6789
Hits

BPPT TENGAH KEMBANGKAN TEKNOLOGI PRODUKSI JAMUR UNTUK IMUNOMODULATOR

Menurut Priyo Wahyudi Kepala Bidang Teknologi Produksi Agrokimia BPPT (22/9), jamur merupakan bahan pangan kaya, protein, karbohidrat dan nutrisi yang diperlukan tubuh. Dengan kandungan nutrisi tinggi, jamur selain untuk pangan dapat dimanfaatkan sebagai imunomodulator, yaitu senyawa yang dapat meningkatkan sistem imun tubuh.

Jamur jenis ini, selama ini sudah banyak dijumpai di pasaran untuk dibuat makanan ringan (keripik jamur). Kemudian agar jamur jenis ini mempunyai nilai tambah maka yang semula dikembangkan dalam kegiatan teknologi budidaya pangan telah ditingkatkan dalam pengembangan teknologi kesehatan sebagai imunomodulator, katanya.

Priyo mengatakan, saat ini BPPT tengah mengembangkan teknologi produksi jamur shiitake (Lentinus edodes) yang mengandung protein, asam linoleat, karbohidrat, serat, mineral, Vit B-1, B-2 dan C, serta provitamin D. Senyawa aktif lain yang diisolasi dari jamur tersebut menunjukkan khasiat imunomodulator adalah lentinan. Dalam jamur shiitake selain protein, niasin, thiamin, riboflavin, serta sederet mineral, juga terdapat lentinan yaitu polysakharida yang larut di dalam air, yang sejak lama diakui memiliki kemampuan sebagai antitumor dan antikanker. "Kami akan mengembangkan kearah sana", katanya.

Menurutnya, lentinan secara konvensional diproduksi melalui ekstraksi tubuh buah jamur shiitake. Kelemahan cara konvensional adalah lamanya waktu yang dibutuhkan untuk membudidayakan jamur shiitake yaitu sekitar 6 bulan. "Agar jamur menghasilkan lentinan yang lebih tinggi serta waktu produksi yang lebih singkat dibandingkan dengan cara konvensional, maka untuk memproduksi lentinan adalah melalui fermentasi. Dengan hasil yang lebih cepat dan lebih bagus kualitasnya, maka diharapkan dapat memenuhi kebutuhan produksi imunomodulator yang kini banyak digunakan sebagai pendamping dalam pengobatan penyakit degeneratif", tambahnya.

Tentang kualitas jamur, menurut Priyo, hal ini ditentukan oleh perbaikan mutu bibit dan modifikasi media tanamnya (bahan-bahan media tanam terbuat dari apa) serta faktor lingkungan yaitu suhu, kelembaban cahaya dan ketinggian tempat. Yang terakhir adalah bagaimana teknologi ekstraksinya, yaitu proses dalam mengekstraknya baik yang berbentuk cair atau bubuk. "Caranya dapat dikatakan sederhana karena jamur tersebut tahan panas. Biasanya oleh masyarakat secara tradisional jamur ini biasanya hanya dipotong-potong lalu direbus saja", jelasnya.

Selain jamur Shiitake untuk dikembangkan sebagai imunomodulator, BPPT selama ini sudah mengembangkan jamur Tiram untuk produksi pangan. Keduanya saat ini sedang dikembangkan di Cimande Jawa Barat. Menurut Priyo, kedua jenis jamur tersebut relevan untuk dikembangkan di BPPT terutama untuk Shiitake karena produk yang dihasilkan dapat memberikan kontribusi yang relatif nyata bagi kepentingan masyarakat dalam bidang pangan, obat-obatan dan kesehatan. (humas*)