Tel: (021) 316 8200   EMail: humas@bppt.go.id

TANGGAP BENCANA DENGAN DUKUNGAN TEKNOLOGI

Memasuki bulan November 2011 terjadi peningkatan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia dan intensitasnya akan terus meningkat selama tiga bulan ke depan seiring menguatnya monsoon Asia masuk ke wilayah Indonesia hingga mencapai puncaknya pada Januari. Indonesia juga akan dilewati Super Cloud Cluster (kumpulan awan yang setiap saat berpotensi besar menghasilkan hujan-Red) di Samudera Hindia yang bergerak ke wilayah barat  dan akan menghasilkan hujan deras pada sore dan malam hari selama beberapa hari. Oleh karena itu hingga beberapa hari ke depan, perlu diwaspadai adanya curah hujan tinggi di beberapa wilayah di Indonesia bagian barat termasuk Jakarta, ungkap Kepala Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan (UPT-HB), Samsul Bahri saat konferensi pers mengenai kesiapsiagaan BPPT dalam menghadapi bencana, Rabu (2/11).

Lebih lanjut dikatakan Samsul, selain faktor menguatnya monsoon, faktor lain yang sangat berpengaruh terhadap curah hujan di Indonesia diantaranya adalah ENSO (El Nino Southern Oscillation) dan  IOD (Indian Dipole Mode). Hal tersebut menyebabkan hingga pertengahan bulan Oktober 2011, masih akan berlangsung La Nina lemah di Equatorial Samudera Pasifik, sedangkan di Samudra Hindia menunjukkan adanya indikasi IOD positif.  Perlu diketahui bahwa La Nina berasosiasi dengan peningkatan hujan sedangkan IOD positif berasosiasi dengan berkurangnya hujan di wilayah Indonesia, dan kondisi La Nina dan IOD positif ini diperkirakan dalam tiga bulan kedepan masih akan bertahan. Itulah yang mendasari kami melakukan prediksi iklim dan cuaca tiga bulan ke depan, jelas Samsul.

La Nina yang terus berlanjut dan berdampak pada meningkatnya intensitas hujan bulan januari-februari 2012 harus diwaspadai. BPPT siaga dengan fasilitas radar cuaca dan pelampung laut untuk memantau perubahan cuaca dan iklim ekstrem yang mengakibatkan banjir di wilayah Indonesia, ungkap Fadly Syamsudin, perekayasa Pusat Teknologi Inventarisasi Sumberdaya Alam (PTISDA) BPPT.

Fadly juga menambahkan bahwa terdapat enam faktor yang berpengaruh pada cuaca/Iklim Ekstrem yang bisa mengakibatkan datangnya banjir di Jakarta. Selain faktor monsoon,  El Nino Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD), masih ada beberapa faktor lainnya yang berpengaruh pada curah hujan di Indonesia  yakni Madden-Julian Oscillation (MJO), Perioda 5-14 harian (Mixed Rossby Gravity Wave), pengaruh lokal dan Cold Surge, terangnya.

Faktor cold surge atau angin Siberia ini sulit diterka kedatangannya. Kalau sampai cold surge ini datang bersamaan dengan hadirnya lima faktor lainnya akan sangat membahayakan dan bisa menimbulkan banjir parah seperti pada Februari 2007," katanya. Soal banjir besar di Thailand beberapa pekan terakhir yang menewaskan lebih dari 400 orang menurut dia, selain terkait cuaca, juga karena faktor infrastruktur Thailand yang tidak siap.

perubahan pola curah hujan, kondisi lereng dan meningkatnya aktifitas manusia menjadikan bencana longsor kerap terjadi.  Curah hujan yang tinggi dan ketidakstabilan lereng telah banyak mengakibatkan bencana longsor dengan kerugian harta benda dan korban jiwa di Indonesia, ungkap Iwan Teja, Perekayasa Pusat Teknologi Lahan Wilayah dan Mitigasi Bencana (PTLWB) pada kesempatan yang sama.

Sebagian besar kejadian longsor dipicu oleh curah hujan yang tinggi, sebagai contoh adalah longsor yang terjadi di Bukit Pawinihan Banjarnegara, pada 4 Januari 2006 dan telah mengubur sebagian besar daerah pemukiman disana. Tercatat  kurang dari 81 orang tewas dari kejadian bencana ini. Selain itu, masih segar di ingatan kita di awal 2010 lalu curah hujan yang tinggi juga menyebabkan bencana longsor di Kampung Dewata Ciwidey Jawa Barat. Bencana longsor ini juga menimbulkan 44 orang korban jiwa dan kerugian material mencapai milyaran rupiah.

BPPT tidak tinggal diam, meminimalisir bencana longsor dan korban jiwanya upaya mitigasi mutlak diperlukan, tegas Iwan. Upaya mitigasi yang dimaksud yakni dengan menerapkan teknologi peringatan dini longsor atau Landslide Early Warning System (LEWS). Teknologi peringatan dini longsor ini selain memberikan peringatan kepada masyarakat setempat, juga dipantau oleh pusat kebencanaan baik daerah maupun pusat sehingga langkah-langkah pengamanan dapat segera diterapkan.

Iwan juga berharap pemantauan kondisi curah hujan dan geologis setempat menjadi bagian penting dalam aplikasi teknologi LEWS ini. Kombinasi teknologi deteksi dan pemantauan curah hujan serta kondisi geologi harus didayagunakan dalam peringatan dini longsor ini, tutupnya.  (SYRA/humas)

FacebookTwitterLinkedin

Tweet Terbaru

Teknologi Untuk Kejayaan Bangsa

Hubungi Kami

 Bagian Humas
Gedung BPPT II Lantai 15
Jl. M.H Thamrin No. 8 Jakarta Pusat DKI Jakarta 10340

  Tel: (021) 316 8200

  Fax: (021) 398 38729

  Web: bppt.go.id