak. Jika ada pertanyaan apakah aman digunakan? Saya yakinkan aman. Manusia pun sebenarnya juga menyerap karbondioksida, apakah jadi berbahaya? Tentunya tidak. Bahkan mungkin kedepan, penggunaan utama dari microalga adalah untuk pakan ternak dan biofuel, bonusnya adalah turut berkontribusi terhadap penyerapan karbondioksida. Yang terpenting sebenarnya adalah bagaimana kita semua, bekerjasama untuk ikut serta dalam menjaga lingkungan agar tetap bersih dan sehat‚, ujar Kardono. (AR/ptl/YRA/humas)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id