558
Hits

Cegah Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan, BPPT Terapkan Teknologi Kecerdasaan Artifisial

Administrator
27 Jul 2021
Layanan Info Publik

Bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia setiap tahun terus berulang, meskipun berbagai macam tindakan telah dilaksanakan, termasuk pelaksanaan layanan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) yang dilaksanakan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Terkait hal tersebut, Melalui Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca - BPPT menggelar webinar dengan tema Implementasi Kecerdasan Artifisial Dalam Mendukung Pelaksanaan Operasi TMC Untuk Pemcegahan Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (27/07).

 

Untuk mengatasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia, BPPT melaksanakan layanan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Kepala BPPT, Hammam Riza dalam sambutannya mengatakan webinar ini bertujuan untuk mensosialisasikan kegiatan riset dan pengembangan di BPPT, khususnya di Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca dalam pengimplementasian kecerdasan artifisal untuk mendukung suksesnya operasi TMC di dalam pencegahan kebakaran hutan dan lahan di Indonesia. 

 

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki resiko bencana yang cukup tinggi, terutama bencana hidrometeorologi, seperti banjir, kekeringan, tanah longsor, puting beliung, gelombang pasang atau bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan. Terkait hal tersebut, BPPT sebagai lembaga pengkajian dan penerapan teknologi di Indonesia selalu melakukan pendekatan IPTEK dalam upaya antisipasi maupun mitigasi bencana.

 

Sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo pada rakernas BPPT, bahwa BPPT harus menjadi pusat kecerdasan teknologi Indonesia dan telah menegaskan pentingnya penggunaan teknologi untuk monitoring dan pengawasan lahan rawan kebakaran hutan dan lahan.

 

Secara khusus, dalam penugasan nasional dalam Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2020 tentang Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan, dimana Presiden RI memberikan instruksi kepada Kepala BPPT untuk melakukan operasi teknologi modifikasi cuaca dan pengembangan pembukaan lahan tanpa bakar untuk mendukung upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. “Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) selama ini telah dijadikan sebagai solusi dalam pencegahan dan mitigasi bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan”, jelasnya.

 

Dalam sebuah pelaksanana operasi TMC, BPPT kolaborasi bersama dengan pemangku kepentingan lain dalam melaksanakan tugas pencegahan karhutla seperti BMKG, BRGM, KLHK-Manggala Agni, BNPB/BPBD, Pemerintah Provinsi yang memiliki tugas dan fungsi masing-masing akan saling melengkapi dengan tugas dan fungsi BPPT dalam hal ini BBTMC.

 

Menurut Hammam, dengan semakin berkembangnya teknologi terutama teknologi Kecerdasan Artifisial (KA) diharapkan dapat membantu BBTMC secara khusus dalam melaksanakan operasi TMC maupun institusi lain secara umum.

 

Hammam menyebut, KA dapat menyediakan sebuah evidence-based forecasting terhadap kondisi karhutla yang sedang dan akan terjadi dengan menggunakan berbagai macam input data yang dimiliki  semua instansi pemangku kepentingan pencegahan karhutla.

          

Dengan implementasi KA ke dalam sistem pengambilan keputusan, diharapkan tim BBTMC dapat meningkatkan rasa percaya diri dalam melaksanakan TMC di waktu dan tempat yang tepat dalam mencegah terjadinya karhutla. Kemudian implementasi KA ini juga dapat membantu BBTMC dalam merencanakan sebuah kegiatan operasi TMC secara lebih efektif dan efisien sehingga mampu mengurangi resiko bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

 

Informasi yang disediakan dari implementasi KA ini selain digunakan oleh BBTMC tetapi juga oleh pemangku kepentingan lain dalam rangka antisipasi terbakarnya hutan dan lahan di Provinsi-provinsi rawan karhutla.

Dengan implementasi KA Hammam berharap peran TMC sebagai pencegahan karhutla dapat melakukan pembasahan lahan gambut di musim transisi, sehingga mempersulit berkembangnya titik api, bukan untuk memadamkan api di musim kering dimana kemunculan awan-awan potensial sangat sedikit.        

            

Sementara Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (BBTMC) BPPT Jon Arifian menyebut fenomena global yang terjadi saat ini yaitu perubahan iklim yang memicu terjadinya berbagai anomali cuaca seperti peningkatan kemunculan kemudian terjadinya banjir kekeringan berkepanjangan dan fenomena cuaca lainnya melihat ini sebagai suatu tantangan atau sebuah peluang untuk menghasilkan solusi teknologi untuk meminimalkan dampak yang mungkin terjadi.

 

Dengan semangat itulah BPPT melakukan upaya untuk mengoptimalkan pelayanan BBTMC agar operasi ke depan dapat meningkatkan efektifitas nya baik dari sisi teknis pelaksanaan maupun dari hasil akhir, tuturnya.

 

Selain itu, John menambahkan selain efektivitas hasil adalah efisiensi pengelolaan sumberdaya melalui kebijakan kebijakan yang mendasari dilakukannya operasi TMC itu sendiri.  Berbagai upaya dan instrumen penanggulangan bencana yaitu kebijakan yang didasari oleh keakuratan data dan informasi deviden prediction serta analisis data melalui optimasi internet kemudian transformasi digital dan hal terkait lainnya dapat menjadi faktor kunci bagi keberhasilan penurunan risiko bencana.

 

Ia berharap Pusat Inovasi Kecerdasan Artifial yang diinisiai BPPT ini bisa menjadi wadah dalam mengakselerasi pemanfaatan KA di Indonesia, serta memberikan manfaatnya bagi masyarakat luas dan mendukung pertumbuhan ekonomi untuk kesejahteraan bangsa. (Humas BPPT)