1748
Hits

BRIN Tambah Satu Lagi Profesor Ahli Kecerdasan Artifisial di Indonesia

Prof Hammam dalam orasinya mengatakan artificial intelligence atau KA saat ini diyakini sebagai pengungkit ekonomi dunia. KA dinilai sebagai solusi pemulihan dan pertumbuhan ekonomi negara secara masif, termasuk Indonesia yang sedang gencar mendorong transformasi digital.

 

“Teknologi adalah sumber inovasi dan penghela pertumbuhan ekonomi suatu negara. Teknologi kecerdasan artifisial sangat berkembang-pesat dan membuat dampak yang besar di seluruh dunia, melalui pemanfaatannya di lingkungan pribadi, komunitas, bisnis, bahkan berpengaruh pada proses politik,” ujar Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) periode 2019-2021.

 

Dirinya memaparkan bagaimana KA mempengaruhi semua disiplin keilmuan, ekonomi, dan industri. Berbagai aplikasi KA dikembangkan dengan dukungan percepatan infrastruktur komputasi dan sains data, Sistem KA sendiri merupakan hasil dari penggabungan pembelajaran mesin (machine learning), big data, komputasi super, komputasi awan, dan jaringan 4G/5G yang mampu mendorong transformasi digital di berbagai sektor pembangunan. 

 

“Para pemangku kepentingan seperti pemerintah, industri, akademisi, dan, organisasi masyarakat sipil atau komunitas harus berkolaborasi memanfaatkan teknologi KA ini, bakan Presiden RI pun menyampaikan untuk menggunakan KA dalam pelayanan publik pemerintahan sebagai upaya reformasi birokrasi.” ungkapnya.

 

Prof Hammam menambahkan. 5 tahun kebelakang, KA memasuki era baru, memberikan manfaat seluas imajinasi kita. Hal ini dipicu oleh berbagai terobosan yang dicapai pada ranah aplikasi yang dapat dikelompokkan atas machine learning, computer vision, dan natural language processing. Saat ini ketiga teknologi KA tersebut juga telah dipakai di berbagai aplikasi cerdas yang kita gunakan.

 

Dalam upaya menghadapi kemajuan pesat teknologi global, berbagai negara bahkan telah membuat strategi nasional KA, seperti ditunjukkan pada peta AI Strategy Landscape yang dirilis oleh HolonIQ. Indonesia merupakan salah satu early adopter melalui Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial (Stranas KA) 2020-2045 yang turut disaksikan oleh Wakil Presiden RI Ma'ruf Amin pada  pada Hari kebangkitan Teknologi Nasional, 10 Agustus 2020.

 

“Ini mensejajarkan Indonesia dengan lima puluh negara lainnya yang telah mengadopsi KA. Tujuannya agar kita dapat berdaya saing serta mandiri dan tidak tertinggal dalam pemanfaatan teknologi KA secara global,” tegas Prof Hammam.

Sebagai informasi, di tengah situasi sulit awal pandemi Covid-19, BPPT melalui kolaborasi quad helix, diantaranya institusi pemerintah, universitas, termasuk Universitas Syiah Kuala, lembaga litbangjirap (penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan), industri serta komunitas merumuskan Stranas KA 2020-2045.

 

Rumusan strategi nasional ini menjadi arah kebijakan nasional untuk kesiapsiagaan dan perencanaan nasional agar mampu memanfaatkan secara optimal perkembangan teknologi KA di tanah air.  Stranas KA menandai kesiapan pemerintah dalam menyiapkan regulasi dan kebijakan penguasaan teknologi KA, pengembangan talenta nasional, mengembangkan program penelitian-perekayasaan yang potensial, mempertahankan daya saing ekonomi dengan didukung KA, serta memastikan pemanfaatan teknologi KA yang bertanggung jawab.

 

Sebagai akhir dari orasi ilmiah, Prof Hammam menyampaikan bahwa perkembangan teknologi KA, tidak terlepas dari teknologi ABCD, yaitu AI, Blockchain, Cloud, (Big) Data Science yang begitu pesat. Hal ini menuntut kita untuk terus berbenah, menyiapkan sumber daya manusia, sarana dan prasarana pendukung, serta menyiapkan talenta muda KA agar mampu menghadapi perkembangan dari teknologi tersebut.

 

“Di era revolusi industri 4.0, pemanfaatan KA dan sains data menjadi keniscayaan. Untuk itu, dalam upaya mewujudkan visi Universitas Syiah Kuala sebagai universitas yang inovatif, mandiri, dan terkemuka, diperlukan penguatan dalam riset dan pendidikan, khususnya dalam KA dan sains data. Kita harus terus berpacu sehingga kita menjadi unggul dan berdaya saing,” pungkasnya.

 

Sebagai informasi Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) mengukuhkan tiga guru besar (profesor) baru dalam sidang senat terbuka secara daring dan luring dari Gedung AAC Dayan Dawood. Pengukuhan dilaksanakan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat, mengingat pandemi COVID-19 masih belum berakhir. Pihak keluarga dan undangan yang diizinkan hadir secara langsung dibatasi. Ketiga profesor yang dikukuhkan diantaranya Prof. Dr. Faisal, SE, M.Si, MA, Prof. Dr. Rusli Yusuf,M.Pd, dan Prof. Dr. Hammam Riza,M.Sc.

 

Rektor Unsyiah, Prof. Dr. Samsul Rizal, menyampaikan rasa bangganya dengan keberhasilan tiga profesor yang berhasil mencapai tingkat tertinggi di kepakaran keilmuan, Samsul menyebut Unsyiah terus menargetkan penambahan jumlah profesor setiap tahunnya. Selain itu, Samsul menambahkan Unsyiah juga berupaya menjadi 10 perguruan tinggi terkemuka di Indonesia, 200 besar Asia, dan 1.000 besar di seluruh dunia. Untuk itu, dirinya menaruh harapan besar kepada ketiga profesor baru tersebut untuk berkontribusi optimal bagi Unsyiah. (Humas BRIN - CJ, ed - SAS)