2967
Hits

BPPT Dukung Inovasi Teknologi Material Guna Penyediaan Bahan Baku Industri Berbasis Sumber Daya Lokal

 

 

Perekayasa Utama BPPT I Nyoman Jujur mengatakan, bahwa guna mengantarkan industri domestik yang kuat minimal tiga aspek yang harus diselesaikan yaitu meminimalisasi ketergantungan impor bahan baku dan komponen, memperkuat kemampuan pengolahan sumber daya alam dan mengembangkan inovasi tepat sasaran sesuai kebutuhan industri prioritas. 

 

Dikatakan Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kementrian Perindustrian Harjanto bahwa material adalah komponen utama membangun industri. Kontribusi industri di Indonesia masih berkisar antara 20 %, salah satunya adalah industri manufaktur yang menjadi point utama dalam pengembangan ekonomi saat ini.

 

Menurutnya, industri material harus dibangun dengan nilai tambah berdasarkan undang-undang pertambangan No. 3 Tahun 2014  tentang perindustrian, yang mana BPPT merupakan bagian dari pada undang-undang tersebut. Diharapkan di tahun 2030 Indonesia dapat menjadi negara 10 besar di dunia dalam penerapan industri lokal guna mendukung perekonomian bangsa.

 

Sementara, Peneliti Utama Pusat Teknologi Material BPPT Ratno Nuryadi menjelaskan ada lima fokus outlook teknologi industri material yaitu kemasan untuk pangan, alat kesehatan implant, tekstil fungsional, alat transportasi kereta api, dan alat pembangkit geothermal.  

 

Adapun tujuan dari Outlook Teknologi Industri material menurut Ratno yakni memberikan gambaran, pandangan dan arah riset serta pengembangan teknologi yang diperlukan guna mendukung pemanfaatan dan pengembangan industri prioritas dan Roadmap Industri 4.0.

 

Lebih lanjut dikatakan Ratno, penguatan rantai suplai produksi diperlukan guna meningkatkan efisiensi, memperkuat daya saing dalam mewujudkan kemandirian bangsa melalu inovasi teknologi material untuk mendukung industri nasional yang diharapkan dapat melahirkan rekomendasi kebijakan nasional untuk penelitian, pengembangan, pengkajian serta penerapan teknologi material pada industri.

 

Acara tersebut juga dihadiri Perekayasa Utama BPPT Agus Hadi Santosa Wargadipura, King Fahd University of Petroleum and Mineral Arab Saudi Oki Muraza serta Asosiasi Smelter dan Pengolahan Mineral Indonesia R. Sukyar. (Humas/HMP)