4500
Hits

BPPT DORONG INDUSTRI DALAM NEGERI PRODUKSI CARD READER E-KTP (II)

Indonesia sendiri tengah melakukan pemutakhiran teknologi di data penduduknya. Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang konvensional dengan KTP elektronik (e-KTP), yang sudah ditanamkan chip di dalamnya. Chip itu memuat data-data personal tiap penduduk. e-KTP ini sendiri diharapkan menjadi smart card dimana akan terdiri dari tujuh lapis yang berbahan dasar Polyethylene Terephthalate Gly (PET-G) yang berukuran 85,60 x 53,98 milimeter dan ketebalan antara 0,76 sampai 1 milimeter, sangat tipis tentu. Pada lapisan tengah e-KTP, terdapat sebuah chip atau kartu pintar berbasis mikroprosesor yang bisa menampung 8 KiloBytes (KB) data. Meski kecil, data itu cukup untuk menyimpan biodata, tanda tangan, pas foto, dan dua sidik jari.

Menurut Gembong S Wibowanto, Kepala Program Penelitian dan Perekayasaan e-KTP dari BPPT, e-KTP sudah memiliki tiga fitur keamanan untuk mengidentifikasi pemiliknya, serta fitur daya tahan terhadap tekanan, temperatur panas dan dingin, bahan kimia tertentu, dan lainnya. "Teknologi biometrik juga diterapkan di e-KTP. Fungsinya untuk mengidetifikasi ketunggalan identitas penduduk dari hasil rekaman data penduduk, yang ada di data center e-KTP Kementerian Dalam Negeri," ungkapnya.

Ke depan, teknologi e-KTP akan diperbaharui untuk mengoptimalisasi layanan administrasi pemerintahan dan layanan publik secara elektronik. "Nantinya, teknologi kartu pintar pada e-KTP memiliki multifungsi, seperti dapat digunakan untuk Jaminan Kesejahteraan Sosial, kartu subsidi BBM, Kartu Bantuan Langsung Tunai, Kartu Debet, dan fungsi-fungsi lainnya," ujar Gembong.

Teknologi Contactless

Teknologi e-KTP milik Indonesia juga tidak kalah dengan negara-negara lain. Menurut Mohammad Mustafa Sarinanto, Kepala Bidang Sistem Elektronika BPPT, sistem e-KTP Indonesia sudah menggunakan contactless dalam hal perekaman atau pembacaan via card reader.

"Artinya, cukup meletakkan e-KTP di card reader agar terbaca chipnya. Sementara milik Malaysia tidak menggunakan teknologi contactless dan harus dimasukkan ke card reader dahulu, seperti kartu ATM," ujarnya. Namun begitu, dia menambahkan, untuk masalah kecanggihan e-KTP tidak bisa dibanding-bandingkan dengan negara lain. Semua disesuaikan dengan kebutuhan dan berdasarkan teknologi terbaru.

"Malaysia tidak menggunakan teknologi contacless, karena pada saat itu belum ada teknologi itu. Jika mereka ingin menggunakan teknologi contactless biayanya sangat malah, karena perlu mengubah infrastruktur," terang Sarinanto. (SYRA/humas)