5047
Hits

BPPT : Pembangkit Listrik Tenaga Sampah, Solusi Masalah Sampah Perkotaan

 

Wimpie menambahkan, BPPT mendapat suatu amanah yang harus dilaksanakan bersama, pilot project ini nantinya diharapkan bisa dipakai sebagai contoh di kota-kota besar lainya di Indonesia.

"Selain masalah sampah dapat diatasi, dengan menggunakan thermal, maka sampah yang dimusnahkan juga memiliki potensi untuk digunakan sebagai sumberdaya listrik atau Pembangkit Listrik Tenaga Sampah," rincinya.

 

Lebih lanjut diungkap Direktur Pusat Teknologi Lingkungan Rudi Nugroho, mulai pertengahan tahun kami sudah mulai mempersiapkan rencana ini namun baru ada kepastian dibulan Agustus, BPPT diberikan tugas untuk membuat

Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang bisa menyelesaikan sampah dan mengurangi sampah secara signifikan dalam waktu cepat dan juga ramah lingkungan.

 

"Masalah sampah sudah sangat krusial sehingga pemerintah mentargetkan 2019 urusan sampah selesai. Di samping itu undang-undang No 18 Tahun 2008  menyebutkan bahwasannya sampah itu bukan hanya suatu limbah saja tapi itu adalah sumber daya yang bisa kita manfaatkan," rincinya.

 

Oleh karena itu, BPPT selaku institusi pemerintah diberikan tugas untuk membangun pilot project PLTSa, dalam hal ini teknologi yang  diterapkan adalah teknologi incinerator  karena ini teknologi yang paling tepat.

 

"Hanya saja saat ini pilot plant kita masih berkapasitas 50 ton. Sementara volume sampah di Bantar Gebang mencapai 7000 ton. Namun kami optimis ini adalah momen yang tepat untuk memulai menerapkan teknologi pengolahan sampah yang dapat memusnahkan sampah secara cepat, signifikan dan ramah lingkungan," timpalnya.

 

Pada kesempatan yang sama, Kepala Unit Pelaksana Teknis TPST Bantargebang Asep Kuswanto juga memberi apresiasi terhadap rencana pembangunan PLTSa untuk DKI Jakarta.

 

"Kami terus berusaha  mewujudkan PLTSa di DKI khususnya, mudah-mudahan bisa sesuai target rencana strategis nasional di tahun 2019 bisa terwujud, Kami sangat berkeinginan kedepannya Bantar Gebang bisa menjadi wisata nasional, karena begitu banyaknya potensi dan keinginan masyarakat untuk melihat pengolahan sampah di DKI," jelasnya.

 

Asep menambahkan, tantangan terbesar di Bantar Gebang ini selain pengelolaan IPAS (Instalasi Pengolahan Air Sampah) juga bagaimana menghabiskan sampah lama di Bantar Gebang atau setidaknya mengurangi.

 

"Mudah-mudahan dengan inisiasi dari BPPT untuk membangun PLTSa di Bantar Gebang bisa menjadi contoh daerah lain. Selain itu semoga ini bisa menjadi solusi untuk menghabiskan volume sampah di Bantar Gebang, atau paling tidak mmenguranginya secara signifikan" tutup Asep.

 

Sebagai informasi bahwa dalam sosialisasi dan FGD ini dihadiri juga perwakilan dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Kemenko Perekonomian, BAPPENAS, ITB, Asosiasi Solid Waste, SKPD DKI  Jakarta dan SKPD Kota Bekasi. (Humas/HMP)