1616
Hits

BPPT TERAPKAN SATO UMI-GEMPITA SPL, KONSEP PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERIKANAN, PESISIR DAN KELAUTAN RAMAH LINGKUNGAN

Demikian antara lain disampaikan Deputi Kepala BPPT Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB), Listyani Wijayanti pada acara International Workshop On Sato Umi-Gempita SPL-Gapura di BPPT (13/3). Konsep yang diterapkan menurut Listyani tidak hanya menjadikan sumberdaya perikanan, pesisir dan laut tersebut sebagai objek dari kegiatan manusia, tetapi menjadi subjek yang dibutuhkan manusia dan perlu dikelola dengan baik dan bijaksana. 

Untuk itu BPPT bekerjasama dengan North Pasific Marine Science Organization (PICES), Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries of Japan (MAFF) dan Fisheries Research Agency of Japan (FRA) akan mengembangkan dan menerapkan konsep terbaru pengelolaan sumberdaya perikanan, pesisir dan kelautan yang disebut Sato-Umi.

Sato-Umi merupakan konsep pengelolaan sumberdaya perikanan secara berkelanjutan dimana intervensi manusia dalam pengelolaan sumberdaya perikanan di wilayah pesisir dan laut dapat meningkatkan produktivitas dan keragaman jenis sumberdaya perikanan.

BPPT sendiri menurut Listyani telah mengembangkan konsep serupa dalam membangun, mengelola dan memanfaatkan sumberdaya perikanan, pesisir dan kelautan secara bijaksana dengan melibatkan masyarakat secara aktif, yaitu Gempita-SPL (Gerakan Masyarakat Peduli Kelestarian Sumberdaya Perikanan, Pesisir dan Laut) atau SFiCoMS (Sustainable Utilization of Fisheries, Coastal and Marine Resources for the Society).

“Bersama dengan Sato-Umi, konsep Gempita-SPL akan terus dikembangkan untuk mendukung kegiatan pembangunan sumberdaya perikanan, pesisir dan kelautan secara harmonis dan berkelanjutan di Indonesia. Seperti pengembangan dan pemasyarakatan teknologi produksi perikanan budidaya ramah lingkungan, Integrated Multi-Trophic Aquaculture (IMTA), berbasis sistem bioresirkulasi (biorecycle system) untuk lahan tambak terbengkalai (idle),” ungkapnya. 

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pusat Teknologi Produksi Pertanian (PTPP) BPPT, Nenie Yustiningsih mengatakan bahwa Sato-Umi merupakan suatu konsep yang tidak hanya teknologi saja, “Ada tiga pendekatan Sato-Umi, pertama dari sisi budidayanya, kemudian penangkapan dan masalah sosial. Yang akan diterapkan di Indonesia yaitu pendekatan melalui budidaya dengan melibatkan masyarakat. Untuk konsep lain yang  sudah diterapkan seperti di Guatemala dan Filipina. Inti dari Sato-Umi ini adalah mengawinkan antara teknologi, kearifan lokal, sosial budaya dan ekonomi,” terangnya.

Nenie menegaskan dalam jangka pendek penerapan konsep Sato-Umi ini akan segera dilaksanakan di Indonesia. Diharapkan dari workshop tersebut akan dihasilkan petunjuk teknis dari aplikasi konsep Sato-Umi di Indonesia. Akan ada empat daerah percontohan yaitu Karawang, Anambas, Tanah Bumbu dan Bantaeng.

Dalam Workshop yang mengambil tema Konsep dan Model Baru Pengelolaan Sumberdaya Perikanan, Pesisir dan Kelautan Secara Berkelanjutan dengan Fokus Utama Budidaya Perikanan tersebut juga dilakukan penandatanganan Letter of Intent (LoI) antara BPPT dan PICES mengenai Penerapan Sato Umi-Gempita SPL di Indonesia. (SYRA/humas)