10740
Hits

BPPT DAN KEMENTERIAN RISTEK DUKUNG PENGUKUHAN BATIK SEBAGAI WARISAN BUDAYA DUNIA

Administrator
02 Oct 2009
Layanan Info Publik

Kita memang pantas bersyukur atas dijadikannya batik sebagai salah satu warisan dunia asal Indonesia, ungkap Marzan A Iskandar Kepala BPPT yang hadir dalam acara yang digelar Kementerian Negara Riset dan Teknologi bersama BPPT di lobi Gedung II BPPT (2/10). BPPT dan Kemenegristek mendukung upaya pelestarian batik dari sisi teknologi, seperti membuat zat pewarna batik yang selama ini masih impor, lanjutnya.

Acara yang bertemakan Batik: Kreatifitas Budaya dan Teknologi Indonesia memamerkan berbagai motif batik daerah, antara lain motif dari Irian, Lasem dan Banyumas. Ditampilkan juga Buku Fisika Batik karya tim Fe Institute Bandung, yang melihat sudut pandang pembatik dari segi fisika. Selain pameran batik, diselenggarakan pula demo teknologi pembuatan batik, dan pagelaran busana.

Perwakilan dari UNESCO berkesempatan hadir dan memberikan pernyataan resmi tentang pengukuhan batik Indonesia. Iwan Tirta, pakar batik Indonesia, hadir sebagai pembicara dalam talkshow Batik Indonesia dari masa ke masa di seluruh Indonesia, mengatakan bahwa pengukuhan ini dianggapnya sebagai puncak perkembangan dalam karier. Batik hasil karya Iwan secara resmi telah dipakai oleh seluruh Kepala Negara yang hadir dalam KTT OPEC yang diselenggarakan di Indonesia beberapa waktu silam. Begitu pula pengusaha dan pengrajin Batik Komar, Komarudin Kudiya yang ikut memamerkan produk batik pada acara tersebut, mengungkapkan apresiasinya atas langkah yang diambil UNESCO. Batik Komar dikenal dengan motifnya yang berbeda, seperti motif kristal air dan mollusca.

Pada kesempatan yang sama, Meutia Hatta, Menteri Pemberdayaan Perempuan berpesan bahwa generasi muda Indonesia hendaknya tidak hanya senang memakai pakaian batik, tetapi juga harus mengerti tentang filosofi sejarah batik dan proses pembuatannya. Selain pejabat Pejabat Ristek dan LPND Ristek, diantara para tamu undangan tampak pula Jaya Suprana, pengusaha jamu dan pendiri Museum Rekor Indonesia.(YRA/humas)