8691
Hits

BPPT UPAYAKAN PERCEPATAN PENERAPAN TEKNOLOGI PANAS BUMI

Pada acara jumpa pers di Executive Lounge BPPT (15/3), Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi (PTKKE) BPPT Arya Rezavidi menjelaskan bahwa pemerintah mempunyai target pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi sampai dengan tahun 2025 adalah 9.000 MW, dengan tahapan 2.000 MWe (tahun 2008), 3442 MWe (tahun 2012), 4.600 MWe (tahun 2016), dan 9.000 MWe (tahun 2025). Namun, sampai ini baru 1.189 MW (4,3%) yang telah dimanfaatkan untuk pembangkit listrik.

‚Tanpa adanya percepatan pengembangan, target tersebut akan sangat sulit dicapai. Oleh karena itu pemerintah telah menetapkan program percepatan pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW tahap ke dua, dan kontribusi PLTP sebesar 3.962 MW, dan saat ini terdapat 44 lokasi baru panas bumi yang sangat potensial sebagai market‚, tegasnya.

Arya menambahkan, BPPT saat ini memfokuskan pada pengembangan teknologi pembangkit panas bumi skala kecil di bawah 10 MW. "Saat ini investor untuk skala kecil tidak banyak, maka peran pemerintah dituntut untuk mengembangkannya termasuk dalam hal teknologi. Disinilah peran BPPT dituntut untuk mendorong industri dalam negeri dalam mengembangkan atau memanufaktur turbin secara lokal. Salah satu investor yang mengembangkan skala-skala dibawah 10 MW adalah PT Nusantara Turbin dan Propulsi (NTP)‚.

Direktur Utama PT NTP, Supradekanto, yang juga hadir pada jumpa pers tersebut mengatakan bahwa dari sisi teknologi, selain pembangkit-pembangkit konvensionall NTP juga sedang mengembangkan teknologi Binary Cycle yang belum pernah diterapkan di Indonesia. Diharapkan pada tahun 2014, setidaknya sudah mempunyai satu desain dan manufaktur untuk skala-skala 1 MW Binary Cycle.

‚Untuk pabrik gula dan kelapa sawit yang sampai 4 MW, sudah masuk prototiping, dan selesai di tes 450 Hp dan 2MW, sedangkan untuk 3 MW dan 4 MW sedang dalam proses. Kami sedang masuk dalam tahap desain menuju ke 2 MW dan akan naik sampai sekitar 5MW. Sedangkan untuk turbin uap yang bukan geothermal sampai 7MW, dan kami memang membatasi dibawah 10MW. Dalam hal ini PT NTP bersama mitra kerja tengah membangun apa yang disebut klaster industri turbin, klaster ini terdiri 16 perusahaan rekan-rekan kami 2 BUMN yaitu PT Barata Indonesia dan PT Pindad, serta rekan-rekan kerja kami dari UKM yang ada di Cimahi, Bekasi dan Cikarang‚, jelas Supradekanto.

Direktur Pertamina Geothermal Energi (PGE), Abadi Purnomo, turut berkomentar. ‚Kami akan dukung BPPT dalam mengembangkan teknologi inii. Apapun yang kita hasilkan bisa dirasakan dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Jadi itulah tujuan kita bekerjasama dengan BPPT untuk mensupport dari sisi industrinya dan kepada BPPT sebagai lembaga riset and development bisa didorong bagaimana turbin-turbin ini bisa kita manfaatkan karena kita lihat tidak semua daerah itu mempunyai potensi geothermal yang besar".

"BPPT telah merancang bangun dan menguji prototipe PLTP Binary Cycle dengan kapasitas 2KW, dengan menggunakan fluida hidrokarbon sebagai fluida kerjanya. Seluruh sistem dan komponen utamanya seperti turbin, evaporator, kondenser dan sistem kontrol didesain dan dibuat sendiri oleh tim panas bumi BPPT", tambah Arya.

Rencana kegiatan dari tahun 2010 hingga 2014 tentang Pengembangan PLTP Skala Kecil di BPPT meliputi terdiri dari 2 kegiatan utama, yaitu; pengembangan PLTP Binary Cycle dengan kapasitas 1 MW (target 2014) melalui tahapan prototipe 2KW (2008) dan pilot project 100KW (2012), dan pengembangan PLTP teknologi condensing turbine dengan kapasitas 2-5 MW (2011 dan 2013).

‚Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan manfaat untuk pemerintah dan industri ketenagalistrikan nasional yaitu dalam hal engineering design yang optimal tentang teknologi PLTP Skala Kecil, dan peningkatan kemampuan industri nasional dalam manufaktur komponen utama PLTP‚, katanya lebih lanjut. (AN/humas*)