856
Hits

BPPT Hadirkan Inovasi Teknologi, Hapus Penggunaan Merkuri

Administrator
21 Jul 2021
Layanan Info Publik

Rencana Aksi Nasional Pengurangan dan Penghapusan Merkuri (RAN PPM), tertuang dalam Perpes no. 21 tahun 2019, merupakan implementasi dari Undang-undang No. 11 tahun 2017 tentang ratifikasi Konvensi Minamata mengenai merkuri. Salah satu target RAN PPM tersebut adalah pemerintah  berkolaborasi untuk melaksanakan penghapusan merkuri di sektor Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) dan kesehatan.

 

Inovasi teknologi merupakan salah satu kunci dalam upaya penghapusan merkuri. BPPT melalui Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Mineral (PTPSM) berkontribusi nyata dalam upaya penghapusan merkuri melalui kegiatan pengkajian dan penerapan teknologi di bidang PESK dan kesehatan yang aplikatif bagi pengguna. Berangkat dari hal tersebut BPPT menggelar webinar Nasional bertajuk Inovasi Teknologi BPPT dalam Mendukung Rencana Aksi Nasional Pengurangan dan Penghapusan Merkuri" (21/07).

 

Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam BPPT Yudi Anantasena mengatakan merkuri merupakan bahan kimia berbahaya yang bisa menyebabkan dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan. Proses perjalanan merkuri ke dalam tubuh manusia bisa terjadi melalui jalur pencernaan, pernapasan dan bahkan absorpsi melalui kulit.

 

Menurutnya, merkuri merupakan kimia yang persistent yang bila masuk ke dalam tubuh manusia akan mengalami akumulasi dan menyebabkan berbagai penyakit mulai dari gangguan sistem syarat pusat hingga cacat bayi pada kandungan.

 

Demikian juga, merkuri yang terlepas dan teremisikan ke lingkungan akan sangat berbahaya yang karena sifat persisten tersebut akan mengalami bioakumulasi di dalam rantai makanan, membentuk metil merkuri yaitu senyawa kimia yang sangat beracun.

 

Selain itu karena sifatnya yang mobile, merkuri disebut sebagai transboundary pollutant yang bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain bahkan dari satu negara ke negara lain. Oleh karena itu merkuri ini menjadi masalah global, ujarnya.

 

Dirinya menegaskan, bahaya merkuri yang menjadi permasalahan global mendorong pemerintah Indonesia untuk mengeluarkan kebijakan terkait pengurangan dan penghapusan merkuri di berbagai sektor.

 

Dimulai tahun 2013, pemerintah Indonesia menandatangani Konvensi Minamata terkait merkuri di Kumamoto Jepang bersama 92 negara lainnya.  Selanjutnya pada tahun 2017 pemerintah Indonesia meratifikasi konvensi Minamata tersebut melalui pengesahan UU No.11 Tahun 2017 tentang Pengesahan Minamata Convention on Mercury.

 

Kemudian, pada 2019, Pemerintah telah mengeluarkan  Perpres No. 21 Tahun 2019 Tentang Rencana Aksi Nasional Pengurangan dan Penghapusan Merkuri (RAN PPM) yang menandakan komitmen pemerintah semakin tinggi dalam upaya pengurangan dan penghapusan merkuri, jelasnya.

 

Sebagai upaya menindaklanjuti mandat tersebut, BPPT melalui Pusat Teknologi Pengembangan Sumberdaya Mineral (PTPSM) melaksanakan program pengkajian dan penerapan teknologi guna menghasilkan inovasi untuk dapat diterapkan oleh pengguna yaitu karakterisasi mineralogi dan potensi sumberdaya bijih emas pada PESK sebagai dasar untuk penentuan teknologi pengolahan bijih emas.

 

Pada kesempatan yang sama, Direktur Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Mineral BPPT Rudi Nugroho mengutarakan bahwa masyarakat perlu mengetahui dan memahami adanya inovasi-inovasi yang dapat diterapkan agar para penambang mampu dan mau beralih dari merkuri khususnya pada pertambangan emas skala kecil.

 

Emisi merkuri terbesar di Indonesia itu adalah dari sektor pertambangan emas skala kecil.  Ia menyebut, sejak tahun 2014 diawali dengan melakukan kajian serta banyak literatur dan juga melakukan karakterisasi bijih emas dari beberapa lokasi, dengan dukungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada 2017 kami menerbitkan detil engineering design untuk pengolahan emas tanpa merkuri untuk lokasi Lebak, Banyumas dan Pacitan.

 

Diharapkan dengan webinar ini, karya inovasi BPPT akan bisa lebih dikenal dan diterapkan di masyarakat dengan spirit solid smart speed, BPPT khususnya PTPSM bisa semakin termotivasi untuk terus berinovasi guna menghasilkan inovasi unggul yang lebih baik, pungkasnya. (Humas BPPT)