12644
Hits

BPPT: Hal Ini Perlu Diperhatikan Jika Kereta Cepat Adalah Jenis Maglev

 

"Awalnya adalah tahun 2000an, dimana Cina mendatangkan Kereta Cepat Maglev serta mengundang konsorsium dari berbagai negara lain untuk mengembangkan industri perkeretaapian Cina. Namun ada syarat-syarat yang mereka terapkan, diantaranya adalah transfer teknologi dan redesain teknologi. Disinilah asal mula mereka bangkit," terang Rizqon.

 

Rizqon menambahkan, dalam waktu beberapa tahun, Cina pun mampu menjadikan industri perkeretaapian mereka tumbuh kuat. "Dengan adanya berbagai prasyarat yang ditetapkan Pemerintah Cina, mereka mampu menghidupkan industri manufaktur. Hampir 60% komponen dibuat didalam negeri," ucapnya.

 

Apabila jenis kereta cepat yang nanti dipakai di Indonesia adalah kereta Maglev (MAGnetically LEVitated trains), Kepala Balai Besar Teknologi Aerodinamika, Aeroelastika dan Aeroakustika (BBTA3) BPPT, Fariduzzaman menjelaskan ada beberapa faktor yang mesti dipersiapkan secara seksama.

 

"Kereta Maglev, sesuai dengan namanya, membutuhkan medan magnet yang besar untuk mengangkat badan kereta. Magnet akan bekerja bila ditopang oleh aliran listrik yang sangat besar dan stabil. Itu yang harus diperhatikan," kata Fariduzzaman.

 

Sebagai informasi, kereta cepat membutuhkan rel dengan lebar 1435 mm, berbeda dengan rel yang ada di Indonesia yang hanya 1067 mm atau disebut rel sempit. Untuk akselerasi dan deselerasi, kereta api cepat membutuhkan jarak empat meter diawal dan diakhir. Jadi misalkan jarak Jakarta - Karawang adalah 30km, maka 22km perjalanan akan ditempuh pada kecepatan maksimal. "Atau hanya butuh dua menitan untuk sampai ke Karawang," pungkas Fariduzzaman. (Humas-HMP)