1244
Hits

BPPT Hadirkan Pusat Inovasi Kecerdasan Artifisial

Indonesia memiliki beberapa tantangan untuk mengembangkan kecerdasan buatan, diantaranya, kesiapan regulasi yang mengatur etika penggunaan, kesiapan tenaga kerja, kesiapan infrastruktur dan data pendukung  pemodelan, serta kesiapan industri dan sektor publik dalam mengadopsi inovasi Kecerdasan Artifisial (KA), kata Kepala BPPT Hammam Riza di acara media gathering Outlook BPPT 2021 dan Capaian BPPT 2020 secara daring. (21/01).

 

Guna mendorong penerapan KA yang selaras dengan kepentingan nasional, BPPT lanjut Hammam telah mempersiapkan infrastruktur serta ekosistem untuk mengorkestrasi riset dan inovasi yang berkelanjutan dalam sebuah wadah, yaitu Pusat Inovasi Kecerdasan Artifisial (PIKA). PIKA merupakan wadah bagi semua unsur quad helix yaitu Pemerintah, Industri, Akademisi dan Komunitas dalam berkolaborasi pada riset dan inovasi KA dengan memaksimalkan seluruh sumber daya riset dan inovasi nasional.

 

Selain itu, PIKA sendiri pun bersifat terbuka melalui partisipatif, berbasis nilai (value-based synergy), demand-driven, mandiri, serta memiliki tata kelola yang adaptif dan lincah. Dalam mendukung pengembangan kegiatan KA di Indonesia, PIKA telah dilengkapi degan NVIDIA DGXA A100 dan merupakan Instansi Pemerintah pertama yang memiliki supercomputer ini, ujarnya.

 

Dengan kedua sistem yang dibangun tersebut sangat penting dalam mendukung pengambilan keputusan yang cepat dan akurat seperti untuk meminimalisir dampak bencana maupun untuk menghindari terjadinya bencana, seperti kecerdasan srtifisial untuk diteksi tsunami yang mana Kecerdasan Artifisial (KA)-Tsunami yang dikembangkan BPPT terbagi menjadi dua sub sistem:

 

Pertama menurutnya, adalah kecerdasan artifisial untuk memprediksi akan terjadinya tsunami jika terjadi gempa. Pembelajaran sistem kecerdasan artifisial ini memerlukan data sejarah gempa dan tsunami yang cukup panjang. Input yang digunakan adalah data gempa dari Program InaTEWS BMKG, data USGS, serta data katalog kejadian tsunami.

 

Ketiga sumber data ini digabung untuk membangun model KA. Selanjutnya, model yang dihasilkan tersebut untuk memprediksi tsunami jika memperoleh informasi gempa yang berisi gempa skala tertentu dan lokasi tertentu dan kedua adalah untuk memprediksi waktu tempuh dan tinggi gelombang tsunami di sepanjang pantai. Sistem kecerdasan artifisial ini dibangun menggunakan data simulasi model tsunami di seluruh wilayah Indonesia.

 

Kemudian yang kedua sebutnya adalah kecerdasan artifisial untuk penanggulangan karhutla. Pengembangan model prediksi berbasis kecerdasan artifisial untuk mendukung pelaksanaan TMC dalam rangka penanggulangan karhutla dilakukan dengan menggunakan data observasi langsung di lahan gambut dan data cuaca serta prediksi iklim di tempat tersebut.

 

Selanjutnya, dari model tersebut maka diperoleh nilai prakiraan TMA dalam rentang waktu 3 - 4 bulan kedepan. Nilai prakiraan ini akan dijadikan sebagai acuan rekomendasi untuk pelaksanaan operasi TMC sebagai upaya pencegahan bencana karhutla.

 

Diharapkan dengan adanya Pusat Inovasi Kecerdasan Artifial yang diinisiai BPPT ini bisa menjadi wadah dalam mengakselerasi pemanfaatan KA di Indonesia, serta memberikan manfaatnya  bagi masyarakat luas dan mendukung pertumbuhan ekonomi untuk kesejahteraan bangsa, pungkasnya. (Humas BPPT)