Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

GEMPA JEPANG TIDAK MEMICU GEMPA DI INDONESIA

Gempa bumi yang terjadi di Jepang Jumat lalu, disebabkan oleh subduksi lempeng atau tabrakan lempengan, kata Agustan, Perekayasa Bidang Deformasi Kebumian, Pusat Teknologi Inventarisasi Sumberdaya Alam (PTISDA) BPPT, ketika ditanya mengenai gempa di Jepang yang menimbulkan munculnya Tsunami (14/03).

Bumi ini selalu bergerak, atau yang dikenal dengan istilah dynamic earth. Jepang, dikelilingi empat lempeng yang selalu bergerak, yakni Lempeng Eurasia, Lempeng Philipina, Lempeng Pasifik dan Lempeng Amerika Utara. Semakin besar desakan antar lempeng yang akhirnya tidak mampu lagi ditoleransi itulah yang menimbulkan gempa dengan skala Mw (Magnitude Moment) 8.9, seperti yang baru saja terjadi di Sanriku, Jepang, jelasnya.

Menurutnya, patahan yang berlangsung selama 100 detik, dengan luas wilayah sekitar 120 km x 24 km inilah yang membangkitkan gelombang seismic sebesar Mw 8.9 atau setara dengan sejuta kali bom atom Hiroshima. Sebelumnya, di daerah yang sama juga pernah terjadi beberapa gempa besar, seperti yang terjadi pada tahun 1896 dengan kekuatan Mw 8.1 dan tahun 1933 sebesar Mw 8.4.

Di sisi lain, gempa Jepang tersebut, kata Agustan, efeknya belum mampu memicu terjadinya gempa serupa di Zona lain, khususnya di Indonesia.

Akibat dari gempa tersebut adalah terjadinya perubahan permukaan bumi (dasar laut dan daratan) atau yang dikenal dengan co-seismic deformation, yakni uplift (kenaikan) sebesar 3. 05m dan subsidence (penurunan) sebesar 0.8m, timpal Direktur TISDA, M Sadly di kesempatan yang sama.

Perubahan bentuk permukaan itulah, lanjut Agustan, yang membangkitkan tsunami di Jepang. Tsunami ini jangan dilihat berdasarkan tinggi gelombang, tapi energi dorong yang dihasilkan dari gelombang tersebutlah yang harus diwaspadai. Efek tsunami di Jepang berhambur ke segala arah. Menurut pemodelan yang kami lakukan, terlihat bahwa minimal terjadi tiga kali sapuan gelombang yang masuk ke Indonesia, seperti yang terjadi di Jayapura.

Memang bencana tidak dapat kita tolak dan hindari. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapi bencana bila terjadi. Contohnya adalah dengan menanamkan sikap tanggap bencana sejak dini, penguatan struktur bangunan juga perlu diperhatikan, pungkas keduanya. (SYRA/humas)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id