8664
Hits

CEGAH PENJIPLAKAN PRODUK DENGAN PATEN

Administrator
29 Dec 2009
Kebijakan Teknologi

Masih banyak produsen UKM yang menganggap paten sebagai cost centre, bukan sebagai asset centre. Akibatnya mereka enggan mengeluarkan biaya untuk mempatenkan produk mereka. Selain itu, banyak pelaku UKM yang belum paham betul mengenai hak paten, antara lain disampaikan Kepala Sub Direktorat Kerjasama Nasional, Direktorat Kerjasama dan Pengembangan, Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Arief Syamsudin dalam paparannya pada acara Focus Group Discussion PI UMKM dengan tema Peningkatan Kemampuan Inkubator Bisnis dalam Perlindungan dan Pemanfaatan Hak Kekayaan Intelektual di Ruang Komisi 1 dan 2 BPPT (23/12).

Arief menambahkan, terutama bagi produsen yang ingin melakukan ekspor, seharusnya produk tersebut terlebih dahulu didaftarkan ke dalam HKI di negara tujuan, karena HKI bersifat teristorial. Itu yang mereka tidak mengerti. Kendala-kendala seperti itulah yang menyebabkan produk UKM umumnya tidak terpatenkan, ungkap Arie.

Pendapat tentang pentingnya paten terhadap produk juga disampaikan oleh Kepala Bagian Hukum dan Hak Kekayaan Intelektual BPPT Ulfiandri dalam presentasinya, Dengan mempatenkan produk, merupakan langkah untuk mendapatkan perlindungan hukum dari bentuk pelanggaran paten. Jika memang terdapat pelanggaran paten, maka langkah pembuktian dan pengungkapan kebenaran dapat mudah dilakukan, jelasnya.

Lebih dari 80% hak paten yang diterbitkan di negara-negara berkembang (third world), dimiliki oleh Multi National Cooperation (MNC), dan hanya kurang dari 10% paten yang benar-benar dilaksanakan oleh perusahaan-perusahaan tersebut, tambahnya.

Menurut Ulfiandri, terdapat beberapa cara yang dapat di lakukan agar pihak-pihak yang berkaitan erat dengan penginvensian, seperti Universitas, Lembaga Litbang, dan pelaku industri, dapat lebih memahami pentingnya pempatenan, antara lain: (1) Melakukan sosialisasi mengenai HKI secara konsisten dan berkesinambungan, (2) Melakukan bimbingan substantif tentang paten agar lebih mudah dimengerti, dan (3) Melakukan mediasi antara inventor dengan pemeriksa.

Pada kesempatan yang sama, Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UMKM, Kementerian Negara Koperasi dan UKM I Wayan Dipta yang juga hadir dalam acara mengatakan bahwa Inkubator, sebagai pihak yang terlibat langsung dengan pelaku usaha, harus lebih selektif dalam memilih jenis usaha. Inkubator jangan hanya terpaku pada project oriented saja. Pilih produk yang dapat memberikan impact besar terhadap pertumbuhan ekonomi, dan mampu menyerap banyak tenaga kerja, ungkap Wayan.

Selain membantu pelaku usaha, Inkubator juga dapat berperan dalam mengkomersialisasikan produk-produk hasil riset dari perguruan tinggi. Jadi Inkubator benar-benar dirasakan manfaatnya oleh semua pihak yang terkait, katanya

Salah satu peserta Inkubator, R Didiek Embriyakto yang turut hadir dalam FGD, berkesempatan memaparkan sekilas tentang Inkubator yang di kelolanya. Cell Biztech Incubator bergerak dalam tiga sektor, pertama pada pengembangan food processing yang menjadikan rumput laut (seaweed) sebagai fokus bidang. Selanjutnya, pengembangan yang kedua adalah pada renewable energy, seperti mengembangkan biofuel. Ketiga, kami fokus kepada clean environment dengan mengusung konsep waste treatment, jelasnya.

Hadir pula dalam acara, perwakilan dari Astra Mitra Ventura (AMV) Ubaydillah. Astra Mitra Ventura merupakan perusahaan venture capital yang memfokuskan pada pengembangan UMKM.  ini hadir sebagai wujud nyata perusahaan dalam memberikan kontribusi yang memberikan manfaat bagi bangsa. Selain itu dengan adanya AMV, melalui pemberian modal terhadap UMKM, diharapkan dapat membantu permasalahan pengangguran dan menciptakan lapangan pekerjaan ungkapnya. (KYRA/humas)





.