1906
Hits

BRIN dan PT NCU Lanjutkan Kerjasama Riset Kapsul Lunak Rumput Laut

Kebutuhan kapsul lunak (soft capsule) di Indonesia mencapai tiga miliar butir per tahunnya, dimana 90% diantaranya terbuat dari gelatin hewani. Terlebih, pada saat pandemi Covid-19, pemakaian kapsul lunak semakin meningkat karena semakin banyaknya  masyarakat yang mengkonsumsi vitamin dan mineral dalam kemasan tersebut.

 

Tingginya penggunaan gelatin pada kapsul lunak, sejatinya bisa disubstitusi dengan penggunaan bahan berbasis vegetable (sayuran) yang bisa ditemukan di tumbuhan rumput laut sebagai bahan dasarnya.

 

Di sisi lain, saat ini berkembang pula komunitas vegetarian, yaitu konsumen yang menghendaki makanan yang berasal dari tumbuhan. Dengan perkembangan trend tersebut, maka produk kapsul lunak berbahan baku rumput laut, sangat berpotensi untuk mengisi pasar konsumen vegetarian dan juga makanan halal.

 

Plt. Kepala Pusat Teknologi Agroindustri Organisasi Riset Pengkajian dan Penerapan Teknologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (PTA OR PPT-BRIN) Arif Arianto mengatakan pihaknya memang mencari mitra industri dalam rangka hilirisasi hasil riset kapsul laut berbasis rumput laut dengan tujuan upscale ke jumlah produksi yang lebih besar.

 

“Alhamdulillah tahun 2021 lalu, kita dipertemukan dengan PT Nova Chemie Utama (NCU) yang memang bergerak di bidang kapsul lunak. Dari kerjasama tersebut, kita telah berhasil menghasilkan satu prototype berbasis vegetable di akhir tahun,” terangnya.

 

Arif kemudian menambahkan, pada tahun 2022, BRIN bersama PT NCU kembali menandatangani perjanjian kerja sama tentang pengembangan formulasi prototipe kapsul lunak berbahan baku rumput laut. Penandatanganan ini dilakukan di Gedung Laboratorium Pengembangan Teknik Industri Agro dan Biomedika, PUSPIPTEK, Serpong, pada hari Rabu, 19 Januari 2022.

 

“Kerjasama ini memiliki prospek yang bagus dan tujuan akhirnya adalah hilirisasi kapsul lunak berbasis rumput laut ke masyarakat,” detailnya.

 

Lebih lanjut, dirinya mengatakan Kepala BRIN Laksana Tri Handoko mengamanatkan semua fasilitas yang dimiliki BRIN bisa dipergunakan oleh masyarakat luas, khususnya industri yang mau bekerjasama dalam bidang riset pengembangan produk.

 

Direktur PT NCU Vincent Hasan mengatakan pihaknya merasa tertantang ketika diajak melakukan kerjasama riset kapsul lunak berbasis rumput laut bersama dengan BRIN.

 

“Dengan teknologi dan sumber daya manusia yang dimiliki NCU dan BRIN, kita telah berhasil menemukan formulasi yang tepat. Kapsul laut tersebut juga telah kami isi dengan sunflower dan soybean,” ungkapnya.

 

Vincent pun berkomitmen untuk melanjutkan pengembangan riset kapsul lunak bersama BRIN, terlebih menggunakan bahan baku berbasis tumbuhan, yakni rumput laut.

 

“NCU memiliki spesialisasi di industri kapsul lunak dan mempunyai tujuan menguasai semua lini material bahan bakunya. Harapannya di tahun 2022 kita bisa mendapatkan formulasi yang stabil dan bisa menghasilkan paten,” ujarnya

 

Setali tiga uang, Penanggung Jawab Program Kesehatan dan Pangan OR PPT BRIN Soni S. Wirawan mengatakan tahapan dari hulu ke hilir pengembangan kapsul lunak memang tidak mudah. Bila dilihat dari bentuknya, kapsul lunak terkesan sederhana, namun periset di BRIN telah melakukan pengembang sejak tahun 2019.

 

Masuknya PT NCU sebagai mitra industri dianggap Soni sebagai pasangan yang tepat dalam melakukan riset bersama, karena selama ini hasil riset selalu seringkali berujung jatuh ke lembah kematian.

 

“Melihat pasar kapsul lunak yang mencapai tiga miliar per tahun, dan 90 persennya masih berbasis gelatin. Pasar ini cukup terbuka dan prospektif. Semoga BRIN bersama dengan NCU bisa menjadi yang pertama di Indonesia dalam menghasilkan kapsul lunak berbahan baku rumput laut.

 

Dalam kesempatan yang sama turut hadir Plt. Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Industri BRIN Dwie Irmawaty Gultom. Dirinya menyambut baik inisiasi yang dilakukan Pusat Teknologi Agroindustri BRIN bersama dengan PT Nova Chemie Utama dalam pengembangan kapsul lunak.

 

“Mencari mitra industri memang tidak mudah, apalagi dengan teknologi yang belum proven,” ujarnya.

 

BRIN, ujarnya, akan membantu mengawal kerjasama riset ini, mendesain hasil riset sesuai dengan kebutuhan industri, karena itu sesuai dengan amanah Kepala BRIN kepada seluruh jajarannya.

 

“Semoga kapsul lunak berbasis rumput laut ini dapat segera termanfaatkan oleh masyarakat luas, sekaligus turut mengembangkan industri halal di Indonesia,” pungkas Irma.

 

Dalam penandatanganan kerjasama ini juga turut dilakukan kunjungan ke Laboratorium PTA untuk melihat proses riset pengembangan kapsul lunak berbahan baku rumput laut yang dilakukan periset BRIN.

 

 

 

Kerja Sama Riset Kapsul Lunak Berbahan Baku Rumput Laut.

 

Perjanjian kerja sama antara BRIN dan PT NCU bertujuan untuk melakukan uji cetak untuk mendapatkan formulasi prototipe kapsul lunak dari rumput laut.

 

Dalam kerjasama ini terdapat dua ruang lingkup yang menjadi fokus, pertama adalah penyempurnaan formulasi agar dihasilkan prototipe kapsul lunak dengan bahan isi minyak goreng sawit atau minyak habatussauda. Kemudian, melakukan uji cetak pada mesin produksi terhadap formula kapsul lunak yang telah direformulasi.

 

Kapsul lunak sendiri dikatakan oleh Periset PTA BRIN Prof. Lamhot Manalu sebagai teknologi yang advance. Dipilihnya rumput laut sebagai bahan baku juga bukan tanpa sebab, melainkan Indonesia merupakan salah satu penghasil rumput terbesar di dunia.

 

“Di Indonesia belum ada yang memproduksi. Kenapa dari rumput laut? Karena Indonesia produsen terbesar di dunia, dan seringkali diekspor dalam bentuk raw material,” terangnya.

 

Prof. Lamhot juga mengatakan kapsul lunak rumput laut ini cocok di kalangan vegetarian. Mayoritas produk yang beredar saat ini berbahan baku hewani dan sering kali non hal.

 

“Ini bisa menjadi solusi kapsul halal di Indonesia,” imbuhnya.

 

Dirinya menambahkan, tahun 2022 akan dilakukan reformulasi serta melakukan uji konsistensi dari kebocoran, kehancuran, dan kelarutan.

 

Sebagai informasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (sekarang BRIN) pada tahun 2019 telah meluncurkan cangkang kapsul (hard capsule) berbahan baku rumput laut bersama dengan PT Kapsulindo Nusantara. (BRIN-SAS)